CATATAN PERJALANAN: LATIHAN MEDAN OPERASI GUNUNG HUTAN AM.SAR.XXIII.001 Ina Medyana

Ina Medyana

AM.SAR.XXIII.001

 

Laporan Mabim Gunung Hutan

 

Mabim Gunung Hutan ya inilah dia masa-masa mabim yang mengingatkan saya pada Pendidikan dan Latihan Dasar yang telah saya lewati dengan sepenuh jiwa raga yang sesungguhnya tidak ingin saya ulangi. Tapi disini lah bidang kami, yang menuntut ilmu kami diasah demi menyelamatkan jiwa seseorang dan berpacu dengan waktu.

Baju besi yang baru kami dapati dan syal orange berlambang SAR Unpad mewarnai perjalanan di alam bebas dibantu oleh pendamping-pendamping yang selalu memberi arahan kepada kami. Ransel perbekalan menjulang tinggi di belakang punggung, kami berdiri tegap menghadapi dinginnya malam Rancaupas dan itu tak membuat kami gentar menghadapi 5 hari kedepan, kami siap!

 

Awal Perjalanan

Kami berangkat dari sekretariat SAR Unpad tanggal 15 Agustus 2013 dengan transportasi angkot berwarna hijau yang telah dicarter dan ada yang membawa kendaraan pribadi. Supir angkot bersama istrinya telah menunggu dengan sabar di depan papan panjat lapangan UKM Barat. Sekitar pukul 09.30 malam kami memulai perjalanan dan berdoa terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan. Sesampainya disana waktu telah menunjukan pukul 00.30 dini hari, kami segera menurunkan barang-barang bawaan. Angin berhembus kencang, dingin menerpa, kami masih menunggu teman kami yang naik kendaraan pribadi lalu kami memutuskan untuk meminum secangkir kopi di warung. Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu tiba, kami mengobrol singkat di warung lalu langsung memutuskan untuk mendirikan tenda di lapang perkemahan Rancaupas. Setelah 2 tenda dome dan 1 tenda dari flysheet berhasil didirikan, kami briefing untuk perjalanan esok hari. Setelah itu kami beristirahat, tidur.

 

Navigasi Darat

Di hari pertama, pagi pun tiba tapi rasa kantuk masih menyelimuti mata, ya maklum lah meskipun tidur di dalam tenda, dingin Rancaupas tak terelakkan yang membuat kami tidak lelap dan terbagun dari tidur. Pukul 06.00 pagi kami melakukan bina jasmani atau yang sering disebut binjas. Setelah itu kami masak, ganti baju, dan siap-siap pergerakan.

ina1

Beberapa pembimbing datang di pagi hari. Sekitar pukul 09.00 pagi kami menentukan pergerakan, belajar materi komunikasi lapangan, dan memulai pergerakan. Tim navigasi darat 3 Botol siap melaju, dengan personil saya sebagai team leader, Karina sebagai notulen, dan Dito sebagai compass man dibawah bimbingan Kang Bayu Nugraha. Titik awal kami berada di koordinat 764.375 – 210.340. Komunikasi radio ada di frekuensi 14.888. Jam komunikasi setengah jam sekali.

Pergerakan kami mulai dari punggungan yang agak luas, naik punggungan menyusuri perkebunan. Saya dan Karina sedang melaju dengan semangat, tiba-tiba blup sepatu kami tak bisa terangkat karena masuk ke lumpur yang lumayan dalam sampai menutupi sepatu kami. Saya berteriak “Aaaaa Karina Karina, Kak Bayu toloonginnnn.” Berniat minta tolong tapi malah tambah bikin panik. Karina juga teriak “Aaah gimana nih gak bisa jalan. Ah sepatu,sepatu gueee” saya dan Karina berpegangan tangan, ditengah jebakan lumpur yang takutnya hidup. Kang Bayu sebagai pembimbing dan rescuer sejati segera mengerahkan tangannya untuk menarik saya menuju daratan yang tidak berlumpur. Setelah itu Karina diselamatkan juga oleh Kang Bayu, tapi ups Karina menapakkan kakinya hanya dengan alas kaki yang berupa kaos kaki. Kemana sepasang sepatunya? Ternyata oh ternyata sepatunya tertinggal di tengah lumpur. Antar kasihan dan menggelitik melihatnya sehingga kami tertawa sampai sakit perut sebelum meresue sepatu Karina. Kang Bayu lagi-lagi menyelamatkan kami, sepatu Karina diambil dengan tangan kosong, memang tim SAR sejati harus lebih dari sekedar kemanusiaan.

