CATATAN PERJALANAN: LATIHAN MEDAN OPERASI GUNUNG HUTAN AM.SAR.XXIII.006 Karina Meninta

CATATAN PERJALANAN

MABIM GUNUNG HUTAN

AM SAR XXIII

15 – 20 Agustus 2013

Kawasan Bumi Perkemahan Rancaupas, Ciwidey, Jawa Barat

15 Agustus 2013

Berdasarkan hasil konsolidasi, pada malam hari ini diagendakan sebagai jadwal keberangkatan ke Medan Operasi Gunung Hutan dalam rangka kegiatan mabim kami para anggota muda. Berat sekali rasanya meninggalkan rumah dan keluarga untuk melakukan kegiatan di hari liburan yang masih suasana lebaran, tapi setelah kami semua berkumpul timbul rasa semangat untuk melakukan kegiatan ini bersama-sama. Pada sore hari, Saya, Ina, dan Dito berkumpul dulu di apartemen Ina sekaligus mengecek logistik yang harus dibawa selama berkegiatan. Selama bersiap-siap disana, timbul keraguan kami untuk berangkat mengikuti mabim atau tidak, kemudian kami sempat sepakat untuk tidak usah ikut namun tetap saja kami melanjutkan packing dan berangkat untuk berkumpul  di Sekre. Sesampainya kami bertiga di sekre, ternyata angkot yang disewa telah menunggu daritadi lalu kami semua yang akan berangkat memasukan carrier kami ke dalam angkot. Sebelum berangkat kami briefing dulu dengan para AB dan juga teman kami yang berhalangan untuk mengikuti kegiatan mabim ini. Sedih juga rasanya karena kami tidak dapat mengikuti mabim ini dengan anggota yang lengkap. Setelah berdoa, kami semua pun berangkat.

16 Agustus 2013

Kami sampai di tempat perkemahan sekitar jam satu pagi, suasana dingin sekali namun tidak menghalangi semangat kami untuk mendirikan tenda agar segera beristirahat, namun sebelumnya diadakan briefing untuk kegiatan pagi hari. Saat pagi, kegiatan diawali dengan binjas agar kami fit selama melakukan pergerakan. Setelah itu kami sarapan berkelompok, ternyata disekitar camp kami terdapat penjaja nasi bungkus kami sempat menyesal kenapa memasak tapi akhirnya kami membeli nasi tersebut untuk makan siang agar dapat menghemat waktu istirahat. Selesai makan, kami berganti pakaian mengenakan baju besi dan syal. Kemudian, kami berkelompok mulai melakukan plotting koordinat awal dan tujuan akhir pada peta untuk melakukan navigasi darat. Kami mendapat koordinat awal 764.375-210.340 dan titik finish 764.400-211.750. Ina bertugas sebagai tim leader. Setelah semua kelompok melakukan plotting dan packing, kami semua berjalan menuju ke daerah dalam gunung hutan tersebut. Kemudian, Kang Ardi dan Kang Bayu mereview kembali materi navigasi darat dan komunikasi lapangan. Kami juga dijelaskan mengenai fungsi dan penggunaan perangkat komlap yang dibawa saat itu seperti antena hi-gain, larsen, HT. Setelah itu, kami semua bekerja sama untuk memasang antena hi-gain. Lalu, kami tiap kelompok briefing kembali untuk menentukan pergerakan dari awal menuju titik akhir. Saya sekelompok dengan Ina dan Dito bernama tim tiga botol didampingi oleh Kang Bayu. Kelompok dua, beranggotakan Tika, Danang, dan Ega sementara kelompok satu beranggotakan Carmel, Hani, dan Iqbal. Kami memutuskan untuk melakukan pergerakan awal naik ke punggungan. Kami juga sering kesulitan untuk membayangkan kontur di peta dengan tempat sesungguhnya. Setiap satu jam sekali, kami bergantian melapor pergerakan yang telah dilakukan pada basekom. Kami melewati perkebunan dan sempat juga bertanya pada warga sekitar. Kami bertanya nama gunung yang berada di dekat kami untuk memastikan keberadaan dan kebenaran jalan yang kami pilih. Sekitar pukul setengah dua siang, kami beristirahat sejenak untuk makan cemilan sambil menunggu waktu untuk melapor ke basekom. Setelah laporan, kami melanjutkan perjalanan dan kembali menaiki punggungan. Salah satu alasan kami untuk menyusuri punggungan adalah agar mudah untuk orientasi medan. Kemudian, kami sampai ke titik akhir dengan koordinat 764.400-211.750, setelah orientasi medan pun ternyata keberadaan kami pun cocok dengan koordinat yang diberikan. Lalu, kami laporan pada basekom dan makan. Punggungan tempat tujuan akhir kami tempatnya tidak luas dan jalan sedikit pun langsung turun lagi ke lembahan.

