Materi Panjat Tebing

Sejarah Panjat Tebing di Indonesia

Perkembangan kegiatan panjat tebing di Indonesia adalah merupakan perwujudan nyata dari dinamika pemuda Indonesia yang dengan sadar menghimpun dirinya dalam organisasi-organisasi induk kegiatan pemanjat tebing dan pendaki gunung sesuai dengan jenis dan fungsinya dengan tujuan akhir mencapai cita-cita berlandaskan falsafah negara Pancasila.

Pemerintah sendiri selalu mendorong dan memberikan motivasi serta menciptakan iklim yang kondusif agar olah raga panjat tebing dapat berkembang dengan pesat, karena dengan demikian kita telah berupaya membina dan mengembangkan kegiatan olah raga pecinta alam agar dapat meluas dan merata ke seluruh tanah air. Diselenggarakannya kegiatan panjat tebing dengan menggunakan dinding buatan memungkinkan masyarakat luas di perkotaan dapat menikmati atraksi penampilan para pemanjat tebing, dengan demikian akan dapat memberikan dampak langsung dalam memperluas minat remaja kepada olah raga ini.

Olah raga panjat tebing ini dipelopori oleh Harry Suliztiarto, 1976 yang  mulai latihan memanjat di Citatah. Patok pertama panjat tebing modern di Indonesia. Pada 1977 Harry Suliztiarto, Heri Hermanu, Deddy Hikmat, dan Agus R. mendirikan Skygers Amateur Rock Climbing Group. di 1980 Skygers menyelenggarakan sekolah panjat tebing angkatan pertama. Wanadri menjadi tim Indonesia pertama yang berekspedisi ke Cartensz Pyramide. Mereka gagal mencapai puncak, namun berhasil di Puncak Jaya dan Cartensz Timur. Sedangkan ekspedisi gabungan Mapala UI dan tim AS mendaki Puncak Trikora.

Teknik Panjat Tebing

Panjat tebing adalah menaiki atau memanjat tebing yang memanfaatkan celah atau benjolan yang dapat digunakan sebagai pijakan atau pegangan, dalam suatu pemanjatan untuk menambah ketinggian.

Berdasarkan teknik memanjat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Free climbing, adalah pemajatan yang menggunakan peralatan hanya untuk menahan jatuh dan saat berhenti menambat. Pemasangan pengaman tidak digunakan untuk pegangan atau pijakan untuk menambah tinggi.
  2. Artificial cimbing, adalah pemanjatan yang menggunakan peralatan selain untuk menahan jatuh, juga digunakan untuk menambah ketinggian dengan cara dijadikan pegangan atau pijakan.

Taktik pemanjatan

  1. Taktik Alpine, adalah pemanjatan tanpa lagi berhubungan dengan base camp, semua perlengkapan dan makanan dibawa terus.
  2. Taktik Himalayan, adalah pemanjatan dengan cara menghubungkan antara base camp melalui tali, perlengkapan dan makanan dikirim secara estafet dari camp ke camp.

Peralatan Panjat Tebing dan Fungsi

Tali

Fungsi utama dalam pemanjatan adalah sebagai pengaman apabila jatuh. Tali yang dipakai dalam panjat tebing terbuat dari nylon ( kern ) untuk menahan gerakan friksi juga sebagai penguatan digunakan pembungkus ( mantle ) sehingga tali ini bisa disebut ” kermnantle “. Dianjurkan jenis tali yang dipakai hendaknya telah diuji – coba oleh UIAA (Union Internationale Des Associations D’Alpinism) suatu badan yang menguji kekuatan peralatan pendakian. Ukuran kernmantle yang biasa dipakai adalah 8, 8 mm , 9 mm, 10 mm dengan penjang standar adalah 50 meter.