Setelah kejadian naas itu kami lalu orientasi medan karena melihat beberapa puncakan dari perkebunan. Kami memakai mengunci sudut kompas 30 derajat. Saat ormed di perkebunan, kami memutuskan jalan menyebrang perkebunan tersebut untuk menuju punggungan seberang. Puncakan tujuan kami berada di belakang puncakan Tikukur, puncakan yang masih tak bernama dipeta yang kami dapati. Sampai di ina2seberang kami masih mengacu ingin mengikuti jalan setapak yang masih mengikuti sudut kompas. Sampai di tempat yang agak luas, kami istirahat waktu saat itu menunjukkan pukul 02.30 siang, Kami masih mengikuti jalan setapak karena saat istirahat melihat bapak-bapak muncul dari jalan setapak tersebut dan sempat bertanya tempat tujuan kami. Saat mengikuti jalan setapak kami tidak menemukan jalan setapak yang harus kami lalui lagi, kami mencari-cari jalan setapak dimana-mana buntu. Akhirnya kami memutuskan untuk membuka jalur, mengikuti arah acuan kompas kami yaitu 30 derajat. Punggungan curam dan tanah yang gembur sedikit menyulitkan pergerakan kami. Sekitar pukul 03.15 sore kami sampai di puncakan tujuan kami dan berada di titik koordinat akhir yaitu 764.400 – 211.750. Kami melakukan ormed lagi untuk memastikan benarkah ini puncakan yang dimaksud. Setelah kami melapor pada basecom, kami segera istirahat, makan, minum, berbincang asyik, berbincang mengenai perjalanan,  dan evaluasi dari kakak pembimbing.

 

Pukul 04.00 sore kami diharuskan untuk kembali ke basecom. Perjalanan kami agak panjang saat pulang. Kami melalui puncakan Tikukur, karena ajakan pembimbing. Lalu kami tidak menemukan jalan setapak untuk pulang sehingga kami membuka jalur kembali. Medan yang sangat curam dan agak gembur membuat perjalanan kami terperosok berkali-kali. Hingga akhirnya kami menemukan jalan setapak yang berada di pinggir perkebunan. Lega rasanya hati melihat kebun yang luas. Perjalanan menuju basecom semakin dekat, tapi malam hampir tiba. Dengan jalan yang bercabang, dan gelap telah membuat kami agak kehilangan pandangan meskipun telah memakai headlamp, akhirnya kami disorientasi medan. Kami tersasar, tak tahu arah jalan pulang. Basecom telah memanggil-manggil lewat HT. Rasa takut mulai bergejolak dalam hati dan akhirnya setelah sekian lama berputar-putar, kami sampai di basecom. Di basecom kami beristirahat, mendirikan tenda dari flysheet, masak, makan, ganti pakaian, evaluasi, briefing untuk kegiatan ESAR esok hari, lalu tidur.

 

 

 

 

ESAR (Explore Search And Rescue)

ina3 Hari Kedua, sang fajar telah menerangi bumi bagian Rancaupas. Kami bangun, ganti baju, masak, dan bersiap-siap pergerakan materi selanjutnya, yaitu ESAR. Tim kami bertambah 2 personil, sehingga kami saat ini berjumlah 5 personil. Danang sebagai team leader, saya sebagai ribbon man, Tika sebagai notulen, Karina dan Dito sebagai compass man. Kami berlima adalah Tim Kontribusyi (pelafalan “s” harus jelas, berat, berhuruf arab syin ber-tasydid atau syaddah).