 karin1 karin2 karin3

Setelah cukup lama kami beristirahat, kami pun melanjutkan pergerakan untuk kembali ke basecamp. Kami turun ke bawah dengan membuka jalan baru, turunannya cukup curam sehingga kami sering merosot ke bawah dan banyak tanah yang amblas. Kemudian kami kembali melewati kebun yang kami lewati juga saat perjalanan awal. Hari pun mulai gelap, kami sempat disorientasi dan bingung harus kemana. Dari pihak basekom juga terus menghubungi kami karena tinggal kelompok kami yang belum sampai, kami juga bingung menjelaskan keberadaan kami dimana karena kami merasa didaerah yang sudah dekat. Tak lama, akhirnya kami dapat kembali ke jalan yang benar ke arah basecamp. Sampai disitu, teman-teman kami sedang bersenda gurau dipinggir perapian. Lalu, kami semua masak makanan malam dan makan. Setelah itu diadakan evaluasi kegiatan baik dari kami sendiri tiap kelompok maupun AB yang mendampingi kami selama navdar. Kemudian dilanjutkan dengan briefing kegiatan besok yaitu ESAR, kami semua yang tadinya terbagi atas tiga kelompok dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu bernama tim PPS (Para Pencari Survivor/Para Pencari Subur) beranggotakan Carmel, Hani, Ega, dan Iqbal. Kelompok dua bernama tim KONTRIBUSYI beranggotakan Saya, Ina, Tika, Danang, dan Dito. Teman kami satu lagi yaitu Ghani berencana menyusul, jika Ghani datang maka ia akan bergabung di tim PPS. Keterangan yang didapat yaitu, survivor bernama Subur Alexander. Setelah dibacakan kronologi yang baru didapat mengenai hilangnya dan ciri-ciri survivor, kami semua masing-masing memberikan pendapat mengenai kemungkinan posisi survivor berada dalam koordinat yang mana. Setelah itu kami semua beristirahat di dalam tenda flysheet yang telah kami buat.

17 Agustus 2013

Pagi hari, kami sempat melakukan pemanasan. Setelah itu sarapan, ganti pakaian, dan packing. Kemudian briefing lagi mengenai keterangan yang baru ditemukan mengenai survivor. Kami merencanakan MPP dan memutuskan arah pergerakan. Sebelum berangkat, kami foto baik masing-masing tim maupun bergabung. Setelah itu, kami memulai perjalanan. Kami memulai perjalanan menuju arah luar, namun tidak melewati gerbang karena takut diminta uang masuk. Di tim Kontribusyi, Danang sebagai tim leader, Tika notulensi, Ina pemasang marker, Saya dan Dito sebagai compass man. Saat berjalan keluar, banyak orang melihat kami dengan muka bingung karena ada apa siang bolong jalan bersama-sama pakaian seragam, memakai peralatan navigasi, dan carrier. Kami tergiur melihat berbagai jajanan yang terdapat di pinggir kolam, akhirnya Danang dan Dito yang membeli batagor. Kami menggunakan tipe pencarian hestic karena kami belum menemukan satupun barang/jejak peninggalan survivor. Kami naik ke punggungan, sempat juga menanyakan ke warga sekitar mengenai nama gunung yang berada di sekeliling kita. Pada pukul 12.01 kami menemukan sumber air, kami langsung orientasi medan untuk menentukan koordinat peta. Tak lama kemudian, kami melihat 3 ekor monyet loncat-loncat antar pohon yang sangat tinggi. Setelah itu kami melihat sebuah bukit yang mirip Bukit Telletubies. Sekitar jam setengah satu, kami beristirahat di sebuah lembahan. Kami beristirahat cukup lama, hampir dua jam. Kemudian kami laporan keberadaan kami di koordinat 763.250-211.700.