Tali ini memiliki sifat-sifat :

  1. Tidak tahan terhadap gesekan dengan tebing, terutama tebing laut (cliff). Bila dipakai untuk menurunkan barang, sebaiknya bagian tebing yang bergesekan dengan tali diberi alas (pading). Tabu untuk menginjak tali jenis ini.
  2. Peka (tidak tahan) dengan zat kimia.
  3. Tidak tahan terhadap panas. Bila tali telah dicuci sebaiknya dijemur di tempat teduh.
  4. Memiliki kelenturan yang baik bila mendapat beban kejut (karena pendaki jatuh, misalnya)

Pada umumnya tali-tali tersebut akan berkurang kekuatannya bila dibuat simpul. Sebagai contoh, simpul delapan (figure of eight) akan mengurangi kekuatan tali sampai 10%. Karena sifat tali yang demikian, maka dibutuhkan perawatan dan perlakuan yang baik dan benar. Cara menggulung tali juga perlu diperhatikan agar tidak kusut, sehingga tidak mudah rusak dan mudah dibuka bila akan digunakan.

Sebelum dipakai untuk pemanjatan tali ini harus diurai terlebih dulu, untuk memeriksa keadaan tali. Caranya yaitu ditekan dengan ibu jari saat diulur..

Kermantle ada dua macam :

1. Tali Dinamik

Memiliki kelenturan bagus sehingga dapat berfungsi sebagai peredam kejut. Kelenturannya mencapai 5- 15 % dari berat maksimum yang diberikan. Biasanya memakai warna yang mencolok seperti merah, hijau dan ungu.

2. Tali Statik

Tidak memiliki kalenturan yang baik sehingga biasanya dipakai untuk menuruni tebing / rapelling atau ascending. Sifatnya kaku dan umumnya berwarna putih atau hijau.

Carabiner

Biasanya disebut cincin kait, terbuat dari logam alumunium alloy dan mempunyai ragam variasi bergantung pada desain pabriknya. Biasanya kekuatan carabiner tercantum pada alat tersebut.

Persyaratan yang harus dibuat oleh assosiasi pembuat peralatan panjat tebing mengharuskan carabiner dapat menahan bobot 1200 kilogram force (kp) atau sekitar 2700 pounds. Sedangkan beban maksimum yang diperbolehkan adalah sekitar 5000 pounds.

Carabiner yang terbuat dari campuran alumunium (Alloy) ini sangat ringan dan cukup kuat, terutama yang bebentuk D. Carabiner yang terbuat dari baja mempunyai kekuatan yang sangat tinggi sampai 10.000 pounds tetapi relatif berat bila dibawa dalam jumlah banyak untuk suatu pendakian.

Berikut ini adalah tabel daftar carabiners, pabrik pembuat dan kekuatan menahan bobot. Bagian yang paling lemah dari carabiner adalah pin, carabiner bentuk D relatif lebih aman dibanding bentuk oval, karena terdapat cekungan yang memberi ruang bagi pin saat carabiner mendapat beban. Kelebihan dari carabiner bentuk oval adalah relatif mudah dikaitkan pada piton.

Ada dua jenis carabiner :

  1. Carabiner Screw gate ( menggunakan kunci pengaman )
  2. Carabiner Snapgate ( tidak berkunci )

Kekuatan carabiner terletak pada pen yang ada sehingga jika pen yang ada pada carabinber sudah longgar sebaiknya jangan dipakai.

Ascender

Ascendeur digunakan sebagai alat bantu naik, merupakan perkembangan dari prusik, mudah mendorongnya ke atas tapi dapat menahan beban. terbuat dari kerangka alumunium dan baja. Alat ini dapat dipakai untuk tali berdiameter 7 – 11 mm dan berkekuatan 1100 pounds. Dalam menggunakan ascendeur sebaiknya menggunakan sling terlebih dahulu sebelum disangkutkan pada carabiner.

Descender

Alat ini digunakan turun tebing (abseiling, rapeling). Pada prinsipnya untuk menjaga agar pendaki tidak meluncur bebas. Keuntungan lainnya adalah tubuh tidak tergesek tali, sehingga tidak terasa panas.

Beberapa jenis descendeur :

a. Figure of eight

b. Brake bar

c. Bobbin (petzl descendeur)

– single rope

– double rope

d. Modifikasi carabiner . Carabiner yang kita susun sedemikian rupa sehingga berfungsi semacam brake bar.

