Latest Entries »

LAPORAN PERJALANAN GUNHUT Laporan perjalanan mabim gunung hutan merupakan suatu bagian dari pengambilan nomor SAR UNPAD. Maka dari itu harus dibarengi dengan membuat sebuah laporan perjalanannya agar apa yang didapat dari mabim tersebut dapat bermanfaat untuk diri kita,walaupun bentuk laporan yang dibuat ini entah dalam bentuk apayang penting ada. Perjalanan mabim gunhut pada tanggal 15 sampai 20 agustus 2013 bertempatan di rancaupas saya lakukan susulan jadi tidak full semuanya ikut dikarenakan ada hal lain yang harus dilakukan. Dimulai sebelum pemberangkatan pada tanggal 17 malam saya pergi dari bogor dengan penuh perjuangan mulai dari kehujan sebelum sampai terminal bis kemudian ke hujanan terus kedinginan kena ac sampai saatnya sampai di terminal leuwipanjang. Lalu saya ke rumah nenek terlebih dahulu untuk mengambil motor lalu langsung berangkat menuju jatinangor pada waktu malam hari. Sesudah sampai di kontrakan lalu packing barang bawaan itu sekitar satu jam lalu jam 1 malam saya berangkat ke rancaupas dengan motor.ketika memulai perjalan di daerah soekarno hatta ban saya bocor 4 lubang kena paku lalu di tambal. Ketika sudah di tambal lalu perjalanan saya mulai kembali menuju rancaupas tapi karena faktor dingin saya berhentikan di pom bensin sekitaran kopo untuk istirahatdan tidur. Lalu sekitar subuh saya berangkatkan lagi menuju kampung cai rancaupas dan sesampainya disana jam 6 pagi. Kemudian dilanjutkan dengan saya didampingi mang aseng menuju para AM yang sedang melakukan simulasi essar yah tapi sayangnya saya melwati materi navigasi darat. Sesudah sampainya di ketemukannya saya dengan para rescuer yg berjumlahkan 4 orang saya langsung bergabung mencari survivor yang bernama subur yang hilang di daerah gunung klotok disebabkan dia ingin maen ke gunung sendiri karena tidak body sistem itu jaadi dia tersesat. Sesudah itu saya dan para rescuer lainnya mencari subur dengan banyak di ketemukannya jejak berupa bungkus mie, botol, bipak alam peta. Ketika memulai pencarian kita terkadang tersesat yah mungkin kurangnya kita meneliti orientasi medannya makannya tersesat sampai kita mencarinya dengan sistem pencarian open gride samapai naik turun gunung.akhirnya di ketemukannya survivor bernama subur pada sudah 2 hari mencarinya di lembahan gunung lalu kami merescue survivor tersebut. Pada 1 hari sebelum pulang kami mendapatkan materi dan pelatihan jungle survivor saya dan lain membuat bipak alam dan mencari makanan se adanya di hutan rancaupas. Makannay yang diperoleh yaitu udang,gedebok pisang dan pakis haji. Lalu pada mala harinya kami di ajarkan tidur kalong di pohon itu terasa tidak enak sekali tidur kalong terasa sangat menyiksa untuk para lelaki yang tidur kalong di pohon.sesudah keesokan harinya pada sekitar tanggal 20 agustus 2013 mabim kami pun telah sudah dilakukan. Sekian laporan perjalanan gunhut yang saya buat saya yakin kalo laporan ini dibaca yang membacanya tidak akan mengerti dengan tulisan laporan ini boro boro ngerti tulis tangan saya saja orang-orang tidak mengerti tulisannya apalagi membuat tulisan di laptop. Untuk yang tidak mengerti tulisan saya ini saya mohon maaf karena saya bikin laporan terburu buru. Semoga di lain waktu saya bisa menulis lebih baik lagi. Apabila banyak kesalahan dalam penulisan laporan ini emang pasti banyak sih atau mengaganggap laporan ini tidak pantas di sebut sebagai laporan mohon kritik dan sarannya saja terima kasih.

15 Agustus 2013

Pada hari ini, AM XXIII Unit SAR Unpad bersiap untuk melakukan kegiatan AMO gunung hutan di Bumi Perkemahan Rancaupas, Ciwidey, Bandung. AM XXIII yang berangkat untuk mengikuti kegiatan AMO ini berjumlah sembilan orang yaitu saya, Hani, Iqbal, Ega, Ina, Karin, Tika, Dito, dan Danang. Kami pergi menuju Bumi Perkemahan Rancaupas pada malam hari, sebagian menggunakan angkot yang kami sewa dan sisanya menggunakan kendaraan pribadi yaitu motor. Perjalanan menuju Rancaupas bisa dibilang cukup lama. Jadi perjalanan tersebut kebanyakan kami lalui dengan tidur, bagi yang menggunakan angkot saja tentunya.

Ketika kami sampai di lokasi, udaranya sangat dingin! Kami pun segera menurunkan carrier dan barang-barang bawaan lainnya supaya bisa cepat ke warung untuk ngopi-ngopi demi menghangatkan diri sambil menunggu teman-teman kami yang mengendarai motor.

Setelah semua sampai, kami segera mendirikan tenda di tempat perkemahan tersebut dan bergegas tidur.

 

16 Agustus 2013

Para AM XXIII dan kolat yaitu Kang Aziz dan Kang Aseng memulai kegiatan pada pukul 06.00 dengan sedikit binjas yaitu senam survival. Senam survival lumayan melemaskan lengan saya yang sudah lama tidak menggendong beratnya carrier.

Kegiatan hari pertama ini diisi dengan latihan navdar. Saya berada di tim 1 dengan anggota Iqbal, Hani, dan tentunya saya sendiri. Entah kenapa saya merasa sangat sial karena ditunjuk sebagai team leader navdar kelompok 1. Navdar yang harusnya berarti navigasi darat sudah saya bayangkan malah menjadi navigasi modar!

Sebelum melakukan kegiatan navdar, kami membuat basecomm dan sedikit belajar mengenai komunikasi lapangan. Kami juga memasang antena hi-gain agar ht yang kami gunakan bisa lebih luas jangkauannya.

Setelah itu kami mengeplot koordinat awal dan koordinat akhir tujuan kelompok 1. Ternyata koordinat awal yang diberikan oleh para kolat berada di tempat camp kami tadi malam, bukan di basecomm yang didirikan. Sementara itu, koordinat titik tujuan kelompok 1 adalah Gunung Cadaspanjang. Kami memulai perjalanan navdar ini dari tempat camp kami tadi malam. Jalan yang kami pilih tidak banyak memotong sudut kompas, melainkan mengambil jalan setapak panjang, tetapi tidak terjal. Inilah hal yang menjadi penyesalan saya.

Kenapa?

Karena pada akhirnya kelompok kami salah puncakan! It was okay sebenarnya, yang penting kami belajar. Kami malah menuju puncakan 2020 yang merupakan tujuan kelompok 2. Hal ini terjadi karena kami salah belokan jalan menuju punggungan. Sebenarnya kelompok kami sudah mengetahui bahwa kami harusnya belok menuju punggungan yang di depannya dari belokan yang kami ambil. Tetapi kami baru menyadarinya ketika Kang Ardi, kolat pendamping kelompok 1, sedikit memberi pencerahan mengenai dimana kami berada. Akhirnya kami memutuskan tetap menyusuri punggungan yang salah tersebut untuk sampai ke puncakan 2020 karena waktu juga tidak memungkinkan untuk berputar balik dan menuju ke Gunung Cadaspanjang. Yah at least walaupun salah, kami bisa sampai di puncakan dan melihat keindahan alam sekitar dari puncakan. Sedikit menghibur diri, ya?

Pelajaran yang saya ambil dari latihan navdar hari ini adalah: Namanya juga belajar navigasi, maka jangan hanya mengikuti jalur aman / jalan setapak! Beranilah untuk memotong sudut kompas. Inilah hal yang saya katakan menjadi penyesalan diatas.

 

17 Agustus 2013

Setelah selesai dengan latihan navdar, pada hari ke-2 ini kami melakukan kegiatan ESAR. Tim saya bernama tim PPS (Para Pencari Survivor / Pulang Pasti Selamat)  yang beranggotakan Iqbal sebagai team leader, Ega dan Hani sebagai navigator, dan saya sendiri sebagai notulen. Survivor yang akan kami cari bernama Subur Alexander.

Beberapa informasi yang diberikan mengenai Subur adalah:

-          Subur adalah seorang anggota PA Rempakem di Bandung;

-          Subur hilang saat sedang melakukan latihan navdar seorang diri. Tujuan navdarnya adalah Gunung Cadaspanjang dan Gunung Kolotok;

-          Tinggi Subur sekitar 170an cm, dengan berat badan 60an kg;

-          Kulit Subur berwarna sawo matang;

-          Barang yang dibawa Subur: 1 buah daypack, 3─4 bungkus mie instan, 1 bungkus rokok Dunhill Mild, air mineral 1.5 L, 1 buah headlamp, dan 1 buah peta.

Setelah melakukan pembagian tugas dengan kelompok lain, tim PPS pun mendapat tugas untuk menyisir Gunung Kolotok. Tim PPS pun langsung memulai latihan operasi pencarian Subur Alexander pada pukul 10.28 dengan memasang marker di tempat start. Tipe pencarian kami masih menggunakan tipe 1. And the jorney finally began!

Tim PPS mulai menyebrangi punggungan lalu melewati rawa. Baru 11 menit kami berjalan, kami menemukan sumber air dekat persawahan. Setelah diteliti, ternyata itu merupakan jalur irigasi persawahan. Lalu kami menentukan posisi kami / irigasi tersebut dengan menembak Gunung Tikukur di sebelah timur dan didapatkanlah posisi kami di 764000.21180. Lalu kami berusaha memanggil basecomm untuk melaporkan titik koordinat kami berada, tetapi tidak ada jawaban. Mungkin karena posisi kami yang terhalang punggungan. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan kami menyusuri persawahan.

Pada pukul 11.36, tim kami kembali menemukan sumber air. Kali ini benar-benar merupakan sumber air asli. Kami juga menemukan sumber perapian di dekat sumber air. Karena dirasa bisa jadi itu adalah jejak survivor, kami pun memasang marker kedua. Kami berusaha menentukan koordinat kami, tetapi tidak bisa karena titik ekstrem tidak ada yang terlihat karena terhalang vegetasi yang tinggi-tinggi. Kami pun beristirahat sejenak sambil minum-minum dan menentukan jalan selanjutnya kemanakah kami pergi?

Pukul 12.00, tim PPS melanjutkan perjalanan. 7 menit kemudian, kami kembali menemukan sesuatu yang dikira jejak survivor yaitu sebuah bivak alam beratapkan plastik, lalu kami memasang marker ketiga kami di bivak tersebut.

Lalu pukul 12.29 kami melapor ke basecomm koordinat posisi kami saat itu yang sedang berada di lembahan yaitu di 764150.211740. Setelah melanjutkan perjalanan, kami kembali menemukan sesuatu yaitu: bekas perapian, sebuat tutup botol air mineral dengan merk VIT, dan 1 buah baterai AA bekas dengan merk Eveready. Kami mengira bahwa baterai tersebut merupakan baterai bekas headlamp survivor. Akhirnya kami kembali memasang marker keempat di bekas perapian tersebut. Kami juga membawa tutup botol dan baterai yang kami temukan.

Setelah kembali melanjutkan perjalanan, kami menemukan sumber air lagi dan akhirnya kami memutuskan untuk istirahat makan siang di dekat sumber air tersebut pada pukul 13.00.

Setelah 1 jam beristirahat, tim pun melanjutkan perjalanan pada pukul 14.10. Kami berjalan menuju punggungan. Pukul 14.34 kami melaporkan posisi kami berada di koordinat 763950.212000.  Setelah itu, perjalanan kami pun mulai seru karena tiba-tiba turun hujan. Kami menyusuri jalan setapak untuk mencapai puncakan, tetapi tiba-tiba kami mulai kebingungan karena dirasa puncak yang ingin kami capai yaitu Gunung Kolotok terlewat karena kami asyik mengikuti jalan setapak dikarenakan hujan juga. Akhirnya kami beberapa kali bolak-balik jalan, sampai akhirnya diputuskan kami tidak mengikuti jalan setapak lagi dan memotong sudut kompas. Jalan yang kami lewati mulai curam dan kami harus menebas-nebas jalan di tengah hujan. Di pikiran kami saat itu adalah “Yang penting kita sampe di puncak dulu, ngeri nih ujan longsor!!”. Akhirnya pukul 17.50 kami sampai di puncak dan segera melakukan orientasi medan untuk melapor ke basecomm.

Tetapi ternyata puncakan yang kami capai hari itu sepertinya salah…

Bagus…

2 puncakan salah dalam 2 hari berturut-turut…

Hmm…

Tapi kami sebenarnya belum yakin kalau kami salah puncakan. Ega yakin kami salah puncakan, tetapi ketua kami Iqbal masih yakin kalau kami berada di puncakan yang benar. Sedikit memberi harapan sih.

Kami pun mendirikan camp di puncakan antah-berantah tersebut karena hari sudah mulai gelap juga. Ketika melepas raincoat, saya baru menyadari bahwa saya diserang pacet-pacet! Ini pertama kalinya dalam hidup saya melihat pacet dan malah ditempelin pacetnya juga. Sedikit excited melihat pacet di awal, tetapi lama-lama nempel terus bikin sebal juga.

 

18 Agustus 2013

Tim kami bangun pagi sekali yaitu pukul 06.15 untuk orientasi medan kembali karena kami masih belum yakin, kami sedang berada di puncakan mana sih? Setelah melakukan orientasi medan cukup lama, ternyata kami memang salah puncakan. Akhirnya tim kami malah direscue oleh Kang Bayu dan Kang Aziz.

Pukul 10.07 kami pun memulai pergerakan ESAR dari puncakan salah tersebut dengan tipe 3 yaitu close grid, sudut pergerakan 205˚. Kami memasang marker end untuk tipe pencarian 1 dan marker start untuk tipe pencarian 3.

Pukul 10.17, sudut pergerakan kami diganti menjadi 220˚, lalu kami memasang marker perubahan sudut pergerakan.

Jalan yang kami lalui benar-benar menantang! Rasanya yang kami injak bukanlah tanah melainkan hanya batang-batang pohon. Kami jatuh-bangun-terperosok-terpeleset-jungkirbalik menuju ke lembahan yang terjal. Sampai akhirnya tiba-tiba Hani berteriak kencang seperti naik perosotan. Ternyata dia terperosok jauh sekali sampai ke lembahan. Akhirnya kami ikutan perosotan juga sampai ke lembahan.

Lembahannya benar-benar kanan-kiri gak oke alias kanan-kiri terjal. Menurut sudut kompas, kami harusnya masih menyusuri mata air di lembahan, tetapi tiba-tiba hujan turun lagi dan agak deras. Lalu muncul kembali pikiran “Yang penting kita sampe di puncak dulu, ngeri nih ujan longsor!!”. Kami pun naik menuju punggungan di depan kami. Tipe pencarian diganti dengan tipe 1. Perjalanan benar-benar menegangkan karena sangat terjal dan licin. Kami sampai harus menggunakan webbing untuk naik. Tiba-tiba saya jadi ingat masa-masa ESAR saat diklat dulu seperti ini juga. Lalu sang team leader kami berkata, “Ini ESAR gak malah nimbulin korban ya? Hahaha”. Lucu juga.

Pukul 14.45 akhirnya kami menemukan titik terang. Rupanya kami sudah mau sampai di puncakan. Kami pun istirahat makan di tempat yang memang datar dan lapang. Posisi kami saat itu adalah di 763423.212073.

Lalu datanglah Kang Aseng dan Kang Aziz Amin, memberitahu bahwa kami akan bergabung dengan tim yang 1 lagi yaitu tim Kontribusyi yang beranggotakan Danang, Dito, Tika, Karin dan Ina. Pukul 17.00 kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncakan untuk merapat ke tim Kontribusyi.

Pukul 17.20 kami menemukan bivak alam dan kami pasang marker. Lalu 5 menit perjalanan kemudian, kami menemukan bungkus mie instant yang dikira merupakan bungkus mie bekas si survivor. Kami pun kembali memasang marker.