karin4 karin9 karin8 karin7 karin6 karin5

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan naik ke punggungan. Baru sekitar setengah jam perjalanan, turunlah hujan deras dan kami  masih melanjutkan perjalanan karena jalannya juga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat beristirahat. Setelah itu, kami menemukan tempat yang agak landai. Kami langsung berbagi tugas, ada yang memasang shelter dan membuat api. Hujan juga masih turun deras, sementara kami belum sampai ditujuan. Kami pun memutuskan untuk bermalam disitu, apalagi ada instruksi pergerakan diberhentikan pukul 16.00 dan kami khawatir tidak menemukan tempat yang landai lagi untuk beristirahat jika terus melanjutkan perjalanan. Sinyal di daerah yang kami tempati agak susah sehingga harus berjalan agak turun ke arah lembahan untuk mendapatkan sinyal. Kami juga langsung masak makan malam, membuat perapian, dan air hangat. Kami semua menghangatkan diri di perapian. Pada pukul 20.00, tim leader kami Danang standby untuk laporan ke basekom. Saat laporan, kami bergantian untuk melapor baik pergerakan, keadaan, dan kondisi saat itu. Namun, kami dihukum untuk push up dua seri karena tidak dapat mencapai target tujuan. Suara kami juga harus kencang agar terdengar di HT, Danang push up dengan direkam dan dekat dengan api. Setelah laporan, kami semua pun kembali beristirahat.

18 Agustus 2013

Pada pagi hari, setelah kami semua bangun kami langsung packing dan masak karena diinstruksikan untuk mempercepat pergerakan agar target yan diintruksikan pada hari pertama dapat tercapai dan survivor dapat ditemukan. Dito ternyata merasa badannya kurang sehat dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Danang pun laporan kepada basekom, dan tidak lama datang Kang Aseng dan Kang Yanwar untuk menjemput Dito. Setelah sarapan, kami  melanjutkan perjalanan sekitar pukul 09.00 didampingi Kang Aseng. Jalan yang kami pilih agak mengarah turun namun berdasar peta dengan jalan tersebut kami akan menemukan punggungan yang mengarah pada Puncak Cadaspanjang. Kang Aseng merasa jalan yang kami pilih terlalu lama dan lebih jauh, sehingga ia menginstruksikan untuk kembali ke jalan awal mulai dari camp dan memilih jalan yang lebih cepat langsung mengarah ke punggungan. Tidak lama, kami bertemu dengan Ghani yang ternyata jadi menyusul dan bergabung pada tim kami. Sekitar pukul 10.15 kami menemukan bekas perapian dan bungkus segel aqua dengan koordinat 762.690-211.300. Lalu, kami melanjutkan perjalanan pada pukul 10.50 kami sampai di Puncak Cadaspanjang. Disitu kami menemukan bekas perapian. Setelah itu, kami kembali melakukan orientasi medan untuk meyakinkan tempat kami adalah tempat yang benar dan juga menentukan pergerakan selanjutnya. Dari situ kami dapat melihat Puncakan 2020, dan Bukit Ounine. Pada pukul 11.44 kami kembali melakukan pergerakan ke arah Gn. Kolotok dengan arah sudut 30 derajat dengan guide jalan setapak. Kami terus melakukan pergerakan, lama kelamaan pergerakan kami mengarah ke lembahan. Disitu kami menemukan bivak alam yang lumayan besar dan terlihat seperti belum lama dibuat . Kami sempat meneruskan perjalanan dan menemukan jejak kaki yang lumayan besar, setelah berjalan namun terasa janggal karena terus menyusuri lembahan. Kami memutuskan untuk kembali ke tempat tadi kami menemukan bivak alam. Kami sempat beristirahat untuk minum dan menentukan pergerakan selanjutnya lagipula diluar sudah turun hujan. Kang Aseng dan Kang Aziz Amin pun datang, mereka memberitahu kami bahwa ada informasi bahwa ada warga yang mendengar suara survivor dari daerah punggungan. Pada pukul 13.58, kami memutuskan melanjutkan pergerakan dengan sudut 50 derajat dengan titik koordinat 763.312-211.888. Kami kembali naik ke punggungan, baru jalan sedikit kami menemukan bungkus mie instan yang termasuk juga dengan petunjuk yang dibawa survivor. Kami melakukan pergerakan dengan tipe close grid, karena kami telah menemukan barang yang berhubungan dengan survivor. Medan yang kami lalui cukup curam dan licin. Saat harus naik ke atas, kami saling membantu untuk menarik agar kami semua dapat naik ke atas. Ternyata tempat yang Saya, Danang, dan Ghani hadapi lebih curam dibanding Tika dan Ina apalagi mereka berdua masih menggunakan rain