Category: Materi


Para penggiat alam dalam melakukan suatu perjalanan dialam terbuka memiliki beberapa tujuan yang berbeda-beda. Semisal tujuan tersebut untuk eklplorasi, penelitian, survey atau hanya sekedar untuk berekreasi. Dalam kegiatan dialam terbuka, sebelum melakukan perjalanan perlu dipersiapkan dengan baik, mengingat kondisi dan situasi dialam terbuka apabila tidak diketahui dengan baik akan  menghadapkan para penggiat alam dalam keadaan yang membahayakan mereka. Berbagai macam perjalanan yang dilakukan hendaknya tidak berkesan amatiran. Dengan kata lain bahwa suatu perjalanan adalah suatu kegiatan yang memerlukan perencanaan yang matang.

Planning  atau perencanaan adalah proses pemikiran ( intelektual ) atas dasar suatu input yang ada digunakan untuk penentuan tindakan atau langkah – langkah yang akan dilakukan dimasa datang berorientasi pada tujuan yang efektif dan efisien. Ada rumusan umum yang digunakan sebagai berikut :

  1. Where (Dimana)

Untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, Contoh: Operasi SAR di Gunung Gede.

  1. Who (Siapa)

Apakah anda akan melakukan Kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Contoh: Satu Kelompok ( 25 Personil) Terdiri dari 5 Orang panitia dan 20 Orang peserta.

  1. Why (Mengapa)

Ini adalah pertanyaan yang cukup panjang dan bisa bermacam-macam jawaban. Contoh : Untuk melakukan DIKLAT SAR dan kegiatan lain.

  1. When (Kapan)

Kapan waktu pelaksanaan Kegiatan tersebut, berapa lama kegiatan tersebut? Contoh: 24 Januari 2011 sampai dengan 27 Januari 2011.

  1. Untuk How/Bagaimana

Merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :

  • Bagaimana kondisi Tempat
  • Bagaimana cuaca disana
  • Bagaimana perizinannya
  • Bagaimana mendapatkan air
  • dan masih banyak hal lain yang menjadi pertimbangan dalam perencanaan perjalanan.

Dari Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun Rencana Kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :

  1. Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
  2. Pengurusan perizinan
  3. Pembagian tugas
  4. Penyusunan rencana kegiatan
  5. Perencanaan kebutuhan peralatan, perlengkapan dan transportasi dan lain sebagainya.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya dari hasil perincian tersebut, akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.

 

Perlengkapan dan Perbekalan

Dalam melakukan kegiatan dialam terbuka, perencanaan perlengkapan dan perbekalan menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam kegiatan. Dalam merencanakannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni :

  1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi (Hutan, Rawa, Tebing, dll.)
  2. Menentukan tujuan perjalanan (Latihan, Penjelajahan, Operasi SAR)
  3. Lamanya perjalanan
  4. Kemampuan fisik untuk membawa perlengkapan dan perbekalan
  5. Memperhatikan hal-hal yang khusus. (misal, obat-obatan tertentu).

Dalam melakukan kegiatan dialam terbuka, perlengkapan dan perbekalan dapat dikelompokan kedalam beberapa kategori, antara lain :

  1. Perlengkapan Dasar

-          Perlengkapan untuk pergerakan.

-          Perlengkapan untuk memasak, makan dan minum.

-          Perlengkapan untuk MCK.

-          Perlengkapan pribadi

  1. Perlengkapan khusus yang disesuaikan dengan perjalanan, semisal.

-          Perlengkapan pendakian tebing seperti, tali, carabiner, piton, ascender, dan sebagainya.

-          Perlengkapan penyusuran sungai seperti, perahu, dayung, pelampung dan sebagainya,

  1. Perlengkapan tambahan

-          Perlengkapan tambahan, merupakan perlengkapan yang dapat dibawa atau tidak, semisal semir, sikat sepatu, dan lainnya.

Sebelum melakukan kegiatan, dalam mempersiapkan perlengkapan untuk kegiatan agar lebih baik, sebaiknya disusun terlebih dahulu tabel atau list perlengkapan.

Perlengkapan Dasar Medan Gunung Hutan

1)      Sepatu

  • Mempunyai kegunaan sesuai dengan kebutuhan perjalanan.
  • Sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki
  • Harus kuat untuk pemakaian yang berat
  • Melindungi telapak kaki sampai mata kaki
  • Kulit tebal, tidak mudah sobek
  • Lunak bagian dalam, masih memberikan ruang bagi gerak kaki
  • Keras bagian depannya, untuk melindungi jari kaki (tidak dianjurkan memakai sepatu pekerja tambang, yang bagian depan sepatu sangat keras karena dilapisi dengan besi, selain berat juga akan merusak jari kaki jika ada perubahan suhu)
  • Bentuk sol bawahnya harus dapat menggigit tanah ke segala arah dan cukup kuat.
  • Ada lubang ventilasi, yang bersekat halus sehingga air dan udara lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.

2)      Kaos Kaki

  • menyerap keringat.
  • Melindungi kulit kaki dari pergesekan dengan kulit sepatu.
  • Menjaga agar kulit kita tetap dapat bernafas.
  • Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah yang dingin.

3)      Celana Lapangan

  • Kuat, lembut
  • Ringan
  • Tidak mengganggu gerakan kaki, jahitannya cukup longgar
  • Praktis
  • Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
  • Mudah kering, bila basah tidak menambah berat
  • Bahan celana yang terbuat dari katun cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan duri, mudah kering.

4)      Baju Lapangan

  • Melindungi tubuh dari kondisi seikitar
  • Kuat
  • Ringan
  • Tidak mengganggu pergerakan
  • Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
  • Praktis
  • Mudah kering

5)      Topi Lapangan

  • Melindungi kepala dari kemungkinan akibat duri
  • Melindungi kepala dari hujan, terutama kepala bagian belakang.
  • Harus kuat dan tidak mudah robek, untuk medan gunung hutan dianjurkan memakai topi rimba.

6)      Sarung Tangan Lapangan

  • Sebaiknya terbuat dari kulit
  • Bentuknya sesuai dengan tangan kita
  • Tidak kaku, artinya tidak menghalangi gerakan tangan.

7)      Ikat Pinggang

Pilihlah yang terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala yang tidak terlalu besar tetapi teguh. Selain menjaga agar celana tidak kendur, juga untuk meletakan alat-alat yang perlu cepat dijangkau seperti pisau pinggang, tempat air minum, tempat alat-alat P3K, dll.

 

8)      Ransel / Carrier

  • Ringan, Sejauh mungkin tidak merupakan tambahan beban yang berlebihan, terbuat dari bahan yang water proof.
  • Kuat, harus mampu membawa beban dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, zippernya cukup kokoh, dsb.
  • Nyaman dipakai, dianjurkan agar memakai ransel yang mempunyai rangka, agar berat beban merata dan seimbang. Selain itu juga membuat kenyamanan karena adanya ventilasi antara tubuh/punggung dengan ransel.
  • Praktis, kantung-kantung tambahan serta pembagian ruangan akan memudahkan untuk mengambil barang-barang tertentu.

9)      Peralatan navigasi

Kompas, peta, protaktor, busur derajat, pensil, dll.

10)  Lampu Senter

  • Dengan bola lampu dan baterai cadangan

11)  Peluit

  • Peluit yang tidak berbola

12)  Pisau

  • Pisau saku serbaguna (multi blade) seperti Victorinox
  • Pisau pinggang
  • §  Golok tebas

13)  Peralatan Tidur

  • Satu set pakaian tidur
  • Kaus kaki untuk tidur
  •  Sleeping bag
  •  Matras
  • Tenda/ponco/flysheet untuk bivak

14)  Perlengkapan Masak dan Makan

  • Alat-alat makan
  • Alat pembuat api (lilin, spirtus, dll)
  • Kantung air / tempat air

Perencanaan Perbekalan

Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  1. Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
  2. Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
  3. Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal, sering hujan, dsb)

Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perjalanan:

  • Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
  • Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
  • Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama
  • irit air dan bahan bakar.
  • Ringan, mudah didapat
  • Murah

Menyusun Perlengkapan dan Perbekalan Ke Dalam Ransel/Carrier (Packing)

Dalam penyusunan, yang menjadi dasar adalah keseimbangan beban, bagaimana kita menumpukan berat beban pada tubuh sedemikian rupa sehingga kaki dapat bekerja secara efisien. Dalam batas-batas tertentu, rangka yang dimiliki oleh ransel banyak memberikan kenyamanan. Rangka ini membuat posisi tubuh lebih menyenangkan saat menggendong beban. Namun bagaimanapun desain ransel yang dimiliki akan sedikit artinya apabila anda tidak mampu menyusun barang-barang anda dengan baik.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam packing :

  • Tempatkan barang-barang yang lebih berat paling atas dan sedekat mungkin dengan badan. Barang-barang yang relatif lebih ringan (sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan di bagian bawah.
  • Letakkan barang-barang yang sewaktu-waktu diperlukan pada bagian paling atas atau pada kantong luar ransel (ponco, alat P3K, kamera, dll)
  • Kelompokkan barang-barang sesuai fungsinya dan masukkan ke dalam kantong-kantong plastik atau wadah yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur/ cadangan, pakaian dalam, kertas-kertas.
  • Matras tidur yang dimasukan kedalam ransel dapat membantu mempertahankan bentuk ransel dan mempermudah penyusunan barang kedalam ransel, sehingga tampak rapih dan efisien.