Chock and Friend

Chock adalah alat dalam pendakian tebing yang dimasukkan ke celah batu dengan jari tangan sehingga terjepit dan dapat menahan berat badan dari arah tertentu.

Chock mempunyai tiga bentuk :

a. Hexentric (berbentuk segi enam)

b.Stopper (berbentuk simetris)

c.Trieams (berbentuk paruh burung)

Karena keterbatasannya diciptakan alat pengapit yang disebut friend, yang bisa menyesuaikan bentuk dengan celah tebing.

Piton

Cara pemasangan piton sangat sederhana. Setelah memeriksa rekahan yang akan dipasang piton, kita memilih piton yang cocok dengan rekahan, lalu ditancapkan dan pukul dengan hammer. Salah besar kalau kita memilih piton dulu baru memilih rekahan pada tebing. Untuk mengetahui rapuh tidaknya rekahan yang akan kita pasang piton, adalah dengan memukulkan hammer pada tebing sekitar rekahan. Suara yang nyaring menunjukkan rekahan tersebut tidak rapuh.

Adakalanya rekahan yang kita hadapi membutuhkan cara pemasangan yang berbeda dan atau perlu dimodifikasi dengan alat lain, sehingga perlu beberapa cara khusus dalam pemasangannya.

Cara melepas piton adalah dengan menggunakan hammer yang kita pukulkan pada mata piton searah dengan rekahan sampai pada akhirnya piton dapat ditarik.

Pengaman pasak, macamnya antara lain :

  1. angle
  2. king ping

Webbing

Terbuat dari bahan nylon berguna sebagai sling, tali tubuh juga sebagai alat bantu penambatan.Webbing memiliki panjang standar 5 meter. Webbing memiliki bentuk seperti pita, dan ada dua macam.

Pertama lebar 25 mm dan berbentuk tubular, sering digunakan untuk :

  1. Harness (tali tubuh), swami belt, chest harness
  2. Alat bantu peralatan lain, sebagai runners (titik pengaman), tangga (etrier) atau untuk membawa peralatan.

Webbing yang lain memiliki lebar 50 mm dan berbentuk pipih, yang biasa digunakan untuk macam-macam body slings.

Sling

Biasanya terbuat dari webbing dengan fungsi :

  1. sebagai penghubung
  2. membuat natural poin dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing
  3. mengurangi gaya gesek ( yang menambah beban ) pada chock atau piton yang terpasang

Runners

Pengaman jalan, sling yang dikaitkan dengan carabiner untuk pengaman jalan penambatan.

Harness

Harness sangat menolong untuk menahan tubuh, bila pendaki terjatuh, Juga akan mengurangi rasa sakit dibandingkan bila kita menggunakan tali langsung ke tubuh dengan simpul bowline on a coil. Harness yang baik tidak akan mengganggu gerak tubuh dari pendaki. Akan tetapi sangat terasa gunanya bila pendaki dalam posisi istirahat.

Jenis – jenis harness :

a. Full body harness

Harness ini melilit di seluruh tubuh, relatif aman dan biasanya dilengkapi dengan sangkutan alat disekeliling pinggang. Sering dipakai di medan salju/es.

b. Seat harness

Harness ini lebih sering dipakai, mungkin karena tidak begitu mengganggu pendaki dalam bergerak. Seat harness dapat dibuat dari webbing (swami belt) dan diapersling atau dengan menggunakan figure of eight sling.

Stirrup/Etrier

Tangga untuk membantu menambah ketinggian tanpa menjejakkan kaki pada tebing. Bila rute yang akan dilalui ternyata sulit, karena tipisnya pijakan dan pegangan, maka etrier ini sangat membantu untuk menambah ketinggian. Pada Atrificial Climbing, etrier menjadi sangat vital, sehingga tanpa alat ini seorang pendaki akan sulit sekali untuk menambah ketinggian.

Hammer

Palu untuk membantu menyisipkan piton pada celah, memaku bolt.