Perjalanan penyelamatan kali ini kami lakukan karena mendapat telepon tanggal 16 Agustus 2013 pukul 08.00 dari orangtua yang mengabarkan anaknya belum kembali pulang dari latihan navigasi darat di Rancaupas. Survivor bernama Subur Alexander. Ia adalah anggota pencinta alam Rem Pakem, berasal dari Bandung, memiliki ciri-ciri tinggi 172cm, kulit sawo matang. Subur melakukan latihan navigasi darat dengan tujuan perjalanan puncakan Cadas Panjang dan puncakan Kolotok. Mulai perjalanan 14 Agustus 2013 dan rencana kembali 15 Agustus 2013. Peralatan yang dibawa, yaitu kompas, peta Rancaupas, alat masak, daypack, flysheet dan headlamp. Perbekalannya Indomie 3-4 bungkus, Aqua 1,5 liter dan sebungkus rokok Dunhill. Di sepanjang perjalanan kami hmemasang ribbon dan marker.

ina4 ina5 Kami memulai pencarian dari titik awal kami tiba di Rancaupas dan 2 personil kami membeli batagor. Tipe pencarian menggunakan hestic. Setelah itu kami melakukan orientasi medan  serta bertanya pada warga lokal. Akhirnya kami menemukan jalan setapak ke punggungan yang berada di belakang pemandian air panas. Kami memasang ribbon dan mengikuti jalan setapak, di perjalanan kami menemukan sungai irigasi yang bisa untuk minum juga karena jernih airnya dan kami juga melihat 3 ekor monyet bergelantungan dari pohon ke pohon. 12.24 siang kami berada di bukit telletubbies koordinat 763.250 – 211.250, kami memutuskan untuk istirahat minum. Perjalanan kami lanjutkan dan tidak menemukan jalan setapak, akhirnya kami memutuskan untuk membuka jalur, tapi sebelumnya istirahat makan terlebih dahulu. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan pukul 14.33 membuka jalur mengikuti sudut kompas 330 derajat dan menggantungkan marker serta ribbon. Di tengah perjalanan kami dilanda hujan, yang memaksa kami untuk berhenti melakukan perjalanan pukul 03.15 sore dikarenakan medan yang curam dan licin. Akhirnya kami membuat shelter dan api di punggungan Cadas Panjang. Sekedar informasi, kami membuat api yang besar tapi basecom tidak percaya, akhirnya kami mengabadikannya dalam sebuah foto. Setelah hujan reda, kami menghubungi basecom untuk tidak melanjutkan perjalanan karena hari semakin gelap. Setelah berganti pakaian, pukul 7.30 malam kami masak untuk makan kelompok. Kondisi tim sehat walafaiat, tetapi ada satu personil kami yaitu Dito sedang tidak enak badan, sepertinya terkena demam. Pukul 08.05 malam kami laporan pada basecom, rencana perjalanan esok hari, serta diberikan hukuman push-up karena tidak mencapai puncakan yang dituju. Pukul 10.00 malam kami istirahat tidur.

Keesokan harinya, seperti biasa kami bangun pukul 6, masak, packing dan bersiap pergerakan selanjutnya. ina6Lalu kami laporan pada basecom dan ada pembimbing yang menjemput kami di camp. Dito tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi, akhirnya ia bersama salah satu pembimbing, yaitu Kak Yanwar untuk dibawa ke basecom dan pulang. Tim kami tersisa 4 orang, semangat sob! Kami segera menuju puncakan Cadas Panjang dibimbing Baba Ashyeng, disana kami terkejut melihat saudara kami Gani muncul dari kejauhan. Dengan adanya Gani, tim kami kembali memiliki personil 5 orang, semangat lagi sob! Akhirnya tiba juga di puncakan Cadas Panjang, sebenarnya tidak terlalu jauh dari camp kami. Di puncakan sudah ada Kakak Aziz Amin yang menunggu kami. Disana kami istirahat dan melakukan ormed lagi, kami juga menemukan bekas perapian yang disinyalir milik Subur, jadi kami memasang marker di tempat tersebut. Setelah itu kami kembali melakukan perjalanan menuju puncakan Kolotok. Kami menuruni punggungan yang curam, sehingga kami terperosok. Pukul 01.25 siang istirahat dan menentukan pergerakan selanjutnya. Hujan pun datang, kami menemukan bekas bivak alam yang disinyalir kepunyaan Subur di lembahan antara punggungan yang rapat lalu kita gunakan untuk berteduh ditutupi  dengan ponco disana kami membaca peta menentukan arah pergerakan. Tim kami terkena pacet yang tidak mau lepas meskipun telah diberikan tembakau dan ada yang terluka di pelipis karena tertusuk ranting. Tak lama kemudian Baba Ashyeng dan Kakak Aziz Amin menghampiri kami karena HT tidak boleh digunakan saat hujan.