Buatlah check list dari semua perlengkapan. Kalau mungkin dengan beratnya agar dapat dengan mudah menyusunnya.

 

WATER RESCUE

WATER RESCUE

Di Indonesia bencana seperti banjir sering sekali terjadi. Oleh karena itu sebagai salah satu potensi SAR di Indonesia harus bisa menanggulanginya. Untuk bisa meminimalisir korban kita harus mempunyai materidan pengetahuan tentang SAR. Salah satu dari banyak materi tentang SAR yang harus dipelajari adalah WATER RESCUE. Dengan semakin banyaknya potensi-potensi SAR yang berkompeten maka kita dapat meminimalisir korban sesedikit mungkin.

Water Rescue merupakan salah satu teknik pertolongan yang dilakukan di air.  Atau suatu tindakan penyelamatan secara efektif dan efisien, jika manusia dan segala sesuatu yang berharga berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan di air.

Banjir

Banjir adalah bencana alam yang diakibatkan meluapnya aliran sungai disebabkan curah hujan yang tinggi sehingga volume air yang masuk ke dalam sungai tidak dapat tertampung dan merendam lngkungan sekitarnya.

Banjir Bandang

Banjir bandang adalah bencana banjir yang disertai dengan ikutnya material-material seperti batu, tanah, kayu-kayu besar dan bongkahan-bongkahan benda lainnya.

Langkah-langkah dasar Water Rescue :

  1. Perhitungan dan pertimbangan

Kemampuan penolong untuk memilih dan menentukan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki, serta  metode yang harus dilakukan. Penolong akan lebih mudah memilih prosedur pertolongna yang paling cepat dengan resiko yang sangat kecil.

  1. Pengetahuan

Banyk bahaya-bahaya di air, pengetahuan ini sangat perlu karena dapat diterapkan setiap langkah usaha pertolongan.

  1. Keahlian seorang petugas

Di air harus mempunyai keahlian pada semua aspek pertolongan.

  1. Kesiapan Fisik

Sebagai seorang penyelamatkejadian di air semua pengetahuan, keterampilan dan kemampuan lain yang dipunyai, maka tinggal pertanyaan mampukah melakukan dengan keadaan sesungguhnya dimana jiwa  seseorang dalam bahaya. Keempat komponen di atas harus dimiliki oleh seorang rescuer yang selalu siap dalam memberikan pertolongan guna menyelamatkan jiwa.

Perlengkapan dalam Water Rescue :

  1. Perahu : perahu dalam pemgarungan haruslah aman dari benturan dan abrasi serta mudah dikendalikan.
  2. Pompa : berfungsi untuk memasukkan udara ke dalam perahu. Pompa dibagi dalam pompa kaki dan pompa tangan.
  3. Repair Kit : terdiri dari lem, benang, nylon, jarum jahit, dan bahan penambal.
  4. Rescue rope : berfungsi untuk menolong anggota tim yang terjatuh ke sungai dan dapat berguna juga dalam linning dan scouting. Tali terbuat dari bahan nylon dengan warna mencolok agar dapat terlihat oleh korban, mempunyai daya apung yang tinggi.
  5. Dry bag : kantong ini berguna untuk menyimpan kaera, obat-obatan, makanan dan benda-benda lain agar tidak basah.
  6. Carabiner : terbuat dari alumunium alloy, berguna untuk menghubungkan satua alat dengan alat lainnya. Misalnya untuk mengaitkan throw bag pada D-ring (cincin metal berbentuk D yang menempel pada perahu)
  7. Dayung : berguna dalam manuver, mengatur gerakan perahu. Biasanya terbuat dari ka, alumunium, fiberglass. Bagian dari dayung terdiri dari gagang tangkai (T-Grip), tangkal dayung dan bilah (blade)
  8. Helm : penutup kepala berguna untuk melindungi kepala bagian ning, pelipis, telinga, dan kepala bagian belakang dan benturan. Terbuat dari bahan yang tidak mudah pecah dan memiliki lubang-lubang kecil di atasnya.
  9. Jaket pelampung : berguna untuk mengapungkan tubuh, melindungi tubuh dari dingin dan bagian tubuh yang penting.
  10. Peluit : digunakan untuk membantu pemberitahuan kode bahaya tertentu.

Jenis-jenis Perahu :

  1. Perahu karet

Perahu yang terbentuk dari tabung udara dan terbuat dari karet berserat. Dlam tabung terdapat sekat-sekat yang berbentuk ruangan yang terpisah, sehingga jika bocor maka yang lain tidak terpegaruhdan perahu masih bisa mengambang.

  1. Landing Craft Rubber (LCR)

Perahu berbentuk seperti tapak kudda dan bagian belakang terdapat kayu.

  1. River Boat

Perahu berbentuk oval khusus untuk mengarungi arus deras.

  1. Kayak

Perahu dengan bentuk lancip pada bagian depan dan belakang

Cara masuk ke air :

  • Slide in entry

Digunakan jika kedalaman sungai atau perairan tidak diketahui. Cara yang paling aman:

  • Buat posisi seaman mungkin di tepi air dan masukkan salah satu kaki
  • Rasakan pijakan kaki apakah berbahaya atau tidak
  • Jatuhkan badan dan tahan berat badan dengan tangan
  • Step In

Dapat digunakan jika air jernih, kedalaman dapat dikeyahui dan tidak ada benda berbahaya di dalam air.

  • Lihat arah tujuan air
  • Melangkah dengan hati-hati
  • Ketika masuk air pastikan lutut menekuk atau kaki menyentuh bokong
  • Compact Jump

Digunakan untuk mencapai kedalaman yang lebih dari 1 meter.

  • Letakkan kedua tangan menyikap dada
  • Melangkah pada tepian air dengan satu kaki, kaki yang lain dan pastikan kedua kaki menyentuh dasar
  • Tubuh vertikal dan memakai pelindung’
  • Setelah di dalam air pengereman dapat dilakukan oleh kaki atau tangan
  • Staddle Entry

Digunakan jika masuk ke air yang dalam dari krtinggian yang rendah dan dapat melihat korban. Teknik ini tidak digunakan pada ketinggian diatas satu meter atau perairan dangkal.

  • Ambil jarak yang cukup dari tepian
  • Lakukan loncatan dengan satu kaki lurus dan kaki lainnya sedikit ditekuk
  • Tangan lurus ke samping
  • Pandangan lurus ke depan
  • Swallow Dive

Digunakan pada yang jernih, keadaan di bawah air dapat dilihat dan kedalaman diketahui.

  • Berdiri di tepian lihat ke bawah dan ke depan untuk menentukan arah lompatan
  • Tekuk lutut dan gunakan tyangan untuk membantu meneambah momentum ke depan.
  • Lakukan lompatan sejauh mungkin ke air
  • Masuk dengan hamper horizontal dengan permukaan air
  • Kaki dan tangan diluruskan
  • Jaga kepala di antara dua tangan dan mata melihat ke air
  • Mulailah berenang dengan menunaikan kepala ke permukaan

Penyelamatan dengan berenang mendekati korban :

  • Kalau sudah dekat dengan korban, usahakan jangan sampai dipegang oleh korban.
  • Berhenti beberapa meter dari korban dan peringatkan dia bahwa anda akan menolongnya.
  • Kalau korban pingsan, setelah pingsan, histeris gunakan pendekatan terhadap korban.

Menolong korban yang terjebak di tengah kepungan air:

  •  Melakukan penyelamatan secara langsung selama kondisi air dapat dilewati dengan banyak.
  •  Menggunakan sistem tali dengan teknik drag untuk menyelamatkan korban.

Type of Shelter

Beach Shade Shelter

Belowground Desert Shelter

Debris Hut

field-expedient lean-to and fire reflector


No-Pole Parachute


one-man shelter


one-pole parachute tepee


open desert shelter


parachute hammock


ponco lean-to


ponco tent using overhanging branch


ponco tent with a frame


swamp bed


three-pole parachute tepee


tree-pit snow shelter


Dalam tahun 1955 dengan PP No. 5 Tahun 1955 oleh Presiden telah ditentukan satuan DEWAN PENERBANGAN. Untuk melaksanakan tugasnya dewan tersebut diberi wewenang membentuk panitia teknis diantaranya panitia pencari dan pemberi pertolongan atau panitia SAR dengan tugas:

  1. Pembentukan Badan Gabungan SAR.
  2. Regional Centra.
  3. Anggaran pembiayaan dan materil.

Pada tahun 1989 panitia SAR tersebut dianggap tidak sesuai lagi dengan dengan keadaan atau situasi dan kondisi pada saat itu, sehingga oleh beberapa pejabat dari penerbangan sipil dan militer (ABRI) usaha ini tidak tercapai karena beberapa hal, diantaranya:

  1. Tidak tersedia anggaran dan materil.
  2. Perubahan politik dalam negri.
  3. Perubahan dalam organisasi pemerintah.

Sejak tahun 1950 negara kita sudah menjadi anggota ICAO (International Civil Aviation Organitation) dan pada tahun 1966 dengan Keppres No. 203 tahun 1966 negara kita juga telah terdaftar sebagai anggota ICMO (Intergovernmental Maritime Consultative Organization). Dengan demikian diharapkan negara Indonesia memiliki organisasi SAR Nasional yang mampu menangani berbagai musibah nasional maupun internasional. Akan tetapi nampaknya hal tersebut belum dapat diwujudkan.