Tidak berapa lama kemudian, kami  akhirnya bertemu dengan tim Kontribusyi. Ternyata Dito direscue pulang karena demam dan Gani datang bersama tim Kontribusyi. Kami pun mendirikan camp, makan malam, dan beristirahat.

 

19 Agustus 2013

Pukul 08.35, tim PPS dan Kontribusyi memulai pergerakan tipe 3 dengan sudut pergerakan 165˚. Pergerakan kami hari ini diketuai oleh Gani. Lalu kami berhenti di koordinat 763350.211940 dan diinstruksikan oleh basecomm untuk berhenti jangan melanjutkan perjalanan dahulu. Cukup lama kami berhenti. Sepertinya survivor masih sarapan dan belum menuju ke TKP dia harusnya ditemukan.

Pukul 09.43, basecomm memanggil untuk menginstruksikan kami mengganti sudut pergerakan menjadi 205˚. Lalu tiba-tiba kami kembali diinstruksikan untuk jangan melanjutkan perjalanan dahulu. Sepertinya para kolat sedang galau.

Pukul 10.53, akhirnya kami diinstruksikan untuk jalan dengan sudut pergerakan kembali ke 165˚. Tuhkan, kolat sedang galau.

Pukul 12.00, tim menemukan tempat istirahat dan makan siang. Sayangnya persediaan air kami sangat minim, sehingga kami tidak mungkin memasak. Jadi kami hanya makan roti.

Selesai istirahat, pukul 12.46 tiba-tiba kami mendengar suara orang berteriak “Toloooong!”. Kami langsung menuruni punggungan dan berganti ke tipe pencarian 1 karena kami yakin itu adalah suara survivor!

Ternyata benar, pukul 12.50 kami menemukan Subur Alexander. Kami langsung membagi tugas. Ada yang mengajak Subur mengobrol, masak air untuk Subur, dan membuat tandu untuk Subur. Saya sendiri dan Hani memasak air untuk Subur, lalu setelah itu kami mengajak Subur mengobrol dan juga membuatkan bidai pada kaki kirinya karena Subur mengalami patah kaki kiri.

Pukul 14.00 akhirnya Subur dievakuasi.

Dan akhirnya AMO gunhut kami ini berakhir.

Kami dengan semangat berjalan pulang, tetapi tiba-tiba kami disuruh Kang Bayu dan Kang Aseng untuk berhenti di dekat sungai.

Ternyata…………AMO gunhut belum selesai!

Kami harus melewati jungle survival. Para kolat menyita makanan, matras, dan beberapa peralatan kami. Lalu kami disuruh untuk membuat bivak alam dan perapian individu.

Ketika makanan-makanan kami disita, saya mengambil 1 sachet minuman jasjus dari persediaan makanan saya. Lalu Tika menyuruh saya untuk mengambil lagi. Dengan sangat nurutnya saya ambil lagi jasjus yang banyak. Akhirnya saat survival malamnya, kami segar-segaran dengan jasjus. Lalu Kang Bayu dengan insting yang sangat tingginya mengecek carrier Tika dan menemukan jasjus disana. Duh malu deh. Untung kami sudah minum 2 sachet jasjusnya, tidak sia-sia juga :(

Jungle survival nya asyik karena akhirnya saya tau bagaimana cara menangkap udang sungai dan juga mencoba tidur kalong pada malam harinya. Walaupun hanya selama 15 menit.

 

20 Agustus 2013

Hari terakhir ini hanya diisi materi-materi mengenai jungle survival dan selebihnya yang saya ingat hanyalah kembali pulang ke Jatinangor.

 

….Akhirnya AMO gunhut benar-benar selesai!

CATATAN PERJALANAN

MABIM GUNUNG HUTAN UNIT SAR UNPAD ANGKATAN XXIII

EGA PRATAMA

Hari pertama, 15 Agustus 2013

Setelah melengkapi perbekalan logistik pribadi dan tim, dan memastikan packing dengan tepat kami memulai keberangkatan dari sekre Unit SAR Unpad sekitar pukul 22.00 WIB. Perjalanan menuju area Ranca Upas ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dengan memakan waktu sekitar dua jam. Setelah sampai di kawasan Ranca Upas, kami memutuskan bermalam di tanah lapang dekat komplek warung.

Hari Kedua, 16 Agustus 2013

Pukul 06.00 WIB kami sudah harus bangun, untuk melakukan aktivitas bina jasmani. Setelah sarapan dan packing kami melanjutkan perjalanan menuju tempat basecamp yg diputuskan berada di  lembahan selatan Gunung puncakan 2020.

Mabim gunung hutan dimulai dengan pemberian materi dari kang Ardi mereview materi navigasi dan komunikasi lapangan. Setelah dibagi menjadi tiga tim juga diberi tugas menuju puncakan yang berbeda, saya bersama Tika dan Danang di dampingi Kang Adit harus menuju puncakan 2020. Kami memulai bernavigasi dan orientasi medan untuk menentukan titik lokasi kami berada, setelah mengetahui posisi, kami memutuskan untuk menggunakan jalur punggungan puncakan 2020 yang ada di sebelah timur posisi kami. Selama perjalanan kami selalu mengecek posisi dengan acuan titik ekstrim Gunung Cadaspanjang dan Gunung rakutak yang berada di sebelah barat dan timur puncakan 2020. Sekitar pukul 16.30 WIB kami sampai ke tujuan puncakan 2020, setelah mendirikan flysheet dan makan siang, tak lama hadir tim Iqbal, Carmel, dan Hani yang seharusnya menuju puncak Gunung Cadaspanjang.

Setelah evaluasi tim, kami turun menuju basecamp, dan sampai sebelum gelap. Kami melanjutkan dengan kegiatan MCK, dan sekitar pukul 20.00 WIB melakukan evaluasi keseluruhan.

Malam itu juga kami briefing untuk simulasi ESAR keesokan harinya dengan mendapat laporan orang hilang yang bernama Subur Alexander beserta ciri khusus dan barang yang dia bawa ketika melakukan latihan navigasi di sekitar Gunung Kolotok dan Gunung Cadaspanjang.

Hari Ketiga, 17 Agustus 2013

ESAR hari pertama, dilakukan oleh dua tim, yaitu tim PPS yang diketuai Iqbal Aulia, Carnelita, Hani dan Saya sendiri, dan tim Kontribusyi yang diketuai oleh Danang, Dito, Karin, dan Tika.

Tim PPS ditugaskan untuk menyisir rute jalan menuju puncak Gunung Kolotok. Pukul 10.28 WIB kami memulai pergerakan dengan berorientasi medan untuk menentukan posisi awal. Basecom pada peta. Setelah diplot kami memutuskan perjalanan menyusuri garis kontur menuju puncak kolotok.

Pada pukul 11.36 WIB kami menemukan sumber air, kami menemukan bekas perapian, baterai, dan tutup botol, kemungkinan milik survivor. Kami memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan pada pukul 12.00 WIB.

Pukul 12.07 WIB kami memasang marker karena menemukan jejak survivor berupa rangka bivak. Melanjutkan perjalan ke suatu lembahan cukup terbuka, dan kami melakukan penentuan posisi kembali. Pada pukul 12.51 WIB kami menemukan sumber air dan memtuskan untuk beristirahat makan siang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan mendaki ke lembahan gunung kolotok, karena hujan turun pada pukul 14.30 WIB kami memutuskan untuk mengikuti jalan setapak. Dan ketika waktu sudah menunjukan pukul 16.00 WIB kami menghentikan pergerakan, tetapi atas persetujuan tim kami memutuskan untuk mendaki saddle menuju puncakan karena kami piker akan lebih aman jika berada pada puncakan dalam kondisi hari mulai gelap dan hujan.

Pada pukul 17.45 WIB kami sampai dipuncakan, tetapi kami sulit menentukan posisi karena hari mulai gelap dan sulit untuk orientasi medan, kami putuskan untuk bermalam disana dan melapor kepada basecom pukul 20.00 WIB.

Hari Keempat, 18 Agustus 2013

Pukul 06.15 WIB kami memulai aktivitas dengan sarapan dan packing lalu berorientasi medan dan menyimpulkan bahwa kami salah puncakan, yaitu berada di barat laut gunung kolotok. Pada pukul 09.00 WIB kami dijemput oleh kolat Ajis dan Bayu dan diberi sudut 205 derajat potong kompas, dengan menggunakan pencarian tipe 3.

Setelah 15menit pergerakan kami merubah sudut kompas menjadi 220 derajat yang diintruksikan oleh kolat Bayu. Setelah menyusuri puncakan yang sangat curam, pada pukul 14.45 WIB kami memutuskan untuk mengubah tipe pencarian untuk menyusuri jalan setapak karena hari mulai hujan. Ternyata kami sampai di suatu saddle dan ,memutuskan untuk beristirahat. Setelah orientasi medan ternyata kita berada di utara puncakan 2020, melenceng tipis dari tujuan, dan ditempat tujuan sudah ada tim kontribusyi menunggu.

Pada pukul 17.45 kami sampai di lokasi tim kontribusyi atas saran dari SMC kang Aseng. Kami membuat shelter dan menemukan jejak “SUBUR” dan melapor basecom pada pukul 20.00 WIB.

Hari Kelima, 19 Agustus 2013

Pukul 08.00 WIB kami memulai pergerakan menggunakan tipe 3 karena ada informasi survivor ditemukan. Baru saja melakukan pergerakan ada intruksi dari basecom untuk menghentikan pergerakan sampai pukul 10.53 WIB karena ada hal yang dapat membahayakan kedua tim. Setelah melanjutkan perjalanan kami memutuskan beristirahat pada pukul 12.00 WIB, tidak lama mendengar suara survivor. Setelah dicari sumber suara kami menemukan survivor pada pukul 12.50 WIB dan mengevakuasinya.

Pada pukul 15.00 WIB kami berhasil mengevakuasi survivor dan menuju tempat materi jungle survival. Kami memulai materi dengan membuat bivak alam dan mencari makanan dari tanaman sekitar dan udang di sungai.

Malam harinya kami mendapat materi tidur kalong untuk berjaga dari bahaya binatang buas, tetapi malam itu tidur dilanjutkan di bivak alam masing-masing.

Keesokan harinya kami bangun sekitar pukul 08.00 WIB dan melanjutkan materi botani praktis. Sampai siang hari dan mabim gunung hutan resmi ditutup. Kami kembali ke kompleks warung Ranca Upas dan menunggu jemputan transport untuk kembali ke Jatinangor sekitar pukul 19.00 WIB.

LAPORAN PERJALANAN MEDAN OPERASI GUNUNG HUTAN

 

16 Agustus 2013
NAVIGASI DARAT

Pada materi navigasi darat kami diberikan titik koordinat awal keberadaan kami dan titik koordinat akhir, kami diistruksikan untuk mencari dan menuju titik koordinat akhir yang diberikan dengan menggunakan orientasi medan serta resection. Tim kami beranggotakan saya hanifah ainul azkia, carmelita sebagai ketua tim dan muhammad iqbal aulia.

Pergerakan kami mulai dengan sebelumnya makan terlebih dahulu dan mengemas barang-barang kami. Sebelum berangkat kami juga memplot titik awal dan titik akhir koordinat di peta sehingga kami dapat orientasi medan selama diperjalanan dan disesuaikan dengan peta. Pada saat pergerakan kami terus mengikuti arah barat karena dimulai dari titik koordinat awal ke titik koordinat akhir berarah ke barat, namun kami masih mengikuti jalan setapak. Selama perjalanan kami selalu melakukan orientasi medan, namun kami memiliki kesulitan untuk menentukan puncakan yang disebenarnya dan di peta, karena banyaknya puncakan di sekitar kami dan sulit menentukan karakteristik dari puncakan tersebut.

Dikarenakan kesulitan kami dalam melakukan orientasi medan maka setelah kami menaiki punggungan kami menyadari puncakan yang kami naiki salah sehingga tidak mencapai ke titik koordinat akhir kami yaitu puncak 2020.

 

ESAR (Explore Search and Rescue)

Survivor:              Subur Alexander

Lokasi Hilang:     dari puncakan cadas panjang sampai puncakan kolotok

 

17 Agustus 2013

Hari pertama pencarian survivor dimulai dengan 2 SRU (Search Rescue Unit) yaitu tim PPS (Para Pencari Subur dan Pulang Pasti Selamat) dengan ketua tim Muhammad Iqbal Aulia dan tim 2 Kontribusyi dengan ketua tim Danang Nuyu Ahimsa. Sebelum memulai pencarian kami mengisi energi dengan sarapan, lalu bersiap2 mengemas barang, serta yang paling penting untuk mencapai tujuan kami yaitu lokasi kemungkinan ditemukannya survivor kami menentukan jalan yang akan kami lalui dengan melihat peta yang kami miliki, karena saya adalah anggota tim PPS bersama 3 orang lagi yaitu carmelita sebagai notulen, ega pratama sebagai navigator dan muhammad iqbal aulia sebagai ketua serta saya sebagai ribbon man, kami memiliki tujuannya kepuncakan kolotok maka kami putuskan untuk jalan ke arah utara dengan melewati rawa dan persawahan serta mengikuti punggungan sampai ke puncakan Kolotok. Setelah kami sepakat dengan rute yang akan kami lewati kami berdoa dan persiapan pergerakan.

Pada pukul 10.28 kami memulai pergerakan sesuai dengan rute yang telah kami tentukan dan tidak lupa sebelumnya kami memasang markerpertama di basecomm, sebagai penanda kami memulai pergerakan ditempat itu. Tipe pencarian yang kami gunakan yaitu hestic karena belum ada tanda-tanda survivor yang kami temukan dan masih mengikuti jalan setapak. Rute pertama yang kami lewati adalah melewati rawa dan persawahan. Sesampainya kami di persawahan yaitu pada pukul 10.39 kami berhenti untuk melakukan resection agar kami dapat mengetahui titik koordinat kami dan dapat melaporkan ke basecomm, didekat persawahan tersebut kami juga menemukan sumber air berupa irigasi persawahan. Setelah melakukan resection titik koordinat yang kami dapat adalah 764000.211800 dan melaporkan pada basecomm namun saat kami memanggil basecomm tidak ada jawaban dari basecomm setelah beberapa kali pengulangan dan berpindah tempat. Maka kami mengira daerah tersebut adalah blank spot yang kemungkinan karena tertutup punggungan disekitarnya. Lalu kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak disamping persawahan.

Setelah berjalan melewati jalan setapak kami kembali menemukan sumber air yaitu pada pukul 11.36, kami juga menemukan bekas perapian yang kemungkinan merupakan dari survivor serta menemukan tutup botol air mineral dan baterai yang kemungkinan dari headlamp yang dibawa survivor. Maka disana kami memasang marker karena mendapat jejak yang kemungkinan dari survivor. Sebelum melanjutkan perjalanan kami menentukan titik koordinat kami agar bisa dilaporkan ke basecomm namun karena terhalang vegetasi kami kesulitan melakukan resection. Maka kami hanya beristirahat minum dan mengambil air disumber air. Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan pada pukul 12.00 dengan membawa jejak survivor yaitu tutup botol air mineral dan baterai.

Pada pukul 12.07 kami kembali memasang marker karena kami menemukan kemungkinan jejak dari survivor berupa bivak beratapkan plastik, setelah memasang marker kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri punggungan dan masih melewati jalan setapak. Sesampainya kami dijalan setapak yang masih berada di lembahan kami melakukan resection karena kami sudah dapat menentukan titik ekstrim berupa dua puncakan, setelah resection kami mendapatkan titik koordinat kami yaitu 764150.211740 dan melapor ke basecomm.

Pada pukul 12.36 kami kembali menemukan perapian yang kemungkinan bekas survivor serta beberapa jejak lainnya yaitu tutup botol mineral serta baterai yang kemungkinan bekas headlamp yang dibawa oleh survivor, kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan membawa jejak survivor yaitu tutup botol air mineral dan baterai. Pada pukul 12.51 kami kembali menemukan sumber air dan melaporkan ke basecomm. Setelah mengisi persediaan air pada pukul 13.00 kami memutuskan untuk beristirahat makan karena berada dekat dengan sumber air. Sehabis beristirahat dan berkemas-kemas tim PPS melanjutkan perjalanan pada pukul 14.10 dengan menyusuri punggungan dan tetap melewati jalan setapak. Pada pukul 14.34 kami melakukan resection karenavegetasi sudah agak terbuka dan kami mudah melihat titik ekstrim. Maka kami mendapatkan titik koordinat kami yaitu 763950.212000 dan melaporkan ke basecomm.