Pukul 01.58 siang hujan mulai reda dan kami melanjutkan perjalanan. Ditemukan juga bungkus Indomie goreng di koordinat 763.312 – 211.888 sehingga kami merubah tipe pencarian menjadi close grid dengan sudut kompas 50 derajat. Kami berjalan sejajar mengikuti sudut kompas, melewati lembah yang curam Danang terperosok sampai lembah, Karina pun begitu, sedangkan Gani terperosok tetapi ponconya tersangkut di salah satu ranting pohon sehingga dia tidak bisa turun. Lalu kami melanjutkan naik ke punggungan yang curam dan licin, untuk menaikinya sangatlah sulit dan tanah mengotori pakaian kami. Akhirnya kami sampai juga dipunggungan, kami melanjutkan perjalanan. Singkat cerita sampai lah kita pada sadelan yang dituju pada pukul 04.47 sore dan disana kami menemukan peta Rancaunpas, bekas perapian dan tulisan di tanah yang bertuliskan SUBUR. Karena sudah agak gelap dan batas pergerakan pukul 04.00 sore, kami memutuskan untuk beristirahat dan mendirikan camp disana. Tidak lama kemudian tim PPS tiba di camp kami, kami berbincang, dan bertemu kangen. Kami membuat perapian yang lebih besar. Masak dan makan pukul 19.43. Setelah itu kami laporan pada basecome dan menentukan pergerakan esok hari. Malam semakin larut, kami bergegas tidur untuk kegiatan esok.

Hari keempat di Rancaupas atau hari ketiga pencarian Subur, Tim PPS dan Tim Kontribusyi digabung menjadi satu kesatuan, team leader kami hari ini adalah Gani. Kami bangun pukul 06.00 pagi, sarapan, dan packing. Pukul 08.35 kami mulai pergerakan dengan tipe ina7pencarian open grid dan mengikuti sudut kompas 165 derajat. Baru sebentar kami melakukan pergerakan, pukul 09.25 kami dikabarkan basecom untuk menghentikan pergerakan karena adanya tentara yang latihan menembak, pas sekali di belakang basecom, jadi kami harus menunggu instruksi selanjutnya. Sambil menunggu, kami berbincang-bincang tentang apa saja sembari memakan gula merah. Ega yang memisahkan diri dari kelompok ternyata memakan mie instan mentah sendirian. Beberapa saat kemudian, tepatnya pukul 10.53 kami melanjutkan pergerakan atas izin basecom. Lagi-lagi kami harus mendaki gunung lewati lembah yang curam, terkena duri, dan ada yang terperosok, hati-hati sob! Pukul 12.00 siang sampailah kami pada tempat yang landai dan beristirahat untuk minum dan memakan camilan. Kami sudah agak putus asa karena tidak ada lagi persediaan air minum, seorang hanya mendapatkan jatah minum seteguk, roti tawar dari Gani, susu sachet dari Hani dan kami menyisakan sebotol air untuk diberikan ketika bertemu survivor. 12.46 setelah selesai beristirahat, kami melanjutkan pencarian dengan memanggil nama survivor. ina8Tiba-tiba ada suara sayup-sayup teriak “Toloooong!” kami langsung semangat meskipun lapar dan dahaga mendera. Kami cari sumber suara darimana dan akhirnya, kami menemukan Subur Alexander pukul 12.50 siang. Dia terjerembab di lembahan karena lompat-lompat sehingga kaki sebelah kanan, dengkulnya retak. Saya bertugas untuk mengajak bicara mang Subur agar tetap terjaga kesadarannya dan memberikan makanan serta minuman. Sedangkan yang lain ada yang membuat minuman seduh, memberikan jaket, memasangkan kaos kaki agar Subur tidak kedinginan, membebat kaki, membuka jalur, dan membuat tandu. Akhirnya Subur dapat kami evakuasi pukul 02.00 siang.