Hingga tahun 1968 baik instansi militer maupun sipil sesungguhnya telah memiliki peralatan, sarana dan sistim komunikasi yang dapat digunakan untuk pelaksanaan operasi SAR. Beberapa kegiatan SAR pun telah pula dilakukan, namun kenyataannya banyak kecelakaan-kecelakaan baik penerbangan maupun pelayaran yang telah terjadi di negara kita belum pernah mendapat pertolongan secara cepat dan tepat. Hal itu dikarenakan setiap instansi yang berpotensi SAR dalam melakukan pertolongan masih secara masing-masing dan tidak terkoordinasikan sama sekali, sehingga tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Menyadari akan hal tersebut, para pejabat dari beberapa instansi merasa terpanggil kembali untuk bersepakat membentuk organisasi SAR Nasional yang terkoordinir dibawah satu komando. Dalam usaha ke arah realisasi yang dimaksud dan disebabkan karena keadaan yang sudah sangat mendesak, maka dikeluarkan surat keputusan Menteri  Perhubungan No. T.20/I/2-U tentang ditetapkannya Tim SAR lokal Jakarta yang tugas pembentukannya diserahkan kepada perhubungan udara.

Dengan adanya permintaan bantuan SAR dari daerah-daerah kepada tim pekerja penyusun SAR lokal Jakarta serta telah diadakannya beberapa operasi SAR secara konkrit oleh tim tersebut, maka organisasi SAR lokal jakarta tersebut boleh dikatakan merupakan langkah pertama kearah pengisian Badan SAR Nasional.

Sejak tahun 1968 SAR di Indonesia adalah merupakan salah satu dari proyek-proyek yang tercakup dalam South East Asia Coordinating Committe on Transport and Communication. Dimana SAR menjadi “Umbrella Project” untuk negara-negara Asia Tenggara. Sehubungan dengan hal itulah maka telah datang suatu Team Expert yang dikirim oleh Amerika Serikat untuk mengadakan survey di Indonesia yang bertujuan untuk:

  1. Mengumpulkan dan mempelajari data-data serta informasi dari semua fasilitas yang dapat untuk keperluan SAR.
  2. Membantu penyempurnaan atau peningkatan SAR di Indonesia dalam segala aspek.
  3. Meningkatkan koordinasi SAR dengan negara-negara tetangga.

Peralatan SAR di Indonesia telah mendapatkan perhatian dari beberapa negara, sehingga negara-negara tersebut bermaksud untuk menjadi pemrakarsa atau ingin membantu pembentukan SAR di Indonesia atau di negara-negara asia tenggara.

Dengan berkembangnya teknologi maju dan karena luasnya wilayah di Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan lautan yang sangat luas serta meningkatnya penggunaan pesawat terbang dan kapal laut, maka banyak negara di luar Indonesia mengharapkan adanya jaminan keselamatan bagi penerbangan dan pelayaran di Indonesia. Sebagai anggota ICAO dan IMCO diharapkan organisasi SAR di Indonesia benar-benar berfungsi secara sempurna.

Sebagai negara maritim, Indonesia berkewajiban untuk dapat menyelenggarakan kegiatan pencarian dan pertolongan kepada siapapun yang terkena musibah di wilayahnya dan bahkan jika mungkin di daerah tertentu di lautan bebas atau yang meliputi daerah yang belum diketahui. Untuk itulah maka sewajarnya Indonesia sebagai anggota ICAO harus membentuk organisasi SAR Nasional atau jika tidak maka harus bergabung dengan organisasi SAR yang dibentuk negara lain.

Sebagaimana telah diuraikan di atas tentang Team Expert yang dikirim Amerika Serikat, mereka itu adalah “Search And Rescue Study Team” dari United State Coast Guard yang mengadakan survey dari tanggal 5 Juni sampai dengan 8 Juli 1969. Team tersebut telah membuat “Preliminary Recomendations” yang pokok-pokoknya sebagai berikut:

  1. Perlu adanya “agreement” antara departemen-departemen yang memiliki fasilitas dan peralatan SAR.
  2. Harus ada hubungan yang cepat dan tepat antara pusat-pusat koordinasi dengan “Primary and Secondary SAR Facilites”, dalam jaringan hubungan ini teleprinter circuit.
  3. Controllers” yang berpengalaman supaya diberi pendidikan formil pada salah satu “SAR School” dan di antara mereka supaya ada yang menjadi instruktur.
  4. Radio Navigation Aids” yang penting supaya dilayani secara terus-menerus, sedangkan bagi yang kurang penting supaya diperjanjang jadwal dan jam kerjanya.

Dalam pelaksanaan survey, SAR Study Team tersebut didampingi oleh Counter Part dari Indonesia yang terdiri dari Pejabat Tim Indonesia berpendapat bahwa dalam bidang:

  1. Organisasi instansi-instansi militer dan sipil yang memiliki potensi SAR sudah mempunyai satuan/unsur yang mampu untuk membantu kegiatan SAR.

Yang diperlukan adalah terhimpunnya satuan-satuan tersebut dalam suatu wadah/organisasi dengan satu sistem SAR yang baik.

  1. Komunikasi utuk keperluan masing-masing instansi tersebut telah memiliki jaringan komunikasi yang cukup baik, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan SAR. Dalam hal ini diperlukan adanay pengaturan terhadap semua jaringan yang ada untuk jaringan khusus SAR dan prosedur pengaturannya.
  2. Personalia untuk penangan masalah-masalah SAR yang dimiliki oleh semua instansi yang berpotensi SAR pada umumnya belum memiliki pengetahuan SAR secara khusus dan belum terlatih untuk kegiatan SAR.
  3. Peralatan yang dimiliki oleh instansi-instansi berpotensi SAR belum semuanya mempunyai sifat khusus untuk keperluan operasi SAR dan tidak ada keseragaman/standanya, walalupun seluruhnya bisa digunakan dalam keadaan yang darurat.

Setelah sekian lama Indonesia menjajaki permasalahan SAR tersebut dan mengingat bahwa keadaan geografis Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang memiliki wilayah perairan yang luas serta menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera sehingga mengakibatkan padatnya jalur transportasi, maka dirasakan sekali perunya segera membentuk SAR Nasional untuk menjamin kestabilan negara baik dari segi ekonomis maupun keamanannya terutama dalam kaitannya dengan dunia SAR Internasional.

Indonesia telah sekian lama mematuhi hukum-hukum dan peraturan-peraturan internasional di bidan SAR seperti SOLAS dan ICAO, maka berdasarkan segala pertimbangan sebagaiman telah diruaikan di atas, pada tahun 1972 mulai terbentuk suatu organisasi SAR Nasional dengan nama Badan Search And Rescue Indonesia disingkat BASARI yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1972 yang diketuai oleh Menteri Perhubungan.

Tinjauan Historis dari Segi Organisasi

Seperti kita ketahui bersama bahwa BASARI baru dibentuk dalam tahun 1972, tepatnya tanggal 28 Februari 1972 yang berarti dalam pertengahan Pelita-I. Baru pada tanggal 20 Juni 1972 ditunjuk seorang Kepala Pusat Koordinasi SAR (PUSARNAS) sebagai pelaksana operasi SAR.

Pada kenyataannya pembentukan BASARI pada saat itu sampai dengan bulan Agustus 1975 baru berupa surat keputusan saja, pengisian dari ketentuan-ketentua dalam surat keputusan masih harus disusun. Pengisian yang dimaksud meliputi PUSARNAS sebagai Badan Pelaksana Operasional SAR sampai ke Eselon Pelaksana di Daerah yaitu Pusat Koordinasi Rescue (PKR) dan Sub Koordinasi Rescue (SKR). Juga pengadaan personil untuk mengisi jabata-jabatan pokok dan penyelsaian tugas-tugas adminsitratif yang semuanya itu harus dilaksanakan bersamaan dengan tugas-tugas operasional SAR.

Betapa pelan jalannya proses penanganan organisasi SAR Nasional ini, baru pada tanggal 16 Agustus 1975 Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara menyetujui naskahnya. Dan pada tanggal 2 desember 1975 organisasi SAR Nasional dengan nama Pusat SAR Nasional dibakukan keberadaannya didalam keputusan Menteri Perhubungan No. KN.415/Phb-75.