Pada saat perjalanan hujan turun dengan deras maka kami berhenti untuk memakai jas hujan agar terlindung dari baju basah yang dapat menyebabkan hipotermia. Setelah perjalanan selama kurang lebih 3 jam kami memutuskan untuk merubah guide kami yaitu dari jalan setapak menjadi mengikuti punggungan dengan cara membuka jalan karena hari yang sudah mulai gelap dan keadaan hujan deras kami masih belum mencapai puncakan. Kami tidak dapat memasang marker perubahan guide karena keadaan yang tidak memungkinkan yaitu hujan deras.

Pada pukul 17.45 kami sampai di puncakan dan segera melakukan resection karena hari sudah hampir gelap dan akan sulit melakukan resection, kami menentukan dipuncakan mana kami berada apakah benar dipuncakan yang kami tuju yaitu puncak kolotok atau bukan. Dengan  terus berkomunikasi dengan basecomm kami melaporkan bagaimana rupa dari puncakan yang kami datangi dan masih belum dapat menentukan apakah kami benar berada dipuncak kolotok atau bukan karena hari yang sudah gelap. Maka kami memutuskan untuk beristirahat dipuncakan yang kami belum tau namanya dengan membangun shelter dan memasak makanan serta membuat api. Setelah kami selesai maka kami tidur, mengisi energi untuk pergerakan esok hari.

 

Hari Kedua 18 Agustus 2013

Hari ini adalah hari ketiga survivor telah hilang, maka kami bangun sepagi mungkin agar waktu yang kami punya untuk mencari survivor lebih banyak karena survivor telah lama hilang. Maka kami pada pukul 06.15 kembali bersiap-siap dengan memasak makanan membereskan shelter dan barang-barang kami. Dan karena kemarin kami belum dapat menentukan dipuncakan mana kami berada maka kami kembali melakukan orientasi medan dan terus berkomunikasi dengan basecomm. Setelah kami yakin dengan orientasi medan kami, ternyata kami tidak berada dipuncakan yang kami tuju yaitu puncakan kolotok. Maka kami kembali melakukan pergerakan pada pukul 10.07 dengan cara memotong kompas dengan sudut 205 derajat menuju ke puncak kolotok, kami menggunakan tipe 3 yaitu close grid karena kami sudah tidak memakai guide berupa jalan setapak dan menggunakan cara membuka jalur. Maka kami memasang marker untuk memulai pergerakan, memberitahu barang apa saja yang kami tinggalkan dan tipe apa yang kami pakai. Kami memasang 2 marker yaitu end dan started untuk memberitahu perubahan tipe yang kami gunakan yaitu dari tipe 1 hestic menjadi tipe 3 close grid.

Setelah perjalanan selama 10 menit kami berhenti untuk memasang marker karena perubahan sudut yang kami tuju yaitu dari 205 derajat menjadi 220 derajat kearah puncak kolotok. Medan yang kami lewati lumayan ekstrim karena yang kami pijak selama berjalan bukanlah tanah namun tanaman berupa akar-akar menjalar dari pohon-pohon besar, karena itu kaki kami sering sekali jeblos kedalam akar tanaman itu, sehingga mengganggu dan memperlambat pergerakan kami dikarenakan tanaman yang rapat juga. Kami menuruni lembahan searah dengan 220 derajat tersebut, karena kami membuka jalan maka kami tidak tau medan seperti apa yang kami lewati didepan dan ternyata setelah vegetasi tidak terlalu rapat lembahan yang kami lewati sangat curam sehingga kami tidak dapat lagi berdiri dengan tegak melainkan hanya merosot sampai bawah dan bahkan dapat merosot dengan sangat jauh dan curam. Kami telah sampai di ujung lembahan yaitu berupa aliran air yang makin mengarah kelembahan.

Pada saat kami menyusuri lembahan yang berupa aliran air hujan turun deras maka dengan alasan keamanan kami putuskan untuk kembali naik ke punggungan pada pukulo 12.30 dan terus menyusuri punggungan sampai tiba dipuncakan. Lalu setelah kami menemukan jalan setapak kamu rubah guide pergerakan kami menjadi mengikuti jalan setapak karena banyak ribbon yang kami temui maka kami yakin berada dijalur yang benar. Pada pukul 14.45 setelah hujan sedikit reda kami putuskan untuk istirahat makan dan kami melakukan orientasi medan dan resection untuk menentukan koordinat kami. Koordinat tempat kami istirahat adalah 763423.212073 dan kami laporkan ke basecomm. Selama kami beristirahat makan kami mendengar suara dari kejauhan yang merupakan suara dari tim Kontribusyi yang ternyata berada dekat dengan kami namun mereka telah berada dipuncakan sedangkan kami belum. Maka setelah makan dan berkemas kami bergegas menuju asal suara tim Kontribusyi yaitu dengan menyusuri punggungan pada pukul 17.00. pada pukul 17.20 kami berhenti untuk memasang marker karena kami menemukan jejak yang kemungkinan berasal dari survivor yaitu rangka bivak. Dan setelah jalan 5 menit yaitu pada pukul 17.25 kami menemukan jejak lain yaitu bungkus mie, Cuma kami tidak yakin itu merupakan bekas survivor karena telah kadaluwarsa namu kami tetap membawa bungkus mie tersebut dan kembali memasang marker.

Pada pukul 17.40 kami bertemu dengan tim Kontribusyi di puncakan, maka kami berhenti di puncakan tersebut dan kembali membangun shelter serta beristirahat makan bersama dengan tim kontribusyi, pada saat diperjalanan dan disekitar shelter anggota tim PPS maupun Kontribusy banyak yang terserang pacet namun tidak terlalu menggangu. Setelah kami siap membangun shelter dan makan kami berganti baju kering agar tidak kedinginan dan beristirahat sebentar disekitar api sebelum tidur dan pada pukul 22.30 kami dari tim PPS tidur di shelter tim kami.

 

Hari Ketiga 19 Agustus 2013

Kami bangun dan bersiap-siap mengemas barang serta makan pada pukul 6 pagi, kami memasang marker sebagai penanda kami pernah berada disana dan meninggalkan jejak berupa rangka shelter, dan untuk memberitahu tipe apa yang kami pakai untuk mencari survivor. Pada hari ketiga ini kami mendapatkan informasi dari basecomm bahwa area posisi survivor ditemukan setelah mendapat beberapa informasi tambahan dari teman-teman survivor, maka survivor menginstruksikan agar kedua tim bersatu dan bergerak memotong kompas searah 165 derajat menuju posisi survivor pada pukul 08.35. lalu kami berhenti pada pukul 09.25 karena kami ingin melakukan orientasi medan menentukan titik koordinat kami  agar dapat dilaporkan ke basecomm. Titik koordinat tempat kami berada adalah 763350.211940 dan kami laporkan ke basecomm.

Pada pukul 09.43 basecomm memanggil dan merubah sudut pergerakan kami menjadi 205 derajat maka kami berhenti untuk memasang marker perubahan sudut pencarian. Selama perjalan kami juga selalu memasang ribbon sebagai penanda jalur yang kami lewati.  Kami beristirahat pada pukul 09.43 dan menunggu instruksi dari basecomm selanjutnya. Dan pada pukul 10.53 basecomm memberikan instruksi untuk mulai pergerakan dengan sudut yang telah diberikan. Medan yang kami lewati dengan cara membuka jalur adalah lembahan yang tidak terlalu curam dan vegetasi lumayan banyak sehingga kami perlu banyak menebas, medan yang kami lewati tidak terlalu sulit seperti yang tim PPS lewati kemarin. Setelah berjalan sampai pukul 12.00 kami putuskan untuk beristirahat sebentar dengan alasan kami kekurangan air sehingga tidak dapat memasak nasi dan belum menemukan sumber air lagi. Selama kami istirahat kami terus memanggil nama survivor dan samar-samar kami mendengar suara minta tolong dari arah barat daya dan menuju lembahan. Maka kami bergegas untuk berkemas dan langsung menuju asal suara yang kemungkinan besar dari survivor dengan terus memanggil nama survivor.

Pada pukul 12.50 kami menemukan survivor dalam keadaan patah tulang pada kaki kanan dari lutut sampai kaki serta mengalami kedinginan. Maka kami dengan cepat membagi tugas yaitu ada yang membuat tandu untuk mengevakuasi survivor, mencari kayu untuk membidai kaki survivor, beberapa ada yang memasak minuman untuk survivor agar dinginnya hilang, dan yang lain menemani survivor agar kesadarannya tetap terjaga, sangat penting menjaga kesadaran survivor agar survivor tetap hidup karena hipotermia dapat menyebabkan kematian pada saat penderita tertidur. Pada saat ditemani korban kami beri makanan dan minuman agar dinginnya dapat hilang. Setelah kami menemukan kayu untuk membidai kami dengan hati-hati membidai survivor agar patah tulangnya tidak bertambah parah. selesai membidai kami segera mengevakuasi korban ke tempat yang aman menuruni lembahan dan mengikuti jalan setapak sampai tiba ke tempat yang aman.

Pada pukul 15.00 kedua tim telah berhasil mengevakuasi korban menuju tempat yang aman dan kembali ke basecomm.

 

19-20  Agustus 2013

JUNGLE SURVIVAL

Jungle survival merupakan tahapan terakir yang harus kami lalui kalau kami ingin pulang walaupun dari hari pertama navigasi darat pun kami sudah mau pulang namun semangat berlatih dan jiwa kemanusiaan yang mendorong kami untuk meneruskan pencarian subur serta menyelesaikan aplikasi medan operasi gunung hutan. Pada awalnya selesai kami menemukan dan mengevakuasi subur kami kira hari itu akan selesai namun masih ada satu tahapan lagi yang paling berat menurut kami karena harus menahan lapar, dingin, lemas serta pikiran yang terus melayang ingin makan de chick, nasi goreng favorite, dan checo. Namun semua itu saya lewati dengan tetap tersenyum dan bersemangat karena setiap saya melihat saudara-saudara saya AM SAR XXIII mereka selalu bisa membuat saya tertawa dengan kebodohan-kebodohan yang pastinya orang normal tidak pernah lakukan.

Kembali ke jungle survival pada hari pertama kami membuat tempat perlindungan dari hujan panas dll yaitu berupa bivak yang sebenarnya gak layak juga disebut bivak, karena saudara-saudara saya lebih senang menyebutnya kandang B4B1. Namun pada akhirnya saya tetap tidur dengan nyenyak walaupun tempat tinggal tidak layak ditiduri. Karena sebelumnya kami diajarkan untuk tidur diatas pohon dan cukup menguras energi dan sedikit membahayakan khususnya pada pria. Setelah kami turun banyak keluhan berupa kaki kesemutan, badan tidak kerasa atau mati rasa dan khususnya pria yang tidak usah disebutkan keluhannya.

Pada hari kedua kami terus berusaha mengisi perut kami dengan makan apapun yang kami temui dengan dibubuhi sedikit gula ataupun garam sudah sangat nikmat bagi kami. Hutan yang awalnya rindang setibanya kami disana langsung berubah  cerah karena kami dapat memanfaatkan alam dengan sangat maksimal. Jantung pisang, daun pisan, pakis, udang kami makan dan bahkan kecebong raksasa yang kami temui sudah hampir jadi menu kami juga, namun setelah kami liat kondisinya yang jika kita buat untuk mengisi perut akan berefek samping yaitu muntah akhirnya kami buang. Begitulah yang kami lakukan selama jungle survival, nyari makan, bercanda, masak bercanda, tidur, bercanda, ya tidak ada saat yang kami lalui tanpa bercandaan mau bagaimanapun kondisi kami. Dan itulah kami AM SAR XXIII. Jungle survival diakhiri dengan berbuka puasa yaitu makan bersama yang makanannya dimasak oleh senior-senior kami yang baik hati. Terimakasih kakak. Dan begitulah akhir dari perjalanan para pejuang kemanusiaan di gunung hutan melewati berbagai pengalaman dan berubah menjadi kenangan.

 

THE END

LAPORAN MABIM GUNUNG HUTAN 2013

image1
Penulis : Anindito Bayhaqie SAR.AM.XXIII.017
15 Agustus 2013
Selepas waktu isya kami para anggota muda SAR UNPAD mulai berkumpul di sekretariat untuk melakukan persiapan terakhir dan memulai perjalanan kami untuk kegiatan mabim gunung hutan. Pada pukul menunjukan 22.00 kami memulai perjalanan menuju lokasi Ciwidey menggunakan angkota sewaan. Sesampainya di sana kami langsung menuju area camp untuk membuat tenda, pada waktu pembuatan tenda kami dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok laki-laki dan perempuan untuk belajar membuat tenda. Namun karena kapasitas tenda yang kami kurang, maka saya dan Danang membuat shelter di luar tenda dengan menggunakan fly sheet. Setelah selesai pembuatan tenda dan shelter kami diberikan sedikit pengarahan singkat oleh para komandan latihan mengenai kegiatan yang akan dilakukan selama kami berada di kawasan Rancaupas. Akhirnya pada malam pertama kami memasuki waktu untuk beristirahat.

16 Agustus 2013
Matahari mulai menunjukan dirinya, dan satu persatu dari kami pun mulai bangun dari nyenyaknya tidur kami. Kami pun langsung bergegas untuk melakukan binjas pagi yang berlangsung sekitar 30 menit sekedar memberikan peregangan tubuh agar siap untuk melakukan pergerakan hari ini. Setelah itu saya dan rekan sekelompok saya untuk kegiatan Navigasi Darat yaitu Karina dan Ina berkumpul untuk memasak dan sarapan sambil sedikit membicarakan pergerakan yang akan dilakukan. Setelah itu kami melakukan pergerakan untuk memindahkan lokasi base camp dan belajar membuat pemancar hi-gain untuk menjangkau area komukasi untuk selama kegiatan ini, materi ini diberikan dengan bimbingan dari Kang Ardy. Lalu selanjutnya kami diberikan intruksi untuk memulai orientasi medan dan menentukan posisi base camp kami. Setelah itu kami dibagikan pembimbing untuk menemani kami selama melakukan kegiatan Navigasi Darat,kelompok kami didampingi oleh Kang Bayu. Kami pun mulai merencanakan perjalanan kami untuk mencapai lokasi yang sudah ditentukan, tujuan kami adalah suatu bukit yang berada di arah 30° dari base camp, sehingga itulah yang akan menjadi sudut pergerakan kami. Setelah meninggalkan area base camp, kami menuju arah timur dan mencari area perkebunan dan lebih terbuka sehingga memudahkan untuk melakukan orientasi medan. Akhirnya kamu menemukan area perkebunan dan kami menyusurinya kearah timur dengan sudut pergerakan arah 30°. Selama perjalanan kami berusaha mencari jalan yang paling efektif untuk dilalui. Selama perjalanan kami banyak diberikan saran dan kritik dari Kang Bayu, salah satu hal yang baru saya ketahui dalam bernavigasi adalah bisa menggunakan untuk resection adalah menembak sudut lembahan dan punggungan. Akhirnya waktu memasuki pukul 14.00 kami mulai dekat dengan tujuan kami, sesampainya disana kami melakukan orientasi kembali untuk memastikan bahwa lokasi yang kami tuju benar atau tidak. Dengan melihat keadaan sekitar dan melakukan resection maka didapati bahwa tujuan kami sudah tercapai. Maka kami beristirahat dan memakan bekal makan siang kami. Setelah satu jam beristirahat kamu kembali melakukan perjalan pulang. Dalam perjalanan pulang ternyata cukup sulit untuk dilalui, sehingga saya harus membuka jalur untuk turun dari area bukit yang menjadi lokasi tujuan kami. Dengan jalur yang terjal dan vegetasi yang rapat kami membutuhkan lebih dari satu jam untuk keluar dari area tersebut dan kembali ke area perkebunan sebelumnya. Setelah sampai perkebunan kami dibimbing oleh kang Bayu untuk kembali mengulas perjalanan dan materi navigasi darat sambil beristirahat sejenak di pinggir area perkebunan. Senja mulai nampak sehingga kami harus bergegas pulang kembali ke base camp. Sekembalinya kami ke base camp, Ina dan Karin bertugs untuk memasak sementara saya dan teman-teman lain membuat shelter dan perapian untuk mala mini. Sekitar pukul 23.00 kami melakukan evaluasi kegiatan hari ini dipimpin oleh kang Asenk. Pada sesi evaluasi ini saya mendapat banyak masukan dari para kolat, dan yang terutama dalam latihan navigasi adalah untuk sering menambah pengalaman dalam bernavigasi. Setelah itu kami beristirahat.