 

Jungle Survival

Setelah berhasil menyelamatkan Subur, kami berjalan mengikuti pembimbing. Di dataran yang cukup landai dan agak luas kami berbaris. Firasat buruk saudara-saudara. Benar saja, perbekalan makanan kami disita, kami harus melalui tahap akhir dari mabim gunung hutan, yaitu jungle survival. Kami belum sempat makan siang sewaktu istirahat tadi. Baiklah, kami harus segera membuat bivak alam individu karena hari semakin gelap. Saya mulai menebang pohon pisang, batang pohon, dan daun pakis. Waktu itu saya membuat bivak alam berbentuk gawang. Saudara kami, menemukan udang di sungai. Kami akhirnya memasak udang, memang tidak banyak dan masih agak benyek. Tapi lapar tak tertahankan, jadi kami santap saja udangnya. Selain itu kami juga dapat jantung pisang, tapi tidak tahu cara masaknya sehingga masih berasa getah dan sangat tidak enak. Untung saja tempat bivak kami dekat dengan sungai, sehingga kami tidak kehausan.

Malam pun tiba, kami dikumpulkan untuk mendapatkan materi membuat full body harness dan bagaimana cara tidur kalong. Tidur kalong ini bermanfaat agar saat kita berada di gunung atau hutan yang masih banyak hewan liar, saat kami tidur, hewan tersebut tidak bisa menggapai badan kami. Kami diberikan waktu 30 menit, percaya lah 5 menit pun terasa satu jam. Badan pegal-pegal, kaki kram, kesemutan, naik pohon pun sulit karena pohonnya berlumut sehingga harus dibantu pembimbing. Akhirnya 30 menit berlalu. Selesai materi, kami semua tidur.

Selamat datang hari kelima. Selamat pagi, alhamdulilah ini hari terakhir kami di gunung hutan Rancaupas dan masih bisa menghirup udara pegunungan yang sejuk di pagi hari, meskipun dengan perut krucuk-krucuk. Kami bangun, membersihkan diri ke sungai, lalu mencari bahan makanan. Kali ini kami banyak mendapatkan gebok pisang dan udang. Selesai makan, kami mendapatkan materi cara mencari makanan di hutan, praktek sebentar. Setelah itu kami diinstruksikan untuk packing dan memakai baju besi serta atribut gunung hutan. Tiba-tiba ada suara memanggil kami, sebenarnya kami sudah tahu kalau akan diberikan makanan, tapi kura-kura dalam perahu biar terlihat mengejutkan. Akhirnya kami makan makanan yang telah dimasakkan oleh pembimbing yang baik hati, setelah kenyang, kami melakukan pergerakan sampai warung untuk menunggu angkot datang. Kurang lebih 3 jam perjalanan pulang, kami tiba di sekretariat SAR Unpad tercinta dengan selamat.

ina10 ina9

1 Comment

  1. Wow lah si kecil ini. Jago mainin gaya bahasa (majas)nya. Nilai A+ buat plotnya. Detail ceritanya juga tepat.. Salut. Salut..

    Kalo secara general tulisan ini menurut saya bagus na. Kronologis yang asik! Pas banget mainin plotnya. Tinggal dipoles dikit di tanda baca sama diksi ya. Mungkin kamu memang lebih prioritasin plot sih ya? Hehe

    Masih sama juga nih kaya karin. Dikasi judul dong gambarnya… Ditunggu tulisan versi tebing ya. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s