Pelita I telah lewat dan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas apapun bagi perkembangan SAR Nasional pada saat itu. Bahkan untuk mendukung kegiatan rutinpun baru pertengahan tahun 1974 menerima DIK dan untuk memulai meningkatkan kemampuan SAR Nasional di bidang fasilitas dan peralatan kantor. Pembenahan gedung atau kantor paling tidak dapat memenuhi persyaratan minimal dan pelebaran sayap operasional SAR ke wilayahan atau daerah yang dimulai membangun gedung atau kantor KKR. PUSARNAS baru mendapatkan DIP mulai tahun anggaran 1975-1976 atau Pelita II tahun kedua.

Organisasi SAR di Indonesia sampai dengan Pelita II tahun kedua masih sangat terbelakang ditinjau dari kemampuan SAR di dunia pada umumnya. Sementara itu penerbangan, pelayaran, dan teknologi maju baik yang berkaitan dengan penerbangan, pelayaran, maupun bidang SAR berkembang terus dengan cepat. Agar tidak tertinggal lebih jauh, maka kemampuan SAR Nasional harus selekasnya digalang, dipelihara, dan ditingkatkan sampai minimal mencapai kemampuan yang sesuai dengan “recommended practices and international standard”.

Penggalangan kemampuan SAR meliputi 3 aspek, yaitu:

  1. Sebelum operasiSAR.
  2. Selama operasi SAR.
  3. Setelah operasi SAR.

Disamping pembagian dalam tiga aspek tersebut, perlu ditanamkan doktrin SAR kepada mereka yang akan memberikan atau menyediakan jasa SAR maupun kepada mereka yang memerlukan jasa SAR melalui penerangan-penerangan, penyuluhan, pendidikan dan latihan.

Berhasilnya operasi SAR antara lain juga tergantung kepada kecakapan korban untuk tetap bisa hidup (The Ability To Survival).

Berdasarkan pada tiga aspek SAR tersebut, maka perlu didirikan sekolah SAR dan Survival Nasional. Crew pesawat dan personil lainnya (para Rescue, para medis, scuba diver, volounteer) yang akan ditugaskan dalam operasi SAR harus paham dan mahir dalam SAR dan Survival untuk bisa mencari dan menolong serta menyelamatkan.

Kemahiran sangat perlu agar operasi SAR bisa berdaya guna dan berhasil guna tanpa membahayakan keselamatan si korban maupun si penyelamat itu sendiri.

Pengetahuan teori dan keterampilan dalam praktek harus secara kontunyu dipelihara dan secara periodik di tes. Bagi crew dan para petugas  lapangan sangat perlu diberi SAR dan SURVIVAL Training secara kontinyu dengan menggunakan kesempatan yang ada.

Tolak ukur keberhasilan pengalaman lemempuan SAR pada dasarnya terletek pada berfungsinya 5 komponen SAR secara mantap dalam suatu sistem. Kelima komponen tersebut adalah:

  1. Organisasi
  2. Fasilitas
  3. Komunikasi
  4. Penanggulangn gawat darurat
  5. Dokumentasi

Dengan organisasi yang efisien dan dengan peralatan yang sesuai, maka SAR nasional tidak hanya menjamin peningkatan ekonomi saja, tetapi juga membuktikan kesungguhan dan kemampuan Indonesia untuk menempati “ International obligation “, yaitu tidak hanya mampu menolong jiwa manusia tetapi juga mampu menyelamatkan harta dan barang yang dikhawatirkan hilang sebagai akibat musibah dalam penerbangan atau pelayaran.

Semenjak SAR nasional menerima/mengelola anggaran sendiri baik melalui DIK maupun DIP telah menempuh kebijaksanaan organisasi sebagai berikut:

  1. organisasi harus disesuaikan dengan ketentuan pemerintah atas dasar peranan dan tugas yang diberikan kepada SAR nasional. Disamping kecakapan teknis dan operasional, perlu ditanamkan juga pengertian management. Untuk menjamin efisiensi kerja dan mencegah pemborosan uang, material, dan waktu yang biasanya selalu dirasakan kurang, sedangkan dari organisasi dituntut output yang tinggi.
  2. Dalam bidang operasional terutama KKR dan SKR didaerah susunan organisasinya disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan ICAO atau pusat-pusat koordinasi yang sudah lajim dan mengingat bahwa SAR Nasional Indonesia meliputi aeronautical dan maritme SAR. Masalah organisasi KKR dan SKR ini sangat penting mengingat hampir semua musibah yang memerlukan penanganan SAR terjadinya di daerah.
  3. Untuk seluruh wilayah Indonesia hanya ada satu nasional SAR manual yang berlaku. Materinya akan disusun dan kemudian perlu disetujui oleh semua departemen, yang unsur-unsur SAR nya dikoordinir dalam SAR nasional. Dengan demikian akan diperoleh satu kesatuan bahasa dan satu kesatuan tindak.

Untuk mengisi jabatan-jabatan dialam organisasi SAR Nasional yang waktu itu berstatus sebagai PUSARNAS, PKR dan SKR telah mendapat persetujuan dengan pihak  HANKAM untuk menggunakan personil Angkatan dan Polri secara penugas karyaan dan perbantuan serta sebagian diambil dari sub sektor perhubungan.

Namun hingga sekarang yang dapat di realisasikan baru jabatan-jabatan di organisasi pusat saja., sedangkan pejabat di KKR dan SKR masih merupakan pinjaman dari sub sektor perhubungan udara dan laut sebagai tugas rangkap.

Masalah inilah yang masih digarap terus sejak berakhirnya pelita kedua hingga sekarang yang belum juga dapat diatasi.

Penyebab utamanya ialah bahwa untuk jabatan-jabatan di KKR dan SKR tersebut, baik yang berstatus eselon tiga maupun empat diperlukan kwalifikasi tertentu. Pengadaan secara werping untuk menduduki jabatan tersebut tidak mungkin, sedangkan dengan sistem alih tugas antar sub sektoral dilingkungan Departemen Perhubungan sulit ditempuh diakibatkan dengan kwalifikasi dan fasilitas yang harus ditempuh.

Kerja sama regional antar negara-negara ASEAN dibidang SAR hingga sekarang meliputi:

  1. agremeent for fasilitation of search and Aircraft in Distress and Rescue of Survivors of Aircraft Accidents.
  2. Meeting of Expert for the establishment of ASEAN Combined Operation Againts Natural Disasters.

Namun semua negara ASEAN belum meratifikasi perjanjian tersebut. Pelaksanaan teknis dari perjanjian tersebut belum diadakan perinciannya yang diterangkan ke dalam perjanjian-perjanjian tersendiri. Walaupun dalam suatu operasi SAR yang menyangkut wilayah lebih dari satu negara, negara-negara yang bersangkutan akan memberi pertolongan. Tetapi perlu diadakan perjanjian tentang berbagai prosedur dan luasnya ruang lingkup kerja sama tersebut. Berhubung inter state procedures ini belum ada, maka perlu diadakan pembicaraan-pembicaraan dan kunjungan-kunjungan timbal balik antar negara anggota ASEAN.

Secara fungsional operasi SAR pada dasarnya tidak mencakup kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan bencana alam. Akan tetapi SAR menyediakan fasilitas dan unit-unitnya untuk membantu operasi-operasi dalam memberikan bantuan pada korban bencana alam. Untuk masalah ini telah diadakan pembicaraan, penjajagan dengan Sekretaris Nasional ASEAN mengenai prosedur permintaan bantuan dari negara tetangga, karena bencana adalah urusan nasional dari negara yang bersangkutan. Untuk penanganan musibah-musibah bencana alam di Indonesia, SAR Nasional telah dilibatkan kedalam Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam ( Bakornas PBA ) sebagai anggota atas penunjukan Menteri Perhubungan sesuai dengan keputusan Presiden nomor 28 tahun 1979.

Khusus masalah SAR antara Indonesia dan Malaysia telah ada kerja sama di bidang latihan SAR yang disebut Latsar Malindo. Namun kegiatan tersebut tidak berkaitan dengan kerja sama regional di bidang SAR antar negara-negara ASEAN tetapi kaitannya pada General Border Comittee ( kerja sama dibidang perbatasan ) yang pada staf Planning Comittee-nya salah satu kelompoknya menyangkut masalah SAR perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Pada kelompok inilah SAR Nasional dilibatkan langsung atas penunjukan Menteri Hankam/Pangab selaku ketua General Border Comittee.

Pengertian Musibah & Bencana

 

Musibah adalah malapetaka yang dialami / dihadapi secara tiba-tiba oleh orang atau sekelompok orang karena sebab-sebab yang tak terelakkan, yang dapat menimbulkan korban jiwa, penderitaan dan kerugian material maupun spiritual.

Bencana adalah terjadinya kerusakan pada pola-pola kehidupan normal, bersifat merugikan manusia, struktur sosial serta munculnya kebutuhan masyarakat.