17 Agustus 2013
Pada hari ini adalag hari pertama kami untuk memulai kegiatan materi ESAR. Di pagi hari seperti hari sebelumnya kami melakukan binjas lalu sarapan pagi. Lalu kami diberikan tim baru, yaitu saya, Ina, Karin, Danang, dan Tika. Setelah itu kami diberikan briefing untuk melakukan pergerakan. Pada pencarian hari pertama kami menggunakan hestic search atau percarian terburu-buru menunju lokasi Cadaspanjang. Pada saat ini saya kembali ditugaskan menjadi kompasman untuk mengarahkan pergerakan. Pergerakan kami dimulai dengan kembali ke arah camp awal pada malam pertama, areal lokasi kami yang tuju berada di sebelah barat dari base camp kami yang sekarang. Sudut pergerakan yang kamu gunakan adalah 330°. Kami menyusuri sisi barat sungai dan area perkebunan.
Camera 360

Setelah sampai di ujung area perkebunan, merupakan tempat terakhir yang cukup terbuka, sehingga kami memutuskan untuk melakukan istirahat dan makan siang. Sekitar 90 menit pun berlalu, kami memulai perjalanan kami berikutnya.
image3
Ketika kami sedang menaiki area punggungan untuk mencapai puncak dari Cadaspanjang dan area pun vegetasinya rapat sehingga kami harus membuka jalur, lalu tiba-tiba kami diguyur hujan deras. Saya dan ketua kelompok kami dengan singgap membuka jalur dengan cepat untuk mencari daerah datar untuk berlindung dari hujan. Setelah mendapati areal datar saya langsung membuat shelter dan membuat perapian, pada saat itu saya cukup basah kuyup karena hanya menggunakan jaket saja, saya memilih untuk mencoba melidungi teman-teman saya agar tidak kehujanan dan basah seperti saya. Akhirnya shelter dan perapian kami pun sudah jadi, sekiatar 1,5 jam kemudian hujan mulai reda, dan kami pun melaporkan pada base com. Setelah beruding dengan sekelompok akhirnya kami pun menghentikan pergerakan. Kami pun bergegas membagi tugas untuk bermalam pada lokasi ini. Saya dan Danang kembali membuat untuk kami tidur, lalu mencari kayu bakar untuk perapian. Pada saat ini kondisi saya mulai merasa kedinginan, saya pun mengganti pakaian saya. Memasuki malam kami pun melakukan laporan terakhir kepada base com dan kondisi saya sudah mulai menggigil. Pada saat itu teman-teman merawat saya, saya merasakan kebersamaan kami cukup hangat. Akhirnya kami pun beristirahat dan menutup pencarian hari pertama.

18 Agustus 2013
Hari pun berganti dan kondisi saya semakin parah, saya demam dan pusing kepala. Pada pagi itu dari komandan latihan, Kang Asenk dan Kang Yanwar mendatangi camp kami. Setelah teman-teman siap melanjutkan perjalanan, saya akhirnya memutuskan kembali kembali ke base camp kolat dan tidak melanjutkan di hari kedua, sambil berharap kondisi saya membaik dan kembali bergabung dengan teman-teman. Pada saat itu saya cukup merasa bersalah dengan meninggalkan teman-teman dan tidak dapat saling berkontribusi lagi, tapi ini merupakan sebuah pilihan saya, Akhirnya saya ditemani kang Yanwar kembali ke base camp dan istirahat penuh. Namun kondisi saya pun tidak membaik.

19 Agustus 2013
Pagi yang cerah pun kembali, namun diiringi suara tembakan di dekat base camp. Ternyata suara itu ditimbulkan dari para TNI yang sedang berlatih. Pada pagi itu kondisi saya masih buruk dan saya diajukan pilihan dari Kang Asenk untuk melanjutkan kegiatan atau pulang. Saya pun berpikir, namun saya lah yang paling mengetahui kondisi dan batasan diri saya. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pulang. Dengan kondisi kolat yang terbatas dan saya yang sedang sakit ternyata tidak ada yang dapat menemani saya pulang. Akhirnya dengan semangat terakhir saya berusaha kembali untuk pulang dan selamat sampai kostan. Keesokan harinya saya ke klinik dan melakukan tes darah, ternyata saya sudah mengalami gejala tipes. Mungkin ini merupakan keputusan yang berat buat saya kehilangan kesempatan untuk belajar lebih pada kegiatan kali ini, tapi keputusan ini menjadi hal yang tepat karena jika saya teruskan mungkin bisa menjadi tipes dan tidak dapat menjalani kegiatan berikutnya. Walaupun singkat namun banyak hal yang sama dapat selain ilmu dan pengalaman, juga kebersamaan dengan teman-teman. Terima kasih atas kesempatannya bisa mengikuti kegitan kali ini.

MABIM GUNUNG HUTAN

16-20 Agustus 2013, merupakan tanggal kita Anggota Muda Sar melakuan Mabim Gunung Hutan. Mabim ini merupakan salah satu syarat untuk bias melakukan siding NPA dan Mabim kedua yang dilaksanakan setelah Mabim water. Mabim Gunhut seperti tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan di Rancaupas, Ciwidey, Kabupaten Bandung.Kami berangkat tanggal 15 malam dengan menggunakan carteran angkot dan sebagian menggunakan motor. Sayangnya kita hanya berangkat 9 orang dari 17 orang,hiks. Sekitar jam 12an malam kami sampai di tempat camp dan langsung mendirikan tenda dan fly sheet. Sebelum tidur Kolat Aseng dan Aziz memberi tahukan pergerakan kita untuk esok hari.

 

06.00 kita bangun dan langsung melakukan binjas pagi.Suasana disana sangat dingin. Materi yang akan dilaksanakan hari itu adalah Navigasi Darat. Setelah binjas kami sarapan sesuai kelompok yang telah dibagi pada malam harinya.Saya kebagian dengan Carmel dan Hani, cewe-cewe paling pendiem di XXIII.Kita diberi koordinat tujuan kita dan setelah dilihat di peta tujuan kita adalah puncakan Cadas Panjang. Sarapan selesai, kolat-kolat yang menyusul pun sudah dating. Kami pindah basekom ke dalam hutan yang tidak jauh dari jarak camp sebelumnya.Setelah disana kami mereview sedikit materi dan dijelaskan tentang antenna hygen. Setelah semua siap tim kami berangkat jam 11 siang. Sebelumnya kita orientasi medan dan memilih jalur yang akan kita lalui. Akhirnya kami memilih jalur yang panjang namun agak landau. Kolat yang menemani kami adalah Bang Ardi dan aa Azis. Tim kami pun langsung bergerak mencari jalan setapak yang bias dilalui.Tibalah kita disebuah punggungan.Disini kami memakan waktu yang sangat lama untuk menentukan titik dimana kita berada.Bila melakukan resection kami meman tepat berada di puggungan yang menujun Cadas Panjang. Namun Bang Ardi berkata lain, kita malah berada di puncakan 2020 tujuan kelompok Ega n friends. Yang membuat kami lama adalah belajar ormed dengan bang ardi hingga mengerti. Ahirnya kita yakin bahwa itu memang punggungan 2020. Karena sudah lumayan jauh akhirnya tim memutuskan untuk lanjut ke 2020 dan bila waktu cukup akan ke cadas panjang melewati 2020. Kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Sekitar jam 4an akhirnya tim sampai di puncakan. Ternyata memang benar itu puncakan 2020 dan disitu tim ega sengaja menunggu tim kami datang. Carmel dan Hani benar-benar menjadi pendiam saat itu, mungkin karena sudah capek kali ya. Di puncakan kami mereview kembali perjalanan kita dan kemunginan kesalahan yang terjadi.Kami belajar bahwa selain resection, kemampuan ormed pun sangat dibutuhkan.Lagipula peta yang digunakan adalah tahun 60an, wajar jika sudah ada perubahan sudut. Jam 5an kami turun menuju basekom melewati jalur kelompok Ega. Di basekom kami istirahat, membuat api, shelter, dan mereview kegiatan hari itu. Kita juga mempersiapkan untuk kegiatan esok hari yaitu ESAR. Sekitar jam 12 kami tidur di flysheet.

 

Keesokan harinya seperti biasa kami bangun jam 6 pagi dan melakukan sedikit binjas, sarapan, dan mempersiapkan pergerakan. Kali ini tim dibagi menjadi 2. Tim saya adalah Egad an cewe-cewe paling pendiem se XXIII lagi. Kami memberi nama tim kami PPS. Singkatannya Para Pencari Subur, bisa dibilang juga Pulang Pasti Selamat. Ada juga yang bilang Para Penghuni Sekre.Tapi kami berharap Para Penghuni Surga.Materi kali ini kami diberi kasus tentang orang hilang bernama Subur Alexander. Nama yang saya yakin tidak akan ada di belahan dunia manapun. Ciri-ciri dan segala sesuatu tentang survivor telah diberitahukan pada malam sebelumnya. Sekitar jam 10 kami berangkat tanpa kolat yang menemani.

 

image1

 

        Tim PPS (Para Pencari Subur)

 

Tipe pencarian yang dilakukan adalah tipe 1 dengan tujuan puncakan Kolotok.Jalur yang kami lalui pun awalnya sangat landau, melewati rawa dan perkebunan. Jalan landai ini kami lalui hingga kami beristirahat jam 1 siang. Saat diperjalanan kami menemukan banyak sekali bekas perapian dan shelter. Kami bingung apakah itu punya survivor ada orang lain. Di beberapa tempat kami memasang marker. Sekitar jam setengah 3 kami melakukan pergerakan lagi. Jalur sekarang sudah lumayan menanjak.Degan pede kami mengikuti jalan setapak dan yakin jalur yang kita lalui benar.Sekitar pukul 4 hujan datang dengan derasnya.Kami sedang berada di lembahan yang sangat curam.Akhirnya kami menemukan sebuah sadelan.Sadelan ini bila dipeta mirip sadelan sebelah puncakan Kolotok. Karena sudah hamper gelap. Kami memutuskan untuk memotong kompas berjalan kea rah puncakan dengan menerobos pohon-pohon. Saat hamper maghrib kami tiba disebuah puncakan. Namun kami bingung apakah itu puncak kolotok atau bukan.Lumayan sulit juga untuk melakukan ormed karena hari sudah gelap.Kami melapor ke basekom dan kita disuruh memastikan apakah kita ditujuan yang tepat atau tidak.Bila tdak maka esok subuh-subuh kami harus bergerak dan ke tujuan yang ditentukan.Karena sudah malam juga kami beristirahat di puncakan tersebut.Kita buat shelter, makanan, perapian, dan melapor ke basekom tentang pergerakan kita hari ini. Jam 11 kita sudah tidur ditemani perapian.

 

 

image2

 

Api yang menemani saat malam yang dingin

 

Lagi dan lagi kita sudah bangun jam 6. Ini adalah hal yang luar biasa karena bisa bangun pagi terus.Saya dan ega pun langsung melakukan ormed untuk menetukan posisi kita.Namun tetap saja kita tidak bisa menentukan.Ada gambling kita memang di kolotok atau bukan.Kami pun melapor ke basekom bahwa kami tidak tahu keberadaan kita.Perintah basekom pun akhirnya menyruh kita teriak sekencang-kencangnya. Saat kita ormed carmel dan hani pun memasak untuk sarapan pagi. Setelah sarapan selesai kami mencoba ormed lagi sambil tetap berteriak.Tidak lama dari itu ternyata azis dan bayu datang untuk menyusul kami.Kami diberitahu bahwa kita bukan di kolotok melainkan puncakan noname.Karena itu kami diberi hukuman 3 seri push up, lumayan lah olahraga pagi.Setelah semua persiapan beres kami melanjutkan pergerakan lagi.Tipe pencarian yang digunakan adalah tipe 3 dan diberi sudut pergerakan oleh SMC.sudut ini mengarah ke punggungan 2020. Disini lah benar-benar terasa namanya pencarian.Jalur pertama yang kita lalui adalah turunan ke lembahan yang sangat tajam.Tidak jarang kami terperosok ke bawah. Setelah sekitar 2 jam pergerakan kami tiba di lembahan. Sebelumnya saya terperosok sejauh 10 meter dan jatuh di lembahan.Untung saja tinggi ke lembahannya hanya 2 meter. Terbayang bilang jaraknya 20 meter mungki saya ga akan bisa bikin cerita disini. Disini perasaan saya sudah mulai agak panik.Memang benar lembahan itu sangat menyeramkan, ini lah mungki yang dirasakan seorang survivor, sendirian, tidak tahu menuju kemana, panik, pokoknya saya bisa merasakannya saat berada disitu.Saya pun mencoba untuk menelusuri lembahan itu, namun hujan turun, kami memutuskan untuk tetap berada pada sudut kompas dan naik ke sebuah punggungan. Sudut kompas pun kami jaga, jalan yang tadinya punggungan tiba-tiba megarah ke lembahan lagi. Saya melihat di lembahan itu ada sebuah sungai. Karena hujan deras, dan kondisi tim yang belum beristirahat, kami memutuskan untuk kembali ke punggungan mengarah ke sebuah puncakan. Memang dalam keadaan seperti itu lebih baik naik daripada turun.Untuk kembali naik pun kami kesulitan karenamedan yang curam, webbing pun dikeluarkan untuk membantu kami naik.Setalah terus mengarah ke puncakan tiba-tiba kami menemukan jalan setapak.Tanpa berfikir panjang kami menelusuri jalan itu dan sampai di sebuah sadelan lagi kami memutuskan untuk beristirahat disitu.Benar-benar chaos hari itu, hani sesaknya mulai kambuh, tapi untung tidak berkepanjangan.Kami pun memasak, sambil menunggu masakan jadi saya mencoba untuk menuju sebuah puncakan antara sadel tersebut.Ternyata itu adalah punggungan 2020 dan punggungan puncakan no name.dan dari situ kami bisa mendengar suara aseng dan tim lain. Setelah makan beres saya mencoba untuk menuju 2020 dan melakukan ormed.Aseng pun memberitahu kita harus menuju ke sebuah koordinat.Koordinat itu tidaj jauh dari tempat kita beristirahat.Akhirnya kita bertemu aseng dan azis amin dan kita disuruh menuju puncakan no name itu. Disana sudah ada tim lain dan kita kembali berkumpul. Sayangnya ada kabar bahwa dito sakit dan tidak bisa melanjutkan perjalanan, namun disana ternyata ada gani yang datang menyusul pada pagi harinya.Disana seperti biasa kami beristirahat, senang sekali bisa berkumpul bareng-bareng lagi.Sebelum istirahat tidur kita diberi instruksi untuk pergerakan besok.