Bolt Hanger dan Resin Anchor

Bolt Hanger adalah pengaman tetap yang dipasang pada permukaan tebing yang telah dilubangi/dibor, diperkuat dengan baut tebing (bolt) sedang Resin Anchor dipasang pada permukaan tebing yang telah dilubangi dengan bor dan diperkuat dengan lem (resin glue)

Helm pengaman

ringan tapi keras.

Chalk Bag

Kantung magnesium.

Sepatu

Sepatu yang digunakan dalam pemanjatan ada dua jenis, yaitu :

  1. sepatu yang kejur ( kaku dan keras )
  2. sepatu yang lentur.

Klasifikasi Pengaman

  1. Pengaman emas               : pengaman yang berfungsi sangat baik digunakan untuk

tambatan dan beban jatuh

  1. Pengaman perak              : pengaman yang berfungsi kurang baik, biasanya

bisa terlepas jika dipakai jatuh.

  1. Pengaman perunggu        : pengaman yang berfungsi jelek dan pasti terlepas

jika terkena beban jatuh

  1. Pengaman pengunci         : pengaman yang berfungsi sangat baik, tidak

terlepas jika ditarik ke segala arah dan pasti

bersifat emas.

Simpul dan Jerat yang dipakai saat memanjat tebing

  1. Simpul
    1. Simpul delapan, biasanya digunakan oleh pemanjat yang posisinya dekat dengan tubuh pemanjat. Lubang pada simpul delapan adalah tidak boleh terlalu besar, maksimal hanya bisa masuk 2 atau 3 jari. Pada bagian ujung tali harus diberi simpul pengunci.
    2. Simpul pita, biasanya digunakan untuk menyambung tali yang pipih.
    3. Simpul nelayan ganda, digunakan untuk menyambung tali yang silinder.
    4. Simpul kupu-kupu, digunakan untuk pemanjat tengah.
    5. Jerat
      1. Jerat tambat (Italian hitch), digunakan untuk bilay dan refling.
      2. Jerat pangkal (clove hitc), digunakan untuk penambatan.
      3. Jerat geser (perusik hitch), perusik yang dijeratkan di tali utama.

Penambatan

Keselamatan adalah hal utama dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Demikian halnya dengan panjat tebing meskipun aktivitas ini merupakan petualangan, tetapi keselamatan tetap esensial.

Fungsi tali adalah pengaman bagi pemanjat dari resiko fatal yang diakibatkan apabila ia jatuh. Tali ini, menghubungkan antara pemanjat dengan belayer. Sebelum melakukan pemanjatan belayer harus mencari dan menambatkan dirinya pada anchor agar tidak terseret saat pemanjat jatuh. Namun sebenarnya faktor keselamatan dari pemanjat itu terletak pada kemampuannya untuk mencari pengaman sebagai tempat runner ( running belay ). Sehingga fungsi belayer adalah sebagai breaker laju jatuhnya pemanjat .

Pengaman ada dua jenis :

  1. Pengaman Alam ( natural anchor )

Pengaman yang disediakan oleh alam, macamnya :

1)      Tumbuhan

Bila tubuhan tersebut kuat dan akarnya menghujam ke dalam dinding tebing dan dalam pemasangannya diupayakan harus dekat dengan pangkalnya dengan dijerat pakai tali pita atau webbing.

2)      Batu sisip

Batu yang tersisip disela vertikal tebing.

3)      Batu tanduk.

Batu yang menonjol.

4)      Celah tembus.

Lubang yang menembus tebing.

  1. Pengaman buatan (artificial anchor)

1)      Pengaman sisip(chock).

Biasanya dipasang pada cacat batuan(berupa celah).

2)      Pengaman sisip pegas.

Dipasang pada celah yang menyempit, baik vertikal maupun horizontal.

3)      Pengaman pasak/piton.

Dipasang pada cacat batuan yang dangkal, sempit, berbentuk pipih untuk memudahkan pemakaian.

4)      Paku tebing/bolt

Pemakaiannya diborkan pada tebing, dipakai pada tebing yang ” blank “.

Pada prinsipnya melakukan penambatan harus seaman dan sepraktis mungkin sehingga pada saat memanjat tidak menjadi terganggu oleh penambatannya.