Jenis-jenis Bencana :

a.    Alam        : Gempa bumi, tsunami, gunung api meletus, banjir, tanah longsor, epidemi, angin topan, kekeringan

b.    Manusia  : Kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, kecelakaan transportasi, kegagalan teknologi, kerusuhan / konflik sosial

Dampak Bencana :

  1. Korban jiwa
  2. Kerusakan fisik
  3. Hilangnya harta benda dan pekerjaan
  4. Hilangnya tempat tinggal
  5. Pengungsian
  6. Gangguan kejiwaan

Manajemen Penanggulangan Bencana & Penanganan Pengungsi

 

Penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi merupakan kegiatan yang saling kait-mengkait tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Setiap kejadian bencana selalu membawa ekses / akibat yang beragam termasuk timbulnya eksodus / pengungsian korban bencana. Untuk itu perlu upaya pengaturan bagaimana penanganan korban bencana sekaligus untuk merencanakan tindakan preventif, kuratif dan kegiatan yang bersifat rehabilitatif.

  1. 1.        Sebelum
  1. Pencegahan Bencana : Upaya meniadakan dan mengurangi bencana
  1. Mitigasi : Upaya mengurangi dan meniadakan korban bencana
  1. Kewaspadaan Menghadapi Bencana : Kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan tindakan
  1. 2.        Selama / Sesaat
  1. Tanggap Darurat : Upaya pencarian, penyelamatan dan pertolongan korban secepat mungkin (Operasi Bantuan SAR)
  1. 3.        Sesudah
  1. Rehabilitasi : Upaya pemulihan korban dan sarananya termasuk pemulihan perekonomian dan sarana transportasi dan komunikasi
  1. Rekonstruksi : Membangun kembali daerah yang mungkin rawan bencana supaya tahan terhadap bencana

Penyelenggaraan Operasi Bantuan SAR Dalam Bencana

 

1.    Pendahuluan

Kejadian bencana karena fenomena alam dapat terjadi sewaktu-waktu. Kejadian bencana tersebut ada yang dapat diramalkan dan ada pula yang terjadi secara mendadak / tiba-tiba tanda terduga. Kerusakan yang terjadi karena bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, tsunami, dan lain-lain akan berakibat pada bagian-bagian tertentu pada sektor kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan terganggu.

Penanggulangan kejadian bencana dalam skala besar akan dipengaruhi oleh :

  1. Keterbatasan atau keterlambatan dalam pengerahan sumber daya untuk menanggulangi, komunikasi, angkutan dan dukungan kebutuhan hidup darurat korban
  1. Terisolasinya korban dari jangkauan bantuan

Kedua hal ini sangat mempengaruhi ‘respons time’ dari organisasi penanggulangan bencana untuk menyiapkan bantuan penanggulangan hingga sampai ke daerah bencana. Hal ini berakibat pada penanggulangan awal setelah bencana terjadi mungkin saja bisa lebih dari 3 hari. Hal ini mengisyaratkan bahwa kesiapan masyarakat untuk dapat menolong diri sendiri mereka pada saat awal bencana sangat diperlukan.

2.    Episode Setelah Kejadian Bencana

Episode kegiatan setelah kejadian bencana meliputi kegiatan-kegiatan :

  1. Search and Rescue
  2. Penilaian awal, yang secara bertahap menjadi penilaian rinci
  3. Bantuan darurat terhadap korban yang meliputi bantuan medik, makanan/minuman, obat-obatan, evakuasi, penampungan dan lain-lain yang erat kaitannya dengan kehidupan dan penghidupan korban bencana
  4. Rehabilitasi dan rekonstruksi

Tenaga-tenaga penanggulangan bencana setelah kejadian bencana dapat dikategorikan dalam :

  1. Internal masyarakat yang etrtimpa bencana
  2. Masyarakat tetangga wilayah yang tertimpa bencana
  3. Satlak/Satkorlak PBP
  4. Tenaga-tenaga profesional yang diperbantukan yang akan datang kemudian

Ditinjau dari segi tenaga penanggulangan setelah kejadian bencana, maka masyarakat di daerah rawan bencana perlu disiapkan untuk sewaktu-waktu menghadapi kejadian bencana. Kesiapan itu dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan yang teratur dan terarah sesuai denganjenis bencana yang mungkin terjadi di daerah tersebut.

3.    Search and Rescue

Fungsi pencarian dan pertolongan / penyelamatan terdiri dari 2 (dua) kegiatan, yaitu

  1. Kegiatan pencarian. Memeriksa (tempat, daerah, lokasi, dll) secara teliti dalam rangka menemukan korban yang hilang
  2. Kegiatan penyelamatan. Membebaskan atau memindahkan korban ke tempat yang lebih aman

Sasaran Search and Rescue adalah untuk :

  1. Adanya kemampuan rescue bagi para rescuer (penyelamat) untuk penyelamatan korban
  2. Menyelamatkan korban sebanyak mungkin dalm waktu relatif singkat
  3. Menyelamatkan korban yang terperangkap sesuai urutan prioritas (mulai dari yang ringan – berat)

Kegiatan penyelamatan dilakukan dengan syarat bahwa keselamatan rescuer adalah hal yang paling utama. Karena bila hal ini kurang diperhatikan kemungkinan korban akan bertambah. Untuk meminimalkan faktor resiko yang akan dihadapi oleh penolong maka perlu adanya Perencanaan. Untuk menghindari pekerjaan yang terburu-buru, maka keputusan untuk melakukan rescue didasarkan pada 2 (dua) faktor yaitu :

  1. Resiko yang dihadapi
  2. Sasaran rescue secara menyeluruh

Sumber daya Search and Rescue terdiri dari 3 (tiga) komponen yaitu :

  1. Rescuer (personil terlatih dan sukarelawan)
  2. Peralatan bantu kerja
  3. Waktu, waktu akan sangat berharga bagi jiwa korban seperti “golden hour” atau “golden day” dimana korban yang terperangkap atau terluka memiliki 80 % kesempatan untuk hidup bila segera ditolong

Dalam kejadian bencana ketiga sumber di atas mungkin sangat terbatas. Untuk memanfaatkan waktu yang terbatas tim rescue dapat memanfaatkan waktu tersebut dengan :

  1. Perencanaan (mengembangkan rencana tindak berdasarkan kemungkinan keadaan Search and Rescue)
  2. Memperhatikan dengan baik “scene size up” dari keadaan lapangan
  3. Benar-benar memperhatikan keselamatan rescuer

Langkah-langkah dalam “scene size up”

  1. Mengumpulkan data di lapangan
  2. Menilai keadaan bahaya
  3. Menentukan sumberdaya
  4. Menentukan prioritas rescuer
  5. Mengemabngkan rencana rescue
  6. Melaksanakan rescue
  7. Mengevaluasi kemajuan kegiatan rescue

Setiap langkah di atas perlu didukung dengan informasi tentang keadaan kritis yang akurat untuk melaksanakan kegiatan SAR.

4.    Aturan-aturan Keselamatan

Beberapa yang harus diperhatikan adalah :

  1. Bekerja dalam “buddy pair”  atau berpasangan
  2. Perhatikan selalu kondisi yang membahayakan rescuer seperti benda-benda tajam
  3. Gunakan selalu APD/ alat perlindungan diri
  4. Pergantian tim / shift

5.    Evakuasi

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam evakuasi adalah :

  1. Menentukan kebutuhan. Apakah perlu dilakukan evakuasi total atau sebagian
  2. Tentukan daerah realokasi
  3. Komunikasi. Komunikasikan dengan korban perlunya mereka dievakuasi
  4. Rencanakan route pokok evakuasi dan route alternatifnya
  5. Laporkan hasil evakuasi

6.    Teknik Pertolongan

 

Pertolongan terhadap korban harus dilakukan sesuai dengan aturan medis, dalam hal ini pengetahuan dan keterampilan “medical first response” perlu dibekalkan kepada rescuer.

7.    Teknik Pemindahan Korban

Pemindahan korban dapat dilakukan dengan teknik :

  1. Emergensi
  2. Non emergensi

Teknik ini diberikan sebagai bagian dari pelajaran medical first response

8.    Teknik Pencarian

 

Keterampilan teknik pencarian sangat tergantung pada jenis bencana dan kondisi lokasi kejadian, seperti teknik pencarian dia air, di bangunan runtuh, di gunung/hutan dan lain-lain. Teknik pencarian merupakan keterampilan yang harus dilatih secara bertahap, bertingkat dan berlanjut sehingga dapat dicapai hasil yang optimal.