 

Esok harinya kami disuruh memulai pergerakan pukul 8. Sehingga jam 7 kami semua sudah terbangun dan langsung melakukan aktivitas pagi seperti biasanya. Setelah semua siap kita benar-benar mulai pergerakan jam 8, ya hanya lewat 30 menit saja. Kami pun disuruh melakukan tipe pencarian 3 dengan sudut 165o. baru saja kita melakukan pencarian sekitar 10 meter, SMC menyuruh kita untuk menghentikan pergerakan dan mengubah sudut menjadi 205o pada instruksi selanjutnya nanti. Pagi itu banyak sekali suara tembakan-tembakan, sepertinya sedang ada latihan tembak di daerah sana. Sambil menunggu kita mengobrol-ngobrol.Dari obrolan yang meningkatkan iman seperti membicarakan hari ke kiamat, hingga obrolan yang menghancurkan iman tentang sesuatu yang tidak pantas untuk diketik dan dibaca.Cukup lama kita menunggu hingga akhirnya SMC memerintahkan kita untuk bergerak lagi dengan kembali menggunakan sudut 165o.Jalur yang kita lalui tidak se ekstrem kemarin, malah jauh dari ekstrem.Hanya berada di bibir punggungan dan kembali lagi ke dataran yang dilalui jalan setapak.Disitu kami diinstruksikan untuk istirahat. Karena persediaan air yang sudah terbatas kami tidak bisa memasak nasi, kami haya memakan satu buah roti tawar dengan susu kental manis. Setalah istirahat sebentar kami melakukan pergerakan lagi sambil meneriakkan nama survivor. Saat mau bergerak tiba-tiba tergerak suara minta tolong.Entah mengapa walaupun itu hanya scenario saya merasakan merinding.Suaranya benar-benar seperti orang yang minta tolong, saya langsung membayangkan bila saat operasi yang asli ada suara seperti itu. Akhirnya tim berhenti dahulu dan ega danang mengecek arah suara tersebut, tidak lama sisanya mengikuti mereka. Akhirnya kita menemuka survivor dalam keadaan botol isi.Kami sempat ragu apakah itu survivor yang kita cari. Dari barang bawaan dan nama memang sama dengan ciri-ciri yang diberikan. Namun dari fisik terutama tingginya berbeda dari yang aslinya.Yasudahlah namanya juga scenario. Kami langsung membagi tgas, sebagian mebuat tandu, sebagian mengurusi survivornya, sebagian lagi melakukan ormed jalur mana yang akan ditempuh. Setalah semua siap kita membawa survivor dengan tandu. Memang membawa survivor dengan tandu merupakan tugas yang lumayan berat terutama dalam medan yang terjal. Mungkin karena merasa tidak nyaman si survivor akhirnya tiba-tiba sehat dan minta jalan sendiri.Ya selesai sudah materi ESAR kita pada waktu itu.Kita pun langsung bergerak kembali mengikuti Subur alias Aseng yang sekarang sudah sehat.Di jalan Aseng bercerita bahwa latian tembak berada di dekat basekom, pantas saja kita disuruh menunggu lama tadi.Setelah lumayan jauh jarak jalan kita, akhirnya kita sampai di sebuah tempat yang sangat landau.Tidak menduga bahwa itu adalah materi survival.Terbayanglah kita siang itu tidak makan nasi, beraktivitas berat, dan langsung survival.Semua makanan dan matras diambil.Kami hanya dibekali 2 kompor lapangan, 1 kotak paraffin dan 2 nesting.Survival pun dimulai dengan membuat bivak alam individu, dan mencari makanan.Bentuk bivak yang dibuat bermacam-macam, segitiga, igloo, bahkan ada yang ingin bermain bola disana karena bentuk bivak gawang yang saling berhadapan.disitu kami sibuk masing-masing hingga semua beres.Kami pun langsung masak bahan yang kami temui.Untungnya disana terdapat udang, ya meskipun ukurannya tidak seperti lobster setidaknya ada proteinnya.Menu kita malam itu adalah gedebog pisang, jantung pisang, dan pakis.Setalah makan beres, kami diberi 1 materi lagi yaitu tidur kalong.Tidur kalong adalah tidur di dahan pohon.Tidur ini digunakan bila di dataran terdapat bahaya seperti ada hewan buas.Namun tidur yang kita coba tidak sampai ke dahan pohon, hanya menggantung di batangnya.Itu adalah tidur ya sangat tidak nyaman.Ya namanya juga tidur survival.Beres-beres tidur kalong itu saya tidak bisa bergerak beberapa menit karena kaki yang sudah mati rasa sekali.Akhirnya materi beres dan kita dipersilahkan istirahat. Saya ega dan danang mencoba untuk membuat api. Saya dan danang berduet karena bivak kita yang berdekatan. Sedangkan ega membuat sendiri. Sangat sulit membuat api pada malam itu dan akhirnya api saya dan danang tidak jadi. Namun disitu kami belajar bahwa membuat api itu dibutuhkan kesabaran yang besar. Kami pun tertidur tanpa ditemani api.

 

Malam itu saya tidak bisa tidur dengan nyenyak, seringkali terbangun karena kedinginan, berharap pagi cepat datang.Akhirnya matahari terlihat dan saya langsung menuju sinar matahari untuk berjemur. Pagi itu kegiatan kami mencoba membuat api lagi dan membuat makanan dari bahan-bahan alam. Membuat api kali ini bersama cucu mang Os yaitu Bayu. Namanya juga cucu si dewa api, perapian pun jadi dibuatnya. Pagi itu menu makanan pun lebih banyak dan lebih enak.Udang yang kami dapat sangat banyak dan ukurannya lumayan.Jantung pisang dan gedebog pisang yang dimasak pun sangat enak.Itu adalah makanan survival terenak yang pernah saya rasakan.Setelah cukup kenyang kami diberi materi lagi tentang survival dengan pemateri Bayu.Disitu kami diajarkan bagaimana kita merasakan bila menjadi survivor yang sedang survival sehingga dengan merasakannya kita bisa memperkirakan kemana pergerakan sis survivor.Materi pun selesai.Kami siap-siap packing dan diberi makanan yang layak.Tidak ragu-ragu kita makan makanan yang telah dipersiapkan oleh kolat.Setelah semua senang dan kenyang.Kami langsung membereskan barang-barang kami untuk bersiap-siap pulang.Disitu pun dinyatakan bahwa mabim gunung hutan selesai.Akhirnya 1 dari beberapa pikiran telah selesai. Kami pun melanjutkan perjalanan ke tempat camp yang pertama yang ada warung sambil menunggu angkot.

 

 

 

 

Mabim gunung hutan mengajarkan kita banyak hal.Saat di hutan kemampuan kita benar-benar diuji.Hutan tidak memilih siapapun untuk mengeluarkan ketidak pastiannya.Disana juga kita merasakan bagaimana bila menjadi survivor yang tersesat di hutan, sendiri, dan tidak tau mau kemana. Avigam Jagad Samagram!

 

image3

 

 

Sebagian AM XXIII Unit SAR

Laporan Mabim Gunung Hutan

Dalam operasi SAR darat diperlukan pengetahuan tentang navigasi darat, komunikasi lapangan, ESAR, dan jungle survival. Kumpulan materi itu dirangkum dalam waktu 5 hari pada AMO (aplikasi medan operasi) gunung hutan dan kami para anggota muda Unit Search and Rescue Universitas Padjadjaran dilatih untuk bias menguasai materi tersebut.

AMO kami dilaksanakan di Rancaupas, Ciwidey. Terhitung dari tanggal 16-20 Agustus 2012. Kami berangkat menuju Rancaupas pada tanggal 15 Agustus 2013 pukul 21.30 dengan jumlah 9 orang AM diantaranya Danan, Ega, Iqbal, Dito, Tika, Ina, Karin, Hani, dan Carmel, dan 2 orang kolat yaitu Kang Aziz dan Kang Aseng.

NAVIGASI DARAT

Pada hari pertama, kami dibagi menjadi 3 kelompok untuk melakukan navigasi darat ke 3 puncakan yang berbeda. Kelompok 1 diketuai oleh Carmel dengan anggota Hani dan Iqbal bernavigasi menuju puncak Gn. Cadas Panjang, kelompok 2 diketuai oleh Tika dengan anggota Danang dan Ega menuju puncak 2020, sedangkan kelompok 3 yang diketuai oleh Ina dengan anggota Karin dan Dito menuju puncak Gn. Kolotok.

Sebelum melakukan pergerakan, kami diberikan materi singkat tentang komunikasi lapangan dan memasang antena hygen agar memudahkan kami dalam berkomunikasi. Sesuai kesepakatan, komunikasi dilakukan dalam jangka waktu 1 jam. Kelompok saya mulai bergerak pada pukul 12.00 dengan sebelumnya menentukan terlebih dahulu koordinat awal. Untuk menentukan koordinat awal kami melakukan resection terhadap 2 titik ekstrim, yaitu puncak Gn. Patuha dan punggungan Gn. Cadas Panjang.

Pergerakan dilakukan dengan menyusuri punggungan dan kelompok kami didampingi oleh Mang Ameng. Perlengkapan navigasi yang kami bawa antara lain, kompas bidik, kompas orienteering, alat tulis, peta Ciwidey, protraktor dan altimeter. Tapi cerobohnya, altimeter yang kita bawa tidak bisa digunakan karena belum dikalibrasi.

Kita sampai puncak sekitar pukul 15.00, dari atas puncak terlihat pemandangan Situ Patenggang. Ketika kami sampai puncak langit sudah mulai mendung, kami membuat shelter dan masak untuk makan siang. Sedangkan Danang, dia mengorientasi medan apakah benar itu puncakan yang kita tuju. Setelah berkomunikasi ke basekom, ternyata kelompok 2 salah menaiki punggungan dan malah menuju ke puncakan 2020, oleh karena itu kami menunggu mereka sekaligus beristirahat. Sekita pukul 16.00 mereka tiba di puncakan, setelah mereka melakukan briefing oleh Kang Ardi dan Kang Aziz kami, dari kedua kelompok, turun ke basekom.

Malam harinya ada evaluasi tentang pergerakan tadi, dan briefing untuk kegiatan besok. Ternyata setelah navdar ini ada materi ESAR. Kami ditugaskan untuk mencari survivor bernama Subur Alexander, dia berasal dari Bandung dengan organisasi PA Rempakem, ciri-ciri fisik yang dimiliki yaitu tinggi 172cm dan warna kulit sawo matang. Informasi yang didapat dari teman-temannya, Subur melakukan latihan navdar seorang diri dengan tujuan puncakan Gn. Cadas Panjang dan Gn. Kolotok dengan waktu keberangkatan tanggal 14 Agustus 2013 dan rencana kembali tanggal 15 Agustus2013. Keluarga dari Subur Alexander ini melapor pada tanggal 16 Agustus pukul 08.00. Oleh karena itu, kami akan memulai pencarian pada besok hari tanggal 17 Agustus 2013

image1
  image2

Ketika dalam perjalanan menuju puncak 2020

 image4
 image3

Ini dia puncakan 2020, walau langitnya agak mendung

  image5  image6

Kolat kece yang nemenin tim 1, Mang Ameng             Suasana diatas puncakan

image8 image7

Tim 1, yang seharusnya ke Cadas Panjang                       Bersiap untuk turun lagi ke basekom

ESAR

ESAR  dilakukan pada tanggal 17 Agustus 2013 – 19 Agustus 2013. Anggota muda dibagi menjadi 2 tim SRU, tim 1 yaitu Tika, Karin, Ina, Danang, dan Dito dengan diketuai oleh Danang dan kami beri nama tim kontribusyi, sedangkan tim 2 yang di namai dengan tim PPS dan diketuai oleh Iqbal beranggotakan Hani, Carmel, dan Ega. Sebelum memulai pencarian, kami melakukan briefing terlebih dahulu untuk menentukan kemungkinan arah survivor akan bergerak. Pergerakan pertama, kami melakukan tipe pencarian hestic/cepat hal ini dilakukan karena belum adanya jejak survivor. Tim 1 bergerak menuju puncak Cadas Panjang sedangkan tim 2 bergerak menuju puncak kolotok.

Kedua tim memulai pergerakan pada pukul 11.00 dengan memasang marker pada titik awal pencarian. Tim kami beristirahat untuk makan siang pukul 12.24 di koordinat 763.150 – 211.700 sekaligus untuk laporan ke basekom tentang kondisi tim. Selesai beristirahat kami melanjutkan perjalanan dengan memotong sudut kompas 330o awalnya jalur yang kami lewati cukup landai tetapi semakin lama berjalan kami menemukan jalur yang curam.

Pukul 15.15 kami berhenti melakukan pergerakan karena cuaca hujan dan kami masih berada di lereng dengan vegetasi yang rapat, kami memutuskan untuk membuat shelter dan perapian. Ditempat kami membuat shelter, kami tidak bisa melakukan komunikasi dengan baik ke basekom, oleh karena itu untuk berkomunikasi kami harus mencari daerah yang mungkin terjangkau oleh sinyal HT yang kami miliki.

Pukul 19.30 karena cuaca dingin dan mulai malam, kebutuhan kalori juga tidak bisa dilupakan. Kami memasak dan kemudian makan dengan bekal yang kami bawa dan air yang tidak banyak, beruntung kami mempunyai api yang bisa (walaupun sedikit) menghangatkan tubuh kami. Pukul 20.15 kami melakukan laporan ke basekom tentang pergerakan mulai dari titik awal sampai pada titik dimana kami berada sekarang dan kondisi tim, buruknya pada malam itu salah satu anggota kami, Dito, sakit dan diperkirakan bahwa dia tidak bisa melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Pukul 22.00 kami beristirahat untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Total marker yang kami pasang hari ke-1 adalah 6, yaitu titik awal, tempat istirahat makan siang, pergantian guide menjadi sudut kompas 330o, pergantian guide jalan setapak, pergantian guide menjadi sudut kompas 330o, dan tempat kami membuat shelter.

18 Agustus 2013, kami bangun pukul 05.00 karena pukul 08.00 kami sudah harus melanjutkan perjalanan. Karena kondisi Dito yang tidak sehat dan kami menunggu kolat datang, akhirnya kami memulai pergerakan pukul 09.19 untuk menuju puncak Cadas Panjang. Pukul 10.13 diketinggian 1920 mdpl, kami menemukan bekas perapian dan segel bungkus aqua di kordinat 762.890-211.300. Ketika ingin melanjutkan perjalanan kami bertemu dengan Gani yang baru menyusul untuk mengikuti AMO, kami sampai ke puncak Cadas Panjang pada pukul 10.50, kemudian kami melakukan orientasi medan dan meresection beberapan titik ekstrim, misalnya puncakan 2020 95o puncakan tanpa nama 345o dan bukit Quinine 15o.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Kolotok dengan sudut 30o dan guide jalan setapak pada pukul 11.44, kami berhenti untuk beristirahat dan menentukan pergerakan selanjutnya pada pukul 13.25 di bivak alam yang kemungkinan merupakan bekas survivor karena kondisi saat itu juga turun hujan. Ketika melakukan orientasi medan disekitar tempat kami beristirahat, kami menemukan jejak survivor, berdasarkan informasi dari warga terdengan suara dari puncakan yang punggungannya memanjang kea rah kolotok, oleh karena itu kami merubah tipe pencarian menjadi tipe 3, close grid, dengan sudut 50o dari koordinat 763.312 – 211.888. Danang sebagai ketua memberikan tugas kepada kami, saya dan Gani menjadi ribbon man, Danang menjadi leader, Karin dan Ina menjadi kompas man.

Pukul 16.47 kami menemukan jejak ditanah yang bertuliskan “subur”, karena pergerakan dihentikan maka kami memutuskan untuk membuat shelter. Tidak beberapa lama kami sampai, tim 2 juga sampai ditempat yang sama dengan kami. Kami makan pada pukul 19.43 dan setelah kebutuhan kami tercukupi, kami, dari ke 2 tim, laporan tentang pergerakan yang kami lakukan selama satu hari ini. Untuk marker yang tim saya keluarkan berjumlah 6 marker diantaranya, pertama, ketika kami menemukan perapian, kedua ketika sampai dipuncak Cadas Panjang dan menemukan perapian, ketiga ketika kami menemukan bivak alam, keempat ketika menemukan jejak kaki, kelima ketika menemukan tutup botol dan bungkus mie instant serta perubahan tipe pencarian dan yang keenam ketika kami menemukan peta serta tulisan “Subur” di tanah.

19 Agustus 2013, kami melakukan persiapan untuk melanjutkan pergerakan pada pukul 06.00 dan pada pukul 08.35 kami mulai pergerakan dari koordinat 763.400 – 212.150 dengan sudut 165o dengan tipe pencarian 3 yaitu close grid. Pada hari ini, yang menjadi leader bagi ke-2 tim adalah Gani dan yang bertugas sebagai ribbon man adalah Iqbal dan Danang, kompas man Tika dan Ega, dan yang menjadi notulen adalah Hani.

Pukul 09.25, pergerakan dihentikan dan kami melakukan orientasi medan. Koordinat tempat kami berhenti adalah 763.350 – 211.940. Kami memulai pergerakan kembali pada pukul 10.53 atas perintah basekom. Sepanjang perjalanan yang kami lalui, kami terus memanggil nama “Subur”. Pada pukul 12.00 kami beristirahat dan makan siang, karena persediaan air hanya tinggal setengah kompan, maka kami memutuskan hanya makan dengan roti dan susu saja. Ketika ingin melanjutkan perjalanan, kami memanggil nama survivor, dan pada pukul 12.46 kami mendengar teriakan “tolong” dari arah lembahan. Ega, Iqbal dan Danang memutuskan untuk mengecek apakah itu survivor. Ketika itu dipastikan bahwa suara itu berasal dari survivor kami segera membagi tugas untuk memuka jalan, merawat survivor, dan membuat tandu. Evakuasi dilakukan pada pukul 14.00.