Prosedur Keamanan Pemanjatan Tebing

Sebelum pemajatan

Pemilihan jalur pemanjatan

Jalur dipilih berdasarkan data yang telah ada, baik melalui literature, informasi dari pemanjat lain, dan pengamatan langsung (orientasi jalur). Pengamatan langsung merupakan cara yang paling baik karena dapat mengetahui kondisi tebing yang sebenarnya. Dalam orientasi jalur ada beberapa hal penting yang sangat diperlukan dalam pemanjatan, antara lain:

  1. Memperkirakan ketinggian dan karakter tebing.
  2. Menentukan jenis alat pengaman yang akan digunakan.
  3. Menentukan titik awal pemanjatan
  4. Menentukan system dan teknik pemanjatan.

Mempersiapkan peralatan

Peralatan yang dibawa disesuikan dengan jalur yang akan dipanjat dan disusun secara sistematik melalu pemeriksaan terhadap peralatan yang akan digunakan, seperti:

  1. Pengunci buckle pada harness
  2. Simpul-sumpul, alat penambatan, sling webbing, carabiner.
  3. Kondisi jahitan pada harness atau peralatan lain yang menggunakan jahitan.
  4. Mengurai tali untuk mengetahui kondisi tali dan agar tidak kusut saat pemanjatan.

Memulai pemanjatan

Setelah semua peralatan siap, maka pemanjatan dapat dimulai apabila telah terjadi kesepakatan antara leader (pemajat utama) dan belayer (penambat).

Selama pemanjatan

  1. Selama pemanjatan berlangsung diusakan penambat selalu dapat melihat proses pemanjatan dan adanya komunikasi antara pemanjat dan penambat.
  2. Pemanjat utama hanya bisa menentukan jarak aman antara pengaman yang satu dengan pengaman yang lain sesuai dengan tingkat kesulitan.
  3. Untuk mengurangi gesekan (friksi) pada tali utama pemanjatan, panjangkan setiap pengaman yang terpasang dengan sling panjang (terutama pada jalur pemanjatan yang zig-zag).
  4. Hindari tempat tinggi ata terbuka saat hujan atau akan turun.
  5. Pada saat mencapai teras, maka leader harus mencari atau memasang dua pengaman.
  6. Untuk penambatan di teras ketinggian tubuh penambat harus dibawah pengaman emas dan selalu terhubung ke tubuh penambat.
  7. Selama pemanjatan berlangsung, jangan pernah melepas tali utama dari tubuh.

Sesudah pemanjatan

Setelah selesai melakukan pemanjatan, semua peralatan yang telah digunakan harus disusun rapi kembali sesuai dengan karakteristik alat. Jika terdapat cacat atau kerusakan pada perlengkapan pengaman harus diberi tanda atau diganti.

Aba-aba Internasional Belayer – Leader

Leader : ”On belay?” (saya akan memanjat, apakah belaying sudah siap?)

Belayer : ”Belay on” (saya sudah siap)

Leader : ”Climbing” (saya akan memanjat)

Belayer : “Climb on” (silahkan memanjat)

Leader : ”Slack” (kendurkan tali, saya tidak bisa bergerak karena tali terlalu kencang)

Belayer mengendurkan tali tanpa menyahut

Leader : ”pull” (tali terlalu kendur, mohon tali dikencangkan sedikit)

Belayer mengencangkan tali tanpa menyahut

Leader : ”Off belay” (saya dalam posisi baik, tidak perlu belaying)

Belayer : ”Belay off” (Belayer mencoba meyakinkan bahwa pemanjat betul – betul tidak lagi belaying)

Leader : ”Tension” (tahan tali dengan erat)

Belayer menggunakan tangan penahan untuk mengunci tali belaying

Leader : ”Falling” (saya jatuh, mohon tahan tali/dikunci)

Belayer dengan tangan penahan untuk mengunci tali belaying dan mengamankan pemanjat yang jatuh

Leader : ”Rock” (Awas ada benda keras yang jatuh, hati – hati)

Belayer : ”Rock” (Belayer meneriakkan kembali kata – kata leader menandakan dia sudah mengetahui)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s