Medical First Responder

Adalah Penolong yang pertama kali tiba di lokasi kejadian, yang memiliki kemampuan medis dalam penanganan kasus gawat darurat, yang  terlatih untuk tingkat paling dasar

Kewajiban MFR

  1. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, korban dan orang – orang di sekitar
  2. Menjangkau korban
  3. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam jiwa
  4. Meminta bantuan
  5. Memberikan pertolongan pertama berdasarkan keadaan korban
  6. Membantu pelaku pertolongan lainnya
  7. Ikut menjaga kerahasiaan medis korban
  8. Berkomunikasi dengan petugas lain yang terlibat
  9. Mempersiapkan penderita untuk ditransport ke tempat pelayanan medis

Kualitas MFR

  1. Tanggung jawab
  2. Kemampuan bersosialisasi
  3. Kejujuran
  4. Kebanggaan (higiene, seragam, pendidikan)
  5. Kematangan emosi
  6. Berlaku profesional
  7. Kondisi fisik baik
  8. Kemampuan nyata terukur

Peralatan Dasar MFR

  1. Sarung tangan
  2. Kacamata pelindung
  3. Baju pelindung
  4. Masker penolong
  5. Masker CPR/RJP

Perlindungan Diri

Dasar pemikirannya adalah semua darah dan cairan yang keluar dari tubuh korban bersifat menular sehingga perlu untuk perlindungan terhadap tubuh penolong sebagai upaya preventif.

Beberapa tindakan umum untuk menjaga diri adalah :

  1. Mencuci tangan
  2. Membersihkan alat
  • Membersihkan : hanya menghilangkan bekas atau noda saja
  • Disinfektan : memakai bahan pembunuh kuman
  • Sterilisasi : proses khusus untuk menjadi bebas kuman

3. Memakai APD
Anatomi Manusia

Secara global tubuh manusia dibagi menjadi 4 bagian utama :

  1. Kepala (Cranium)
  2. Leher
  3. Batang Tubuh (togok)
  4. Alat Gerak (Ekstrimitas)

Penilaian / Pemerikasaan Korban

Penilaian keadaan (scene assessment) :

  • Bagaimana kondisi saat itu
  • Apakah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi
  • Bagaimana mengatasinya

Lokasi

Pada saat tiba di lokasi kejadian seorang MFR harus :

  1. Memastikan keselamatannya (termasuk pemakaian APD)
  2. Memastikan keselamatan penderita
  3. Menentukan keadaan / kesan umum kejadian (mekanisme cedera) dan mulai melakukan penilaian dini pada korban (bila sadar) perkenalkan diri
  4. Mengenali dan mengatasi cedera / gangguan yang mengancam jiwa
  5. Stabilkan dan teruskan pemantauan penderita

Perkenalkan diri

  1. Nama dan organisasi
  2. Kemampuan menolong
  3. Ijin untuk menolong

Sumber Informasi Langsung

  1. Kejadian itu sendiri
  2. Penderita (bila sadar)
  3. Keluarga atau saksi
  4. Mekanisme kecelakaan
  5. Perubahan bentuk yang nyata atau cedera yang jelas
  6. Gejala dan tanda yang spesifik suatu cedera atau penyakit
Penilaian Dini / Awal

Suatu proses untuk mengenali dan mengatasi keadaan yang dapat mengancam keselamatan / nyawa korban. Langkah – langkah dalam melakukan penilaian dini / awal terhadap korban antara lain :

1. Kesan Umum

Tentukan kasus trauma atau medis

2. Periksa respon / tingkat kesadaran

Ada 4 (empat) tingkatan yang umum dipakai untuk menentukan tingka respon seseorang yaitu Alert (sadar), Verbal (suara), Painful (nyeri) dan Unresponsive (Tidak ada respon sama sekali).

A = Alert, penderita sadar dan mengenali keberadaan dan lingkungannya

V = Verbal, penderita hanya bereaksi apabila dipanggil

P = Painful, penderita hanya bereaksi terhadap rangsang nyeri

U = Unresponsive, penderita tidak bereaksi terhadap respon apapun. Tidak membuka mata, tidak bereaksi terhadap suara atau sama sekali tidak bereaksi terhadap rangsang nyeri. Seseorang dalam keadaan tidak sadar yang berat  tentunya memerlukan jalan napas yang baik dan pertolongan pendukung lainnya.

3.    Pastikan jalan napas (Airway) terbuka dengan baik

4.    Nilai pernapasannya

5.    Nilai sirkulasi  dan hentikan perdarahan berat bila ada

6.    Hubungi bantuan

Penilaian dini / awal harus diselesaikan dan semua keadaan yang mengancam jiwa sudah harus ditanggulangi sebelum melanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Pemeriksaan Fisik

  • Penilaian dini dimaksudkan untuk dapat segera mengenali dan mengatasi bahaya yang mengancam jiwa
  • Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan yang meliputi seluruh tubuh penderita. Tujuannya untuk menemukan berbagai tanda sehingga memudahkan dalam penanganannya.
  • Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis dan berurutan, biasanya dimulai dari ujung kepala samapai ujung kaki, namun bisa berubah sesuai kondisi korban.

Prinsip Pemerikasaan Korban

Pemeriksaan korban merupakan suatu keterampilan yang harus dilatih. Tindakan ini melibatkan panca indera kita berupa :

  • Penglihatan (inspection)
  • Pendengaran (Auscultation)
  • Perabaan (Palpation)

Pemeriksaan

Cara memeriksa korban kecelakaan (trauma) berbeda dengan penderita penyakit (medis). Tanda-tanda dari suatu cedera dapat jelas terlihat dan teraba. Masalah medis lebih berupa gejala yang dirasakan hanya oleh penderita. Untuk mendapatkan data yang lengkap kita harus membuat penderita menjelaskan gejalanya dengan baik dan jelas.

Trauma Medis
Wawancara 20 % 80 %
Pemeriksaan 80 % 20 %

Pada cedera beberapa hal yang harus dicari adalah

  • Perubahan Bentuk (Deformity)
  • Luka Terbuka (Open Injury)
  • Nyeri Tekan (Tenderness)
  • Pembengkakan (Swelling)

Beberapa tanda mungkin sangat nyata, sedang yang lainnya mungkin terlewati, biasanya pada cedera alat dalam dan cenderung serius.

Pada saat melakukan pemeriksaan selalu perhatikan penderita. Perhatian menunjukkan bahwa kita bertujuan baik dan biasanya akan memudahkan kita memperoleh data yang dibutuhkan.

Pemeriksaan Fisik Ujung Kepala – Ujung Kaki

1.    Kepala

-          Kulit kepala dan tulang tengkorak

-          Telinga dan hidung

-          Anak mata (pupil)

-          Mulut

2.    Leher

3.    Dada

-    Tampak luar, tulang dada, tulang rusuk

4.    Perut

-          Pemeriksaan ketegangan dinding perut

-          Luka yang ada

5.    Punggung

-          Bagian dada belakang

-          Tulang belakang

6.    Panggul

-          Tulang-tulang

-          Bagian dalam

-          Kemaluan

7.    Alat gerak bawah

8.    Alat gerak atas

Riwayat Penderita

  1. Tanda dan Gejala (Sign and Simpton)
  2. Alergi (Allergies)
  3. Pengobatan (Meditation)
  4. Riwayat Penyakit Sekarang (Pertinent History)
  5. Makan/minum Terakhir (Last Oral Intake)
  6. Peristiwa (Event)
Tanda-tanda Vital

Parameter yang dikelompokkan dalam tanda vital adalah

  1. Denyut nadi
  2. Frekuensi pernapasan
  3. Suhu tubuh
  4. Tekanan darah
  5. Pupil mata

Sejarah Panjat Tebing di Indonesia

Perkembangan kegiatan panjat tebing di Indonesia adalah merupakan perwujudan nyata dari dinamika pemuda Indonesia yang dengan sadar menghimpun dirinya dalam organisasi-organisasi induk kegiatan pemanjat tebing dan pendaki gunung sesuai dengan jenis dan fungsinya dengan tujuan akhir mencapai cita-cita berlandaskan falsafah negara Pancasila.

Pemerintah sendiri selalu mendorong dan memberikan motivasi serta menciptakan iklim yang kondusif agar olah raga panjat tebing dapat berkembang dengan pesat, karena dengan demikian kita telah berupaya membina dan mengembangkan kegiatan olah raga pecinta alam agar dapat meluas dan merata ke seluruh tanah air. Diselenggarakannya kegiatan panjat tebing dengan menggunakan dinding buatan memungkinkan masyarakat luas di perkotaan dapat menikmati atraksi penampilan para pemanjat tebing, dengan demikian akan dapat memberikan dampak langsung dalam memperluas minat remaja kepada olah raga ini.

Olah raga panjat tebing ini dipelopori oleh Harry Suliztiarto, 1976 yang  mulai latihan memanjat di Citatah. Patok pertama panjat tebing modern di Indonesia. Pada 1977 Harry Suliztiarto, Heri Hermanu, Deddy Hikmat, dan Agus R. mendirikan Skygers Amateur Rock Climbing Group. di 1980 Skygers menyelenggarakan sekolah panjat tebing angkatan pertama. Wanadri menjadi tim Indonesia pertama yang berekspedisi ke Cartensz Pyramide. Mereka gagal mencapai puncak, namun berhasil di Puncak Jaya dan Cartensz Timur. Sedangkan ekspedisi gabungan Mapala UI dan tim AS mendaki Puncak Trikora.

Teknik Panjat Tebing

Panjat tebing adalah menaiki atau memanjat tebing yang memanfaatkan celah atau benjolan yang dapat digunakan sebagai pijakan atau pegangan, dalam suatu pemanjatan untuk menambah ketinggian.