Saya kira, kami akan pulang setelah materi ESAR selesai, ternyata ada tahap ketiga yaitu, jungle survival L

image9

SRU siap mencari survivor

image10

Tim Kontribusyi J

JUNGLE SURVIVAL

Ditempat kami akan berkemah ditemukan banyak daun tereptep, daun ini bisa membuat kulit terasa tersengat, tetapi tidak lebih parah dari daun fulus. Posisi kami berada didekat sungai, oleh karena itu banyak ditemukan tumbuhan pakis dan pohon pisang. Bivak yang kami buat merupakan bivak individu. Saya membuat bivak dengan beralaskan daun pakis dan beratapkan daun pisang. Untuk jungle survival ini kami hanya dibekali, garam, gula, 1 bungkus paraffin, minyak komando, 2 nesting dan 1 kompor lapangan, untuk kebutuhan kelompok.

Beruntung, di sungai dekat camp kami, kami menemukan udang. Jadi, malam ini kami makan udang yang digoreng dengan minyak komando dan pakis yang bisa dibilang kurang untuk kami bersembilan. Selain udang, Ega menemukan jantung pisang, karena pengetahuan yang kurang soal memasak, jantung pisang itu kami rebus. Tapi ternyata getahnya tidak bisa hilang dan rasanya tidak bisa dikatakan enak.

Selesai makan malam, kami diberikan materi menggunakan webbing untuk membuat body harness. Dan ternyata, kami disuruh untuk tidur diatas pohon, namanya tidur kalong. Walau hanya beberapa menit tapi terasa sesak bagi saya karena webbing yang terlalu menekan dada. Saya hanya bisa naik 2 meter dari permukaan, berat sekali rasanya untuk mengangkat badan tapi akhirnya saya dibantu oleh ka Vani. Walau awalnya dikatakan 2 jam untuk tidur kalong, tapi ternyata kami disuruh turun dan tidur di bivak yang kami buat.

Besok paginya tanggal 20 Agustus 2013, karena perut yang lapar, kami mencari makanan yang bisa dimakan. Akhirnya kami makan udang, jantung pisang yang lebih enak dari sebelumnya, dan daun pisang muda yang kami goreng dengan minyak komando. Selesai makan, kami diberi materi tentang jungle survival, dari cara membuat bivak, menylakan api, mencari air dan juga yang paling penting mencari makan. Setelah semua materi selesai, ternyata para kolat sudah mempersiapkan makanan untuk kami. Selesai makan kami bergegas untuk pulang karena tanggal 21 Agustus 2013 ada pawai untuk student day.image12 image11

Ina Medyana

AM.SAR.XXIII.001

 

Laporan Mabim Gunung Hutan

 

Mabim Gunung Hutan ya inilah dia masa-masa mabim yang mengingatkan saya pada Pendidikan dan Latihan Dasar yang telah saya lewati dengan sepenuh jiwa raga yang sesungguhnya tidak ingin saya ulangi. Tapi disini lah bidang kami, yang menuntut ilmu kami diasah demi menyelamatkan jiwa seseorang dan berpacu dengan waktu.

Baju besi yang baru kami dapati dan syal orange berlambang SAR Unpad mewarnai perjalanan di alam bebas dibantu oleh pendamping-pendamping yang selalu memberi arahan kepada kami. Ransel perbekalan menjulang tinggi di belakang punggung, kami berdiri tegap menghadapi dinginnya malam Rancaupas dan itu tak membuat kami gentar menghadapi 5 hari kedepan, kami siap!

 

Awal Perjalanan

Kami berangkat dari sekretariat SAR Unpad tanggal 15 Agustus 2013 dengan transportasi angkot berwarna hijau yang telah dicarter dan ada yang membawa kendaraan pribadi. Supir angkot bersama istrinya telah menunggu dengan sabar di depan papan panjat lapangan UKM Barat. Sekitar pukul 09.30 malam kami memulai perjalanan dan berdoa terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan. Sesampainya disana waktu telah menunjukan pukul 00.30 dini hari, kami segera menurunkan barang-barang bawaan. Angin berhembus kencang, dingin menerpa, kami masih menunggu teman kami yang naik kendaraan pribadi lalu kami memutuskan untuk meminum secangkir kopi di warung. Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu tiba, kami mengobrol singkat di warung lalu langsung memutuskan untuk mendirikan tenda di lapang perkemahan Rancaupas. Setelah 2 tenda dome dan 1 tenda dari flysheet berhasil didirikan, kami briefing untuk perjalanan esok hari. Setelah itu kami beristirahat, tidur.

 

Navigasi Darat

Di hari pertama, pagi pun tiba tapi rasa kantuk masih menyelimuti mata, ya maklum lah meskipun tidur di dalam tenda, dingin Rancaupas tak terelakkan yang membuat kami tidak lelap dan terbagun dari tidur. Pukul 06.00 pagi kami melakukan bina jasmani atau yang sering disebut binjas. Setelah itu kami masak, ganti baju, dan siap-siap pergerakan.

ina1

Beberapa pembimbing datang di pagi hari. Sekitar pukul 09.00 pagi kami menentukan pergerakan, belajar materi komunikasi lapangan, dan memulai pergerakan. Tim navigasi darat 3 Botol siap melaju, dengan personil saya sebagai team leader, Karina sebagai notulen, dan Dito sebagai compass man dibawah bimbingan Kang Bayu Nugraha. Titik awal kami berada di koordinat 764.375 – 210.340. Komunikasi radio ada di frekuensi 14.888. Jam komunikasi setengah jam sekali.

Pergerakan kami mulai dari punggungan yang agak luas, naik punggungan menyusuri perkebunan. Saya dan Karina sedang melaju dengan semangat, tiba-tiba blup sepatu kami tak bisa terangkat karena masuk ke lumpur yang lumayan dalam sampai menutupi sepatu kami. Saya berteriak “Aaaaa Karina Karina, Kak Bayu toloonginnnn.” Berniat minta tolong tapi malah tambah bikin panik. Karina juga teriak “Aaah gimana nih gak bisa jalan. Ah sepatu,sepatu gueee” saya dan Karina berpegangan tangan, ditengah jebakan lumpur yang takutnya hidup. Kang Bayu sebagai pembimbing dan rescuer sejati segera mengerahkan tangannya untuk menarik saya menuju daratan yang tidak berlumpur. Setelah itu Karina diselamatkan juga oleh Kang Bayu, tapi ups Karina menapakkan kakinya hanya dengan alas kaki yang berupa kaos kaki. Kemana sepasang sepatunya? Ternyata oh ternyata sepatunya tertinggal di tengah lumpur. Antar kasihan dan menggelitik melihatnya sehingga kami tertawa sampai sakit perut sebelum meresue sepatu Karina. Kang Bayu lagi-lagi menyelamatkan kami, sepatu Karina diambil dengan tangan kosong, memang tim SAR sejati harus lebih dari sekedar kemanusiaan.

Setelah kejadian naas itu kami lalu orientasi medan karena melihat beberapa puncakan dari perkebunan. Kami memakai mengunci sudut kompas 30 derajat. Saat ormed di perkebunan, kami memutuskan jalan menyebrang perkebunan tersebut untuk menuju punggungan seberang. Puncakan tujuan kami berada di belakang puncakan Tikukur, puncakan yang masih tak bernama dipeta yang kami dapati. Sampai di ina2seberang kami masih mengacu ingin mengikuti jalan setapak yang masih mengikuti sudut kompas. Sampai di tempat yang agak luas, kami istirahat waktu saat itu menunjukkan pukul 02.30 siang, Kami masih mengikuti jalan setapak karena saat istirahat melihat bapak-bapak muncul dari jalan setapak tersebut dan sempat bertanya tempat tujuan kami. Saat mengikuti jalan setapak kami tidak menemukan jalan setapak yang harus kami lalui lagi, kami mencari-cari jalan setapak dimana-mana buntu. Akhirnya kami memutuskan untuk membuka jalur, mengikuti arah acuan kompas kami yaitu 30 derajat. Punggungan curam dan tanah yang gembur sedikit menyulitkan pergerakan kami. Sekitar pukul 03.15 sore kami sampai di puncakan tujuan kami dan berada di titik koordinat akhir yaitu 764.400 – 211.750. Kami melakukan ormed lagi untuk memastikan benarkah ini puncakan yang dimaksud. Setelah kami melapor pada basecom, kami segera istirahat, makan, minum, berbincang asyik, berbincang mengenai perjalanan,  dan evaluasi dari kakak pembimbing.

 

Pukul 04.00 sore kami diharuskan untuk kembali ke basecom. Perjalanan kami agak panjang saat pulang. Kami melalui puncakan Tikukur, karena ajakan pembimbing. Lalu kami tidak menemukan jalan setapak untuk pulang sehingga kami membuka jalur kembali. Medan yang sangat curam dan agak gembur membuat perjalanan kami terperosok berkali-kali. Hingga akhirnya kami menemukan jalan setapak yang berada di pinggir perkebunan. Lega rasanya hati melihat kebun yang luas. Perjalanan menuju basecom semakin dekat, tapi malam hampir tiba. Dengan jalan yang bercabang, dan gelap telah membuat kami agak kehilangan pandangan meskipun telah memakai headlamp, akhirnya kami disorientasi medan. Kami tersasar, tak tahu arah jalan pulang. Basecom telah memanggil-manggil lewat HT. Rasa takut mulai bergejolak dalam hati dan akhirnya setelah sekian lama berputar-putar, kami sampai di basecom. Di basecom kami beristirahat, mendirikan tenda dari flysheet, masak, makan, ganti pakaian, evaluasi, briefing untuk kegiatan ESAR esok hari, lalu tidur.

 

 

 

 

ESAR (Explore Search And Rescue)

ina3 Hari Kedua, sang fajar telah menerangi bumi bagian Rancaupas. Kami bangun, ganti baju, masak, dan bersiap-siap pergerakan materi selanjutnya, yaitu ESAR. Tim kami bertambah 2 personil, sehingga kami saat ini berjumlah 5 personil. Danang sebagai team leader, saya sebagai ribbon man, Tika sebagai notulen, Karina dan Dito sebagai compass man. Kami berlima adalah Tim Kontribusyi (pelafalan “s” harus jelas, berat, berhuruf arab syin ber-tasydid atau syaddah).

Perjalanan penyelamatan kali ini kami lakukan karena mendapat telepon tanggal 16 Agustus 2013 pukul 08.00 dari orangtua yang mengabarkan anaknya belum kembali pulang dari latihan navigasi darat di Rancaupas. Survivor bernama Subur Alexander. Ia adalah anggota pencinta alam Rem Pakem, berasal dari Bandung, memiliki ciri-ciri tinggi 172cm, kulit sawo matang. Subur melakukan latihan navigasi darat dengan tujuan perjalanan puncakan Cadas Panjang dan puncakan Kolotok. Mulai perjalanan 14 Agustus 2013 dan rencana kembali 15 Agustus 2013. Peralatan yang dibawa, yaitu kompas, peta Rancaupas, alat masak, daypack, flysheet dan headlamp. Perbekalannya Indomie 3-4 bungkus, Aqua 1,5 liter dan sebungkus rokok Dunhill. Di sepanjang perjalanan kami hmemasang ribbon dan marker.

ina4 ina5 Kami memulai pencarian dari titik awal kami tiba di Rancaupas dan 2 personil kami membeli batagor. Tipe pencarian menggunakan hestic. Setelah itu kami melakukan orientasi medan  serta bertanya pada warga lokal. Akhirnya kami menemukan jalan setapak ke punggungan yang berada di belakang pemandian air panas. Kami memasang ribbon dan mengikuti jalan setapak, di perjalanan kami menemukan sungai irigasi yang bisa untuk minum juga karena jernih airnya dan kami juga melihat 3 ekor monyet bergelantungan dari pohon ke pohon. 12.24 siang kami berada di bukit telletubbies koordinat 763.250 – 211.250, kami memutuskan untuk istirahat minum. Perjalanan kami lanjutkan dan tidak menemukan jalan setapak, akhirnya kami memutuskan untuk membuka jalur, tapi sebelumnya istirahat makan terlebih dahulu. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan pukul 14.33 membuka jalur mengikuti sudut kompas 330 derajat dan menggantungkan marker serta ribbon. Di tengah perjalanan kami dilanda hujan, yang memaksa kami untuk berhenti melakukan perjalanan pukul 03.15 sore dikarenakan medan yang curam dan licin. Akhirnya kami membuat shelter dan api di punggungan Cadas Panjang. Sekedar informasi, kami membuat api yang besar tapi basecom tidak percaya, akhirnya kami mengabadikannya dalam sebuah foto. Setelah hujan reda, kami menghubungi basecom untuk tidak melanjutkan perjalanan karena hari semakin gelap. Setelah berganti pakaian, pukul 7.30 malam kami masak untuk makan kelompok. Kondisi tim sehat walafaiat, tetapi ada satu personil kami yaitu Dito sedang tidak enak badan, sepertinya terkena demam. Pukul 08.05 malam kami laporan pada basecom, rencana perjalanan esok hari, serta diberikan hukuman push-up karena tidak mencapai puncakan yang dituju. Pukul 10.00 malam kami istirahat tidur.

Keesokan harinya, seperti biasa kami bangun pukul 6, masak, packing dan bersiap pergerakan selanjutnya. ina6Lalu kami laporan pada basecom dan ada pembimbing yang menjemput kami di camp. Dito tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi, akhirnya ia bersama salah satu pembimbing, yaitu Kak Yanwar untuk dibawa ke basecom dan pulang. Tim kami tersisa 4 orang, semangat sob! Kami segera menuju puncakan Cadas Panjang dibimbing Baba Ashyeng, disana kami terkejut melihat saudara kami Gani muncul dari kejauhan. Dengan adanya Gani, tim kami kembali memiliki personil 5 orang, semangat lagi sob! Akhirnya tiba juga di puncakan Cadas Panjang, sebenarnya tidak terlalu jauh dari camp kami. Di puncakan sudah ada Kakak Aziz Amin yang menunggu kami. Disana kami istirahat dan melakukan ormed lagi, kami juga menemukan bekas perapian yang disinyalir milik Subur, jadi kami memasang marker di tempat tersebut. Setelah itu kami kembali melakukan perjalanan menuju puncakan Kolotok. Kami menuruni punggungan yang curam, sehingga kami terperosok. Pukul 01.25 siang istirahat dan menentukan pergerakan selanjutnya. Hujan pun datang, kami menemukan bekas bivak alam yang disinyalir kepunyaan Subur di lembahan antara punggungan yang rapat lalu kita gunakan untuk berteduh ditutupi  dengan ponco disana kami membaca peta menentukan arah pergerakan. Tim kami terkena pacet yang tidak mau lepas meskipun telah diberikan tembakau dan ada yang terluka di pelipis karena tertusuk ranting. Tak lama kemudian Baba Ashyeng dan Kakak Aziz Amin menghampiri kami karena HT tidak boleh digunakan saat hujan.

Pukul 01.58 siang hujan mulai reda dan kami melanjutkan perjalanan. Ditemukan juga bungkus Indomie goreng di koordinat 763.312 – 211.888 sehingga kami merubah tipe pencarian menjadi close grid dengan sudut kompas 50 derajat. Kami berjalan sejajar mengikuti sudut kompas, melewati lembah yang curam Danang terperosok sampai lembah, Karina pun begitu, sedangkan Gani terperosok tetapi ponconya tersangkut di salah satu ranting pohon sehingga dia tidak bisa turun. Lalu kami melanjutkan naik ke punggungan yang curam dan licin, untuk menaikinya sangatlah sulit dan tanah mengotori pakaian kami. Akhirnya kami sampai juga dipunggungan, kami melanjutkan perjalanan. Singkat cerita sampai lah kita pada sadelan yang dituju pada pukul 04.47 sore dan disana kami menemukan peta Rancaunpas, bekas perapian dan tulisan di tanah yang bertuliskan SUBUR. Karena sudah agak gelap dan batas pergerakan pukul 04.00 sore, kami memutuskan untuk beristirahat dan mendirikan camp disana. Tidak lama kemudian tim PPS tiba di camp kami, kami berbincang, dan bertemu kangen. Kami membuat perapian yang lebih besar. Masak dan makan pukul 19.43. Setelah itu kami laporan pada basecome dan menentukan pergerakan esok hari. Malam semakin larut, kami bergegas tidur untuk kegiatan esok.