Berdasarkan teknik memanjat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Free climbing, adalah pemajatan yang menggunakan peralatan hanya untuk menahan jatuh dan saat berhenti menambat. Pemasangan pengaman tidak digunakan untuk pegangan atau pijakan untuk menambah tinggi.
  2. Artificial cimbing, adalah pemanjatan yang menggunakan peralatan selain untuk menahan jatuh, juga digunakan untuk menambah ketinggian dengan cara dijadikan pegangan atau pijakan.

Taktik pemanjatan

  1. Taktik Alpine, adalah pemanjatan tanpa lagi berhubungan dengan base camp, semua perlengkapan dan makanan dibawa terus.
  2. Taktik Himalayan, adalah pemanjatan dengan cara menghubungkan antara base camp melalui tali, perlengkapan dan makanan dikirim secara estafet dari camp ke camp.

Peralatan Panjat Tebing dan Fungsi

Tali

Fungsi utama dalam pemanjatan adalah sebagai pengaman apabila jatuh. Tali yang dipakai dalam panjat tebing terbuat dari nylon ( kern ) untuk menahan gerakan friksi juga sebagai penguatan digunakan pembungkus ( mantle ) sehingga tali ini bisa disebut ” kermnantle “. Dianjurkan jenis tali yang dipakai hendaknya telah diuji – coba oleh UIAA (Union Internationale Des Associations D’Alpinism) suatu badan yang menguji kekuatan peralatan pendakian. Ukuran kernmantle yang biasa dipakai adalah 8, 8 mm , 9 mm, 10 mm dengan penjang standar adalah 50 meter.

Tali ini memiliki sifat-sifat :

  1. Tidak tahan terhadap gesekan dengan tebing, terutama tebing laut (cliff). Bila dipakai untuk menurunkan barang, sebaiknya bagian tebing yang bergesekan dengan tali diberi alas (pading). Tabu untuk menginjak tali jenis ini.
  2. Peka (tidak tahan) dengan zat kimia.
  3. Tidak tahan terhadap panas. Bila tali telah dicuci sebaiknya dijemur di tempat teduh.
  4. Memiliki kelenturan yang baik bila mendapat beban kejut (karena pendaki jatuh, misalnya)

Pada umumnya tali-tali tersebut akan berkurang kekuatannya bila dibuat simpul. Sebagai contoh, simpul delapan (figure of eight) akan mengurangi kekuatan tali sampai 10%. Karena sifat tali yang demikian, maka dibutuhkan perawatan dan perlakuan yang baik dan benar. Cara menggulung tali juga perlu diperhatikan agar tidak kusut, sehingga tidak mudah rusak dan mudah dibuka bila akan digunakan.

Sebelum dipakai untuk pemanjatan tali ini harus diurai terlebih dulu, untuk memeriksa keadaan tali. Caranya yaitu ditekan dengan ibu jari saat diulur..

Kermantle ada dua macam :

1. Tali Dinamik

Memiliki kelenturan bagus sehingga dapat berfungsi sebagai peredam kejut. Kelenturannya mencapai 5- 15 % dari berat maksimum yang diberikan. Biasanya memakai warna yang mencolok seperti merah, hijau dan ungu.

2. Tali Statik

Tidak memiliki kalenturan yang baik sehingga biasanya dipakai untuk menuruni tebing / rapelling atau ascending. Sifatnya kaku dan umumnya berwarna putih atau hijau.

Carabiner

Biasanya disebut cincin kait, terbuat dari logam alumunium alloy dan mempunyai ragam variasi bergantung pada desain pabriknya. Biasanya kekuatan carabiner tercantum pada alat tersebut.

Persyaratan yang harus dibuat oleh assosiasi pembuat peralatan panjat tebing mengharuskan carabiner dapat menahan bobot 1200 kilogram force (kp) atau sekitar 2700 pounds. Sedangkan beban maksimum yang diperbolehkan adalah sekitar 5000 pounds.

Carabiner yang terbuat dari campuran alumunium (Alloy) ini sangat ringan dan cukup kuat, terutama yang bebentuk D. Carabiner yang terbuat dari baja mempunyai kekuatan yang sangat tinggi sampai 10.000 pounds tetapi relatif berat bila dibawa dalam jumlah banyak untuk suatu pendakian.

Berikut ini adalah tabel daftar carabiners, pabrik pembuat dan kekuatan menahan bobot. Bagian yang paling lemah dari carabiner adalah pin, carabiner bentuk D relatif lebih aman dibanding bentuk oval, karena terdapat cekungan yang memberi ruang bagi pin saat carabiner mendapat beban. Kelebihan dari carabiner bentuk oval adalah relatif mudah dikaitkan pada piton.

Ada dua jenis carabiner :

  1. Carabiner Screw gate ( menggunakan kunci pengaman )
  2. Carabiner Snapgate ( tidak berkunci )

Kekuatan carabiner terletak pada pen yang ada sehingga jika pen yang ada pada carabinber sudah longgar sebaiknya jangan dipakai.

Ascender

Ascendeur digunakan sebagai alat bantu naik, merupakan perkembangan dari prusik, mudah mendorongnya ke atas tapi dapat menahan beban. terbuat dari kerangka alumunium dan baja. Alat ini dapat dipakai untuk tali berdiameter 7 – 11 mm dan berkekuatan 1100 pounds. Dalam menggunakan ascendeur sebaiknya menggunakan sling terlebih dahulu sebelum disangkutkan pada carabiner.

Descender

Alat ini digunakan turun tebing (abseiling, rapeling). Pada prinsipnya untuk menjaga agar pendaki tidak meluncur bebas. Keuntungan lainnya adalah tubuh tidak tergesek tali, sehingga tidak terasa panas.

Beberapa jenis descendeur :

a. Figure of eight

b. Brake bar

c. Bobbin (petzl descendeur)

- single rope

- double rope

d. Modifikasi carabiner . Carabiner yang kita susun sedemikian rupa sehingga berfungsi semacam brake bar.

Chock and Friend

Chock adalah alat dalam pendakian tebing yang dimasukkan ke celah batu dengan jari tangan sehingga terjepit dan dapat menahan berat badan dari arah tertentu.

Chock mempunyai tiga bentuk :

a. Hexentric (berbentuk segi enam)

b.Stopper (berbentuk simetris)

c.Trieams (berbentuk paruh burung)

Karena keterbatasannya diciptakan alat pengapit yang disebut friend, yang bisa menyesuaikan bentuk dengan celah tebing.

Piton

Cara pemasangan piton sangat sederhana. Setelah memeriksa rekahan yang akan dipasang piton, kita memilih piton yang cocok dengan rekahan, lalu ditancapkan dan pukul dengan hammer. Salah besar kalau kita memilih piton dulu baru memilih rekahan pada tebing. Untuk mengetahui rapuh tidaknya rekahan yang akan kita pasang piton, adalah dengan memukulkan hammer pada tebing sekitar rekahan. Suara yang nyaring menunjukkan rekahan tersebut tidak rapuh.

Adakalanya rekahan yang kita hadapi membutuhkan cara pemasangan yang berbeda dan atau perlu dimodifikasi dengan alat lain, sehingga perlu beberapa cara khusus dalam pemasangannya.

Cara melepas piton adalah dengan menggunakan hammer yang kita pukulkan pada mata piton searah dengan rekahan sampai pada akhirnya piton dapat ditarik.

Pengaman pasak, macamnya antara lain :

  1. angle
  2. king ping

Webbing

Terbuat dari bahan nylon berguna sebagai sling, tali tubuh juga sebagai alat bantu penambatan.Webbing memiliki panjang standar 5 meter. Webbing memiliki bentuk seperti pita, dan ada dua macam.

Pertama lebar 25 mm dan berbentuk tubular, sering digunakan untuk :

  1. Harness (tali tubuh), swami belt, chest harness
  2. Alat bantu peralatan lain, sebagai runners (titik pengaman), tangga (etrier) atau untuk membawa peralatan.

Webbing yang lain memiliki lebar 50 mm dan berbentuk pipih, yang biasa digunakan untuk macam-macam body slings.

Sling

Biasanya terbuat dari webbing dengan fungsi :

  1. sebagai penghubung
  2. membuat natural poin dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing
  3. mengurangi gaya gesek ( yang menambah beban ) pada chock atau piton yang terpasang

Runners

Pengaman jalan, sling yang dikaitkan dengan carabiner untuk pengaman jalan penambatan.

Harness

Harness sangat menolong untuk menahan tubuh, bila pendaki terjatuh, Juga akan mengurangi rasa sakit dibandingkan bila kita menggunakan tali langsung ke tubuh dengan simpul bowline on a coil. Harness yang baik tidak akan mengganggu gerak tubuh dari pendaki. Akan tetapi sangat terasa gunanya bila pendaki dalam posisi istirahat.