Hari keempat di Rancaupas atau hari ketiga pencarian Subur, Tim PPS dan Tim Kontribusyi digabung menjadi satu kesatuan, team leader kami hari ini adalah Gani. Kami bangun pukul 06.00 pagi, sarapan, dan packing. Pukul 08.35 kami mulai pergerakan dengan tipe ina7pencarian open grid dan mengikuti sudut kompas 165 derajat. Baru sebentar kami melakukan pergerakan, pukul 09.25 kami dikabarkan basecom untuk menghentikan pergerakan karena adanya tentara yang latihan menembak, pas sekali di belakang basecom, jadi kami harus menunggu instruksi selanjutnya. Sambil menunggu, kami berbincang-bincang tentang apa saja sembari memakan gula merah. Ega yang memisahkan diri dari kelompok ternyata memakan mie instan mentah sendirian. Beberapa saat kemudian, tepatnya pukul 10.53 kami melanjutkan pergerakan atas izin basecom. Lagi-lagi kami harus mendaki gunung lewati lembah yang curam, terkena duri, dan ada yang terperosok, hati-hati sob! Pukul 12.00 siang sampailah kami pada tempat yang landai dan beristirahat untuk minum dan memakan camilan. Kami sudah agak putus asa karena tidak ada lagi persediaan air minum, seorang hanya mendapatkan jatah minum seteguk, roti tawar dari Gani, susu sachet dari Hani dan kami menyisakan sebotol air untuk diberikan ketika bertemu survivor. 12.46 setelah selesai beristirahat, kami melanjutkan pencarian dengan memanggil nama survivor. ina8Tiba-tiba ada suara sayup-sayup teriak “Toloooong!” kami langsung semangat meskipun lapar dan dahaga mendera. Kami cari sumber suara darimana dan akhirnya, kami menemukan Subur Alexander pukul 12.50 siang. Dia terjerembab di lembahan karena lompat-lompat sehingga kaki sebelah kanan, dengkulnya retak. Saya bertugas untuk mengajak bicara mang Subur agar tetap terjaga kesadarannya dan memberikan makanan serta minuman. Sedangkan yang lain ada yang membuat minuman seduh, memberikan jaket, memasangkan kaos kaki agar Subur tidak kedinginan, membebat kaki, membuka jalur, dan membuat tandu. Akhirnya Subur dapat kami evakuasi pukul 02.00 siang.

 

Jungle Survival

Setelah berhasil menyelamatkan Subur, kami berjalan mengikuti pembimbing. Di dataran yang cukup landai dan agak luas kami berbaris. Firasat buruk saudara-saudara. Benar saja, perbekalan makanan kami disita, kami harus melalui tahap akhir dari mabim gunung hutan, yaitu jungle survival. Kami belum sempat makan siang sewaktu istirahat tadi. Baiklah, kami harus segera membuat bivak alam individu karena hari semakin gelap. Saya mulai menebang pohon pisang, batang pohon, dan daun pakis. Waktu itu saya membuat bivak alam berbentuk gawang. Saudara kami, menemukan udang di sungai. Kami akhirnya memasak udang, memang tidak banyak dan masih agak benyek. Tapi lapar tak tertahankan, jadi kami santap saja udangnya. Selain itu kami juga dapat jantung pisang, tapi tidak tahu cara masaknya sehingga masih berasa getah dan sangat tidak enak. Untung saja tempat bivak kami dekat dengan sungai, sehingga kami tidak kehausan.

Malam pun tiba, kami dikumpulkan untuk mendapatkan materi membuat full body harness dan bagaimana cara tidur kalong. Tidur kalong ini bermanfaat agar saat kita berada di gunung atau hutan yang masih banyak hewan liar, saat kami tidur, hewan tersebut tidak bisa menggapai badan kami. Kami diberikan waktu 30 menit, percaya lah 5 menit pun terasa satu jam. Badan pegal-pegal, kaki kram, kesemutan, naik pohon pun sulit karena pohonnya berlumut sehingga harus dibantu pembimbing. Akhirnya 30 menit berlalu. Selesai materi, kami semua tidur.

Selamat datang hari kelima. Selamat pagi, alhamdulilah ini hari terakhir kami di gunung hutan Rancaupas dan masih bisa menghirup udara pegunungan yang sejuk di pagi hari, meskipun dengan perut krucuk-krucuk. Kami bangun, membersihkan diri ke sungai, lalu mencari bahan makanan. Kali ini kami banyak mendapatkan gebok pisang dan udang. Selesai makan, kami mendapatkan materi cara mencari makanan di hutan, praktek sebentar. Setelah itu kami diinstruksikan untuk packing dan memakai baju besi serta atribut gunung hutan. Tiba-tiba ada suara memanggil kami, sebenarnya kami sudah tahu kalau akan diberikan makanan, tapi kura-kura dalam perahu biar terlihat mengejutkan. Akhirnya kami makan makanan yang telah dimasakkan oleh pembimbing yang baik hati, setelah kenyang, kami melakukan pergerakan sampai warung untuk menunggu angkot datang. Kurang lebih 3 jam perjalanan pulang, kami tiba di sekretariat SAR Unpad tercinta dengan selamat.

ina10 ina9

CATATAN PERJALANAN

MABIM GUNUNG HUTAN

AM SAR XXIII

15 – 20 Agustus 2013

Kawasan Bumi Perkemahan Rancaupas, Ciwidey, Jawa Barat

15 Agustus 2013

Berdasarkan hasil konsolidasi, pada malam hari ini diagendakan sebagai jadwal keberangkatan ke Medan Operasi Gunung Hutan dalam rangka kegiatan mabim kami para anggota muda. Berat sekali rasanya meninggalkan rumah dan keluarga untuk melakukan kegiatan di hari liburan yang masih suasana lebaran, tapi setelah kami semua berkumpul timbul rasa semangat untuk melakukan kegiatan ini bersama-sama. Pada sore hari, Saya, Ina, dan Dito berkumpul dulu di apartemen Ina sekaligus mengecek logistik yang harus dibawa selama berkegiatan. Selama bersiap-siap disana, timbul keraguan kami untuk berangkat mengikuti mabim atau tidak, kemudian kami sempat sepakat untuk tidak usah ikut namun tetap saja kami melanjutkan packing dan berangkat untuk berkumpul  di Sekre. Sesampainya kami bertiga di sekre, ternyata angkot yang disewa telah menunggu daritadi lalu kami semua yang akan berangkat memasukan carrier kami ke dalam angkot. Sebelum berangkat kami briefing dulu dengan para AB dan juga teman kami yang berhalangan untuk mengikuti kegiatan mabim ini. Sedih juga rasanya karena kami tidak dapat mengikuti mabim ini dengan anggota yang lengkap. Setelah berdoa, kami semua pun berangkat.

16 Agustus 2013

Kami sampai di tempat perkemahan sekitar jam satu pagi, suasana dingin sekali namun tidak menghalangi semangat kami untuk mendirikan tenda agar segera beristirahat, namun sebelumnya diadakan briefing untuk kegiatan pagi hari. Saat pagi, kegiatan diawali dengan binjas agar kami fit selama melakukan pergerakan. Setelah itu kami sarapan berkelompok, ternyata disekitar camp kami terdapat penjaja nasi bungkus kami sempat menyesal kenapa memasak tapi akhirnya kami membeli nasi tersebut untuk makan siang agar dapat menghemat waktu istirahat. Selesai makan, kami berganti pakaian mengenakan baju besi dan syal. Kemudian, kami berkelompok mulai melakukan plotting koordinat awal dan tujuan akhir pada peta untuk melakukan navigasi darat. Kami mendapat koordinat awal 764.375-210.340 dan titik finish 764.400-211.750. Ina bertugas sebagai tim leader. Setelah semua kelompok melakukan plotting dan packing, kami semua berjalan menuju ke daerah dalam gunung hutan tersebut. Kemudian, Kang Ardi dan Kang Bayu mereview kembali materi navigasi darat dan komunikasi lapangan. Kami juga dijelaskan mengenai fungsi dan penggunaan perangkat komlap yang dibawa saat itu seperti antena hi-gain, larsen, HT. Setelah itu, kami semua bekerja sama untuk memasang antena hi-gain. Lalu, kami tiap kelompok briefing kembali untuk menentukan pergerakan dari awal menuju titik akhir. Saya sekelompok dengan Ina dan Dito bernama tim tiga botol didampingi oleh Kang Bayu. Kelompok dua, beranggotakan Tika, Danang, dan Ega sementara kelompok satu beranggotakan Carmel, Hani, dan Iqbal. Kami memutuskan untuk melakukan pergerakan awal naik ke punggungan. Kami juga sering kesulitan untuk membayangkan kontur di peta dengan tempat sesungguhnya. Setiap satu jam sekali, kami bergantian melapor pergerakan yang telah dilakukan pada basekom. Kami melewati perkebunan dan sempat juga bertanya pada warga sekitar. Kami bertanya nama gunung yang berada di dekat kami untuk memastikan keberadaan dan kebenaran jalan yang kami pilih. Sekitar pukul setengah dua siang, kami beristirahat sejenak untuk makan cemilan sambil menunggu waktu untuk melapor ke basekom. Setelah laporan, kami melanjutkan perjalanan dan kembali menaiki punggungan. Salah satu alasan kami untuk menyusuri punggungan adalah agar mudah untuk orientasi medan. Kemudian, kami sampai ke titik akhir dengan koordinat 764.400-211.750, setelah orientasi medan pun ternyata keberadaan kami pun cocok dengan koordinat yang diberikan. Lalu, kami laporan pada basekom dan makan. Punggungan tempat tujuan akhir kami tempatnya tidak luas dan jalan sedikit pun langsung turun lagi ke lembahan.

 karin1 karin2 karin3

Setelah cukup lama kami beristirahat, kami pun melanjutkan pergerakan untuk kembali ke basecamp. Kami turun ke bawah dengan membuka jalan baru, turunannya cukup curam sehingga kami sering merosot ke bawah dan banyak tanah yang amblas. Kemudian kami kembali melewati kebun yang kami lewati juga saat perjalanan awal. Hari pun mulai gelap, kami sempat disorientasi dan bingung harus kemana. Dari pihak basekom juga terus menghubungi kami karena tinggal kelompok kami yang belum sampai, kami juga bingung menjelaskan keberadaan kami dimana karena kami merasa didaerah yang sudah dekat. Tak lama, akhirnya kami dapat kembali ke jalan yang benar ke arah basecamp. Sampai disitu, teman-teman kami sedang bersenda gurau dipinggir perapian. Lalu, kami semua masak makanan malam dan makan. Setelah itu diadakan evaluasi kegiatan baik dari kami sendiri tiap kelompok maupun AB yang mendampingi kami selama navdar. Kemudian dilanjutkan dengan briefing kegiatan besok yaitu ESAR, kami semua yang tadinya terbagi atas tiga kelompok dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu bernama tim PPS (Para Pencari Survivor/Para Pencari Subur) beranggotakan Carmel, Hani, Ega, dan Iqbal. Kelompok dua bernama tim KONTRIBUSYI beranggotakan Saya, Ina, Tika, Danang, dan Dito. Teman kami satu lagi yaitu Ghani berencana menyusul, jika Ghani datang maka ia akan bergabung di tim PPS. Keterangan yang didapat yaitu, survivor bernama Subur Alexander. Setelah dibacakan kronologi yang baru didapat mengenai hilangnya dan ciri-ciri survivor, kami semua masing-masing memberikan pendapat mengenai kemungkinan posisi survivor berada dalam koordinat yang mana. Setelah itu kami semua beristirahat di dalam tenda flysheet yang telah kami buat.

17 Agustus 2013

Pagi hari, kami sempat melakukan pemanasan. Setelah itu sarapan, ganti pakaian, dan packing. Kemudian briefing lagi mengenai keterangan yang baru ditemukan mengenai survivor. Kami merencanakan MPP dan memutuskan arah pergerakan. Sebelum berangkat, kami foto baik masing-masing tim maupun bergabung. Setelah itu, kami memulai perjalanan. Kami memulai perjalanan menuju arah luar, namun tidak melewati gerbang karena takut diminta uang masuk. Di tim Kontribusyi, Danang sebagai tim leader, Tika notulensi, Ina pemasang marker, Saya dan Dito sebagai compass man. Saat berjalan keluar, banyak orang melihat kami dengan muka bingung karena ada apa siang bolong jalan bersama-sama pakaian seragam, memakai peralatan navigasi, dan carrier. Kami tergiur melihat berbagai jajanan yang terdapat di pinggir kolam, akhirnya Danang dan Dito yang membeli batagor. Kami menggunakan tipe pencarian hestic karena kami belum menemukan satupun barang/jejak peninggalan survivor. Kami naik ke punggungan, sempat juga menanyakan ke warga sekitar mengenai nama gunung yang berada di sekeliling kita. Pada pukul 12.01 kami menemukan sumber air, kami langsung orientasi medan untuk menentukan koordinat peta. Tak lama kemudian, kami melihat 3 ekor monyet loncat-loncat antar pohon yang sangat tinggi. Setelah itu kami melihat sebuah bukit yang mirip Bukit Telletubies. Sekitar jam setengah satu, kami beristirahat di sebuah lembahan. Kami beristirahat cukup lama, hampir dua jam. Kemudian kami laporan keberadaan kami di koordinat 763.250-211.700.

karin4 karin9 karin8 karin7 karin6 karin5

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan naik ke punggungan. Baru sekitar setengah jam perjalanan, turunlah hujan deras dan kami  masih melanjutkan perjalanan karena jalannya juga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat beristirahat. Setelah itu, kami menemukan tempat yang agak landai. Kami langsung berbagi tugas, ada yang memasang shelter dan membuat api. Hujan juga masih turun deras, sementara kami belum sampai ditujuan. Kami pun memutuskan untuk bermalam disitu, apalagi ada instruksi pergerakan diberhentikan pukul 16.00 dan kami khawatir tidak menemukan tempat yang landai lagi untuk beristirahat jika terus melanjutkan perjalanan. Sinyal di daerah yang kami tempati agak susah sehingga harus berjalan agak turun ke arah lembahan untuk mendapatkan sinyal. Kami juga langsung masak makan malam, membuat perapian, dan air hangat. Kami semua menghangatkan diri di perapian. Pada pukul 20.00, tim leader kami Danang standby untuk laporan ke basekom. Saat laporan, kami bergantian untuk melapor baik pergerakan, keadaan, dan kondisi saat itu. Namun, kami dihukum untuk push up dua seri karena tidak dapat mencapai target tujuan. Suara kami juga harus kencang agar terdengar di HT, Danang push up dengan direkam dan dekat dengan api. Setelah laporan, kami semua pun kembali beristirahat.

18 Agustus 2013

Pada pagi hari, setelah kami semua bangun kami langsung packing dan masak karena diinstruksikan untuk mempercepat pergerakan agar target yan diintruksikan pada hari pertama dapat tercapai dan survivor dapat ditemukan. Dito ternyata merasa badannya kurang sehat dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Danang pun laporan kepada basekom, dan tidak lama datang Kang Aseng dan Kang Yanwar untuk menjemput Dito. Setelah sarapan, kami  melanjutkan perjalanan sekitar pukul 09.00 didampingi Kang Aseng. Jalan yang kami pilih agak mengarah turun namun berdasar peta dengan jalan tersebut kami akan menemukan punggungan yang mengarah pada Puncak Cadaspanjang. Kang Aseng merasa jalan yang kami pilih terlalu lama dan lebih jauh, sehingga ia menginstruksikan untuk kembali ke jalan awal mulai dari camp dan memilih jalan yang lebih cepat langsung mengarah ke punggungan. Tidak lama, kami bertemu dengan Ghani yang ternyata jadi menyusul dan bergabung pada tim kami. Sekitar pukul 10.15 kami menemukan bekas perapian dan bungkus segel aqua dengan koordinat 762.690-211.300. Lalu, kami melanjutkan perjalanan pada pukul 10.50 kami sampai di Puncak Cadaspanjang. Disitu kami menemukan bekas perapian. Setelah itu, kami kembali melakukan orientasi medan untuk meyakinkan tempat kami adalah tempat yang benar dan juga menentukan pergerakan selanjutnya. Dari situ kami dapat melihat Puncakan 2020, dan Bukit Ounine. Pada pukul 11.44 kami kembali melakukan pergerakan ke arah Gn. Kolotok dengan arah sudut 30 derajat dengan guide jalan setapak. Kami terus melakukan pergerakan, lama kelamaan pergerakan kami mengarah ke lembahan. Disitu kami menemukan bivak alam yang lumayan besar dan terlihat seperti belum lama dibuat . Kami sempat meneruskan perjalanan dan menemukan jejak kaki yang lumayan besar, setelah berjalan namun terasa janggal karena terus menyusuri lembahan. Kami memutuskan untuk kembali ke tempat tadi kami menemukan bivak alam. Kami sempat beristirahat untuk minum dan menentukan pergerakan selanjutnya lagipula diluar sudah turun hujan. Kang Aseng dan Kang Aziz Amin pun datang, mereka memberitahu kami bahwa ada informasi bahwa ada warga yang mendengar suara survivor dari daerah punggungan. Pada pukul 13.58, kami memutuskan melanjutkan pergerakan dengan sudut 50 derajat dengan titik koordinat 763.312-211.888. Kami kembali naik ke punggungan, baru jalan sedikit kami menemukan bungkus mie instan yang termasuk juga dengan petunjuk yang dibawa survivor. Kami melakukan pergerakan dengan tipe close grid, karena kami telah menemukan barang yang berhubungan dengan survivor. Medan yang kami lalui cukup curam dan licin. Saat harus naik ke atas, kami saling membantu untuk menarik agar kami semua dapat naik ke atas. Ternyata tempat yang Saya, Danang, dan Ghani hadapi lebih curam dibanding Tika dan Ina apalagi mereka berdua masih menggunakan rain coat sementara kami bertiga tidak, jadi pakaian dan carrier kami bertiga sangatlah kotor. Kami terus melanjutkan perjalanan, dan tanpa disadari ternyata daritadi ada Kang Aziz Amin yang kami tidak sadar datang darimana dan masih bersih sementara kami telah kotor-kotoran. Setelah lama berjalan dan sepertinya kami berjalan terus arah kebawah, Kang Aziz memberitau kami jalan agar sampai lebih cepat. Kami terus berjalan dan sekitar jam setengah lima sore saat sampai disebuah puncakan yang landai kami menemukan bekas perapian, peta, dan tulisan “SUBUR” kami pun diinstruksikan untuk beristirahat disitu. Kami pun diberitau bahwa tim PPS akan menuju posisi kami, terdengar suara tim PPS yang berteriak untuk memberitaukan keberadaan mereka. Kemudian tim PPS pun berhasil sampai di tempat yang sama dengan kami. Kami semua diinstruksikan untuk makan malam, membuat perapian, dan beristirahat. Saat malam pun laporan tiap kelompok dan masing-masing anggotanya juga memberikan laporan. Pihak basekom juga menanyakan pada kami semua untuk rencana pergerakan selanjutnya dan basekom menentukan untuk pencarian besok hari tim PPS dan Kontribusyi digabung dengan tim leader Ghani. Kami semua bersorak kencang sekali. Setelah itu kami semua tidur, namun tiba-tiba terdengar suara Tika mengigau mengatakan hal yang ia tidak sadari dan terdengar suara tim PPS yang tertawa kencang sekali saat mendengar Tika mengigau padahal camp kami dengan tim PPS terpisah.

19 Agustus 2013

Pada pagi hari, setelah semua bangun kami langsung berbagi tugas ada yang membereskan flysheet ada juga yang memasak dan memasang marker. Sekitar jam delapan basekom menghubungi kami untuk memulai pergerakan dengan sudut 165 derajat. Namun, kami semua tidak langsung bergerak karena menunggu rekan kami yaitu Danang dan Carmel yang sedang buang air. Ghani sang Tim Leader membagi kami tugas, Iqbal dan Danang memasang ribbon, Carmel memasang marker, Hani notulensi, sisanya menjadi compass man. Kami pun melakukan pergerakan dengan tipe close grid. Baru sebentar kami berjalan, basekom menghubungi menanyakan posisi kami dan untuk tetap disitu apalagi terdengar suara-suara tembakan, kemungkinan sedang ada tentara/polisi yang sedang berlatih. Kami juga takut jika tetap melanjutkan perjalanan malah kami yang tertembak. Sekitar lima belas menit kemudian, basekom menghubungi untuk mengganti sudut pergerakan menjadi 205 derajat namun masih diinstruksikan untuk belum memulai pergerakan. Sambil menunggu, kami semua mengobrol-ngobrol dari yang jelas sampai gak jelas sampai membicarakan rencana liburan ke pantai juga. Sekitar jam sebelas siang, basekom kembali menghubungi dan menginstruksikan memulai pergerakan namun tetap di sudut 165 derajat. Perjalanan pun kembali dilanjutkan, menebas pohon yang menghalangi pergerakan sambil meneriaki nama survivor “Subur Alexander”. Medan yang dilalui jg cukup curam, kami sempat berjalan menurun lalu naik lagi ke sebuah punggungan. Pada pukul 12.00, kami istirahat sekaligus orientasi medan. Persediaan air yang menipis membuat kami harus berhemat-hemat dan kami juga hanya diperbolehkan istirahat sebentar jadi tidak mungkin untuk memasak terlebih dahulu. Kami pun packing kembali untuk melanjutkan pergerakan, saat diteriakkan nama survivor terdengar suara orang menjawab dengan kata ‘tolong…tolong’ kami semua langsung berjalan sambil meneriakkan nama survivor karena suaranya tidak jauh dari tempat kami beristirahat. Pada pukul 12.50 survivor “Subur Alexander” ditemukan dalam keadaan telentang didekat pohon, lutut kaki kanannya cedera. Kami memastikan bahwa survivor tersebut sesuai dengan survivor yang kami cari. Saya dan Tika langsung membuat tandu. Carmel dan Hani membuat bidai pada kaki survivor. Ina memasak dan mengajak survivor untuk terus berbicara agar tetap dalam kondisi sadar. Sementara yang laki-laki membuka dan mencari jalur untuk evakuasi. Pada pukul 14.00 evakuasi dilakukan, para laki-laki mengangkat tandu. Latihan Operasi “Subur Alexander” pun ditutup. Kang Aseng yang berperan sebagai survivor pun turun dari tandu.

Setelah materi ESAR selesai, kami mengira akan langsung pulang ternyata kami masih ada materi Jungle Survival. Rasanya seperti tarik ulur, sempat senang karena ESAR selesai dan ingin segera kembali ke jatinangor untuk mandi namun ternyata masih ada materi survival. Kami disuruh mengeluarkan barang dalam carrier, ya barang seperti matras, alat masak, dan perbekalan dikumpulkan. Beberapa diantara kami mencoba curi-curi untuk menyimpan makanan namun tetap saja ketauan, kecuali seseorang yang beruntung tidak ketahuan menyimpan jasjus rasa strawberry. Setelah itu, kami membuat bivak alam individu. Kami masing-masing mulai mencari daun-daun, kayu, daun pakis untuk membuat bivak dan juga kayu untuk perapian. Saya membuat bivak alam berbentuk gawang yang menurut saya pas sekali untuk saya sendiri, bivak saya bersebelahan langsung dengan bivak Ina dan Ghani. Saat malam, kami yang perempuan masak bersama sementara yang laki-laki berusaha membuat perapian. Kami memasak jantung pisang, udang kecil-kecil, dan ada beberapa pakis. Masakan kami, ya bisa dibilang sangat sangat pas-pasan untuk bersembilan namun daripada kami tidak makan sama sekali jadi ya syukurin aja. Setelah makan, para kolat mengunjungi dan mengecek kondisi bivak alam kami. Lalu, kami semua termasuk para kolat menuju tempat yang agak lapang dalam keadaan memakai baju tidur dan membawa webbing. Dan ternyata dugaan kami benar, kami akan diajarkan untuk tidur kalong. Kami diajarkan Kang Kiddy membuat full-body harness dari webbing, kemudian diperagakan cara tidur kalong. Setelah itu, kami masing-masing mencari pohon untuk mempraktekan tidur kalong tersebut. Peraturannya, saat sampai diatas harus tidur dan setiap setengah jam dibangunkan. Jika ketauan tidak tidur maka akan diberi hukuman. Saya memilih pohon yang diameternya tidak terlalu besar, namun saya sadari ternyata dibawahnya terdapat daun tereptet semua jadi ya perih -.- dan batang pohonnya berlumut. Saya mencoba naik ke atas, namun naiknya tidak terlalu jauh dan beberapa kali juga jatuh lagi ke bawah baru akhirnya dibantu kolat untuk naik lebih tinggi lagi. Lalu saat dinyatakan ketinggiannya sudah cukup, saya berusaha tidur. Namun akhirnya hanya menutup mata saja tidak bisa tidur pulas, lagipula masih ada beberapa teman saya yang belum bisa naik ke atas. Setelah beberapa lama diatas, pinggang mulai berasa pegal dan kaki keram. Lama kelamaan kaki hingga lutut mulai mati rasa selama tidur kalong. Tidur kalong ini bagi saya pribadi adalah ilmu baru yang menarik meskipun jangan sampai harus melakukan dan mengalami hal ini dalam keadaan nyata tapi tidak ada salahnya untuk menambah wawasan dan skill. Setelah diperbolehkan untuk turun, saya pun turun masih dalam keadaan kaki lutut mati rasa. Sampai dibawah pun tidak terlalu terasa kalau kaki saya menginjak tereptet, kemudian saya langsung duduk meluruskan kaki dan rileks karena pegal-pegal. Setelah semuanya turun, kami diperbolehkan untuk beristirahat. Kami kembali ke camp langsung beristirahat, namun ada beberapa yang tetap berusaha membuat perapian. Kami juga sempat bercanda jika besok ternyata belum pulang juga kami akan kabur hahaha ya memang suka timbul ide aneh-aneh tapi tetap saja kami setia disitu untuk menerima materi :D

20 Agustus 2012

Sekitar jam 5 pagi, saya tiba-tiba terbangun karena mendengar suara Ina tertawa, ternyata Ina hanya mengigau tapi ketawanya kencang sekali apalagi bivak kami bersebelahan makanya saya langsung bangun ketika mendengarnya lalu tidur lagi. Saya merasa hangat dan nyenyak sekali tidur di dalam bivak alam saya, meskipun hanya berselimut sarung bag. Setelah semua bangun, kami yang perempuan langsung mencari bahan makanan, awalnya kami berburu udang kecil-kecil di sekitar mata air dekat camp setelah dapat agak banyak kami melanjutkan mencari bahan makanan lain seperti pakis, jantung pisang, dan gedebong pisang. Beberapa ada yang membuat perapian, Ghani dan Kang Aseng berburu udang kecil-kecil dan dapat banyak sekali. Kami memasak semua yang kami dapat, dan menurut saya makanan yang kami masak enak dibanding yang kemarin dan juga lebih mengenyangkan. Setelah semua makan, lanjut materi yang diberikan oleh Kang Bayu. Materi yang diajarkan merupakan komponen penting dalam survival, yaitu Makanan, Air, Api, Shelter, dan juga cara  membuat Trap. Saat materi makanan, kami masing-masing diberi waktu 10 menit berpencar mencari tumbuhan yang bisa dimakan. Esensi dari kegiatan tersebut bukanlah makanan yang didapat, tapi merasakan menjadi survivor yang bergerak sendirian mencari makanan. Melakukan pergerakan sendirian  di tempat yang bukan zona nyaman kita menimbulkan rasa takut, khawatir, waswas dan bingung. Setelah semua materi tersampaikan, kami kembali packing dan mengenakan baju besi dan syal. Tidak lama, terdengar suara peluit dan teriakan “DANRU CEPAT DANRU” yang membuat kami tertawa-tawa teringat saat diklat. Mungkin karena kami terlalu lama bersiap-siap sehingga para AB yang mendatangi camp kami. Kami semua beserta para AB pun meninggalkan camp kami dan menuju camp para AB. Saat sampai disana, ternyata sudah ada makanan yang disiapkan untuk kami. Kami semua makan dengan lahap dan kalap, ya maklum saja namanya juga habis survival. Setelah kami semua packing lagi barang-barang yang diambil sebelum survival, kami semua termasuk para AB jalan menuju keluar daerah gunhut. Perjalanannya juga lumayan lama. Sampai diluar, kami langsung menuju kamar mandi. Ternyata angkot yang sudah dijanjikan untuk mengantar kami kembali ke Jatinangor belum dihubungi untuk menjemput karena tidak ada sinyal. Akhirnya, angkot tersebut baru di telfon jadi kami menunggu agak lama. Dari yang awalnya kami semua bercerita-cerita bersama sambil menunggu, sampai akhirnya sepi lagi karena sebagian pergi ke kantin untuk makan, lalu ramai lagi, barulah angkot yang ditunggu datang. Sebelumnya kami sempat berfoto-foto dari berbagai sudut hingga berbagai gaya dengan membawa bendera merah putih. Setelah itu, kami semua langsung memasukkan carrier ke dalam angkot dan naik ke dalam, sebagian pulang naik motor. Selama perjalanan kami semua tertidur, namun tiba-tiba Danang membangunkan untuk menyuruh kita melepas syal karena pada hari itu Persib akan bertanding di kandang sendiri. Jalanan terlihat ramai sekali dan padat, banyak juga orang-orang di jalan bingung melihat kami di dalam angkot ya mungkin mereka bingung mengapa kita pakai baju sama semua dan angkot dipenuhi tas. Sempat juga Saya dengar ada sekelompok anak kecil yang berteriak “woy sahur woy bangun” karena pada saat itu terlihat kami semua di dalam sedang tertidur. Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Jatinangor. Lapangan kopma ramai sekali karena ada briefing para panitia untuk student day besok. Tidak lama kami beres-beres, kami semua langsung pulang karena besok harus datang pagi untuk meramaikan Student Day di Gor Jati.

Karina Meninta

AM 006

2 Agustus 2013, hari di bulan Ramadhan ini menjadi hari dengan pemandangan cukup unik dan menarik yang patut kami saksikan.

Acara ini sengaja kami adakan sebagai ajang silaturahmi dan berbagi rezeki, baik itu rezeki materil, waktu, senyuman serta kebahagian.

Acara berlangsung di Panti Asuhan Bani Solihin yang berlokasi di kawasan Cibiru.

Acara dimulai sekitar pukul 17.30, yang dimulai dengan sambutan dari barikade yang dibuat oleh para anak-anak, dan kami pun disalaminya satu-satu, lucunyaa…

IMG_4567

Lalu anak-anak pun mulai duduk dengan rapi, dan acara dilanjutkan dengan sambutan dari pengelola Panti. Tak cukup lama, acaranya pun dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah dan langsung dilanjutkan ke buka puasa bersama.

IMG_4625

Terlihat senyuman mereka yang tanpa beban mengisyaratkan kebahagiaan yang terpancar dari mereka, menjadi bentuk dari rasa syukur mereka akan hidup ini.

IMG_4599

Acara dilanjutkan dengan sharing dari pengelola panti dan sambutan dari KDP Unit SAR Unpad

IMG_4638 IMG_4656

Dan diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan secara simbolis kepada pengelola panti.

IMG_4668

Disini kami lebih belajar untuk mensyukuri hidup, dimana anak-anak ini mampu survive dalam kehidupan yang mungkin kurang beruntung dibandingkan kita.

Disini pula kita mengaplikasikan “Jiwa Kemanusiaan” yang telah akang-teteh tanamkan pada kami saat pendidikan,

IMG_4621Rasulullah SAW Bersabda : “Saya dan orang yang memelihara anak yatim (dengan baik) ada di sorga seperti ini~ seraya beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan beliau rentangkan kedua jari itu”

IMG_4699

Semoga selamatlah semesta ini beserta manusianya dan alamnya.

Avignam Jagad Samagram – Selamatlah Alam Semesta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.