Jenis – jenis harness :

a. Full body harness

Harness ini melilit di seluruh tubuh, relatif aman dan biasanya dilengkapi dengan sangkutan alat disekeliling pinggang. Sering dipakai di medan salju/es.

b. Seat harness

Harness ini lebih sering dipakai, mungkin karena tidak begitu mengganggu pendaki dalam bergerak. Seat harness dapat dibuat dari webbing (swami belt) dan diapersling atau dengan menggunakan figure of eight sling.

Stirrup/Etrier

Tangga untuk membantu menambah ketinggian tanpa menjejakkan kaki pada tebing. Bila rute yang akan dilalui ternyata sulit, karena tipisnya pijakan dan pegangan, maka etrier ini sangat membantu untuk menambah ketinggian. Pada Atrificial Climbing, etrier menjadi sangat vital, sehingga tanpa alat ini seorang pendaki akan sulit sekali untuk menambah ketinggian.

Hammer

Palu untuk membantu menyisipkan piton pada celah, memaku bolt.

Bolt Hanger dan Resin Anchor

Bolt Hanger adalah pengaman tetap yang dipasang pada permukaan tebing yang telah dilubangi/dibor, diperkuat dengan baut tebing (bolt) sedang Resin Anchor dipasang pada permukaan tebing yang telah dilubangi dengan bor dan diperkuat dengan lem (resin glue)

Helm pengaman

ringan tapi keras.

Chalk Bag

Kantung magnesium.

Sepatu

Sepatu yang digunakan dalam pemanjatan ada dua jenis, yaitu :

  1. sepatu yang kejur ( kaku dan keras )
  2. sepatu yang lentur.

Klasifikasi Pengaman

  1. Pengaman emas               : pengaman yang berfungsi sangat baik digunakan untuk

tambatan dan beban jatuh

  1. Pengaman perak              : pengaman yang berfungsi kurang baik, biasanya

bisa terlepas jika dipakai jatuh.

  1. Pengaman perunggu        : pengaman yang berfungsi jelek dan pasti terlepas

jika terkena beban jatuh

  1. Pengaman pengunci         : pengaman yang berfungsi sangat baik, tidak

terlepas jika ditarik ke segala arah dan pasti

bersifat emas.

Simpul dan Jerat yang dipakai saat memanjat tebing

  1. Simpul
    1. Simpul delapan, biasanya digunakan oleh pemanjat yang posisinya dekat dengan tubuh pemanjat. Lubang pada simpul delapan adalah tidak boleh terlalu besar, maksimal hanya bisa masuk 2 atau 3 jari. Pada bagian ujung tali harus diberi simpul pengunci.
    2. Simpul pita, biasanya digunakan untuk menyambung tali yang pipih.
    3. Simpul nelayan ganda, digunakan untuk menyambung tali yang silinder.
    4. Simpul kupu-kupu, digunakan untuk pemanjat tengah.
    5. Jerat
      1. Jerat tambat (Italian hitch), digunakan untuk bilay dan refling.
      2. Jerat pangkal (clove hitc), digunakan untuk penambatan.
      3. Jerat geser (perusik hitch), perusik yang dijeratkan di tali utama.

Penambatan

Keselamatan adalah hal utama dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Demikian halnya dengan panjat tebing meskipun aktivitas ini merupakan petualangan, tetapi keselamatan tetap esensial.

Fungsi tali adalah pengaman bagi pemanjat dari resiko fatal yang diakibatkan apabila ia jatuh. Tali ini, menghubungkan antara pemanjat dengan belayer. Sebelum melakukan pemanjatan belayer harus mencari dan menambatkan dirinya pada anchor agar tidak terseret saat pemanjat jatuh. Namun sebenarnya faktor keselamatan dari pemanjat itu terletak pada kemampuannya untuk mencari pengaman sebagai tempat runner ( running belay ). Sehingga fungsi belayer adalah sebagai breaker laju jatuhnya pemanjat .

Pengaman ada dua jenis :

  1. Pengaman Alam ( natural anchor )

Pengaman yang disediakan oleh alam, macamnya :

1)      Tumbuhan

Bila tubuhan tersebut kuat dan akarnya menghujam ke dalam dinding tebing dan dalam pemasangannya diupayakan harus dekat dengan pangkalnya dengan dijerat pakai tali pita atau webbing.

2)      Batu sisip

Batu yang tersisip disela vertikal tebing.

3)      Batu tanduk.

Batu yang menonjol.

4)      Celah tembus.

Lubang yang menembus tebing.

  1. Pengaman buatan (artificial anchor)

1)      Pengaman sisip(chock).

Biasanya dipasang pada cacat batuan(berupa celah).

2)      Pengaman sisip pegas.

Dipasang pada celah yang menyempit, baik vertikal maupun horizontal.

3)      Pengaman pasak/piton.

Dipasang pada cacat batuan yang dangkal, sempit, berbentuk pipih untuk memudahkan pemakaian.

4)      Paku tebing/bolt

Pemakaiannya diborkan pada tebing, dipakai pada tebing yang ” blank “.

Pada prinsipnya melakukan penambatan harus seaman dan sepraktis mungkin sehingga pada saat memanjat tidak menjadi terganggu oleh penambatannya.

Prosedur Keamanan Pemanjatan Tebing

Sebelum pemajatan

Pemilihan jalur pemanjatan

Jalur dipilih berdasarkan data yang telah ada, baik melalui literature, informasi dari pemanjat lain, dan pengamatan langsung (orientasi jalur). Pengamatan langsung merupakan cara yang paling baik karena dapat mengetahui kondisi tebing yang sebenarnya. Dalam orientasi jalur ada beberapa hal penting yang sangat diperlukan dalam pemanjatan, antara lain:

  1. Memperkirakan ketinggian dan karakter tebing.
  2. Menentukan jenis alat pengaman yang akan digunakan.
  3. Menentukan titik awal pemanjatan
  4. Menentukan system dan teknik pemanjatan.

Mempersiapkan peralatan

Peralatan yang dibawa disesuikan dengan jalur yang akan dipanjat dan disusun secara sistematik melalu pemeriksaan terhadap peralatan yang akan digunakan, seperti:

  1. Pengunci buckle pada harness
  2. Simpul-sumpul, alat penambatan, sling webbing, carabiner.
  3. Kondisi jahitan pada harness atau peralatan lain yang menggunakan jahitan.
  4. Mengurai tali untuk mengetahui kondisi tali dan agar tidak kusut saat pemanjatan.

Memulai pemanjatan

Setelah semua peralatan siap, maka pemanjatan dapat dimulai apabila telah terjadi kesepakatan antara leader (pemajat utama) dan belayer (penambat).

Selama pemanjatan

  1. Selama pemanjatan berlangsung diusakan penambat selalu dapat melihat proses pemanjatan dan adanya komunikasi antara pemanjat dan penambat.
  2. Pemanjat utama hanya bisa menentukan jarak aman antara pengaman yang satu dengan pengaman yang lain sesuai dengan tingkat kesulitan.
  3. Untuk mengurangi gesekan (friksi) pada tali utama pemanjatan, panjangkan setiap pengaman yang terpasang dengan sling panjang (terutama pada jalur pemanjatan yang zig-zag).
  4. Hindari tempat tinggi ata terbuka saat hujan atau akan turun.
  5. Pada saat mencapai teras, maka leader harus mencari atau memasang dua pengaman.
  6. Untuk penambatan di teras ketinggian tubuh penambat harus dibawah pengaman emas dan selalu terhubung ke tubuh penambat.
  7. Selama pemanjatan berlangsung, jangan pernah melepas tali utama dari tubuh.

Sesudah pemanjatan

Setelah selesai melakukan pemanjatan, semua peralatan yang telah digunakan harus disusun rapi kembali sesuai dengan karakteristik alat. Jika terdapat cacat atau kerusakan pada perlengkapan pengaman harus diberi tanda atau diganti.

Aba-aba Internasional Belayer – Leader

Leader : ”On belay?” (saya akan memanjat, apakah belaying sudah siap?)

Belayer : ”Belay on” (saya sudah siap)

Leader : ”Climbing” (saya akan memanjat)

Belayer : “Climb on” (silahkan memanjat)

Leader : ”Slack” (kendurkan tali, saya tidak bisa bergerak karena tali terlalu kencang)

Belayer mengendurkan tali tanpa menyahut

Leader : ”pull” (tali terlalu kendur, mohon tali dikencangkan sedikit)

Belayer mengencangkan tali tanpa menyahut

Leader : ”Off belay” (saya dalam posisi baik, tidak perlu belaying)

Belayer : ”Belay off” (Belayer mencoba meyakinkan bahwa pemanjat betul – betul tidak lagi belaying)

Leader : ”Tension” (tahan tali dengan erat)

Belayer menggunakan tangan penahan untuk mengunci tali belaying

Leader : ”Falling” (saya jatuh, mohon tahan tali/dikunci)

Belayer dengan tangan penahan untuk mengunci tali belaying dan mengamankan pemanjat yang jatuh

Leader : ”Rock” (Awas ada benda keras yang jatuh, hati – hati)

Belayer : ”Rock” (Belayer meneriakkan kembali kata – kata leader menandakan dia sudah mengetahui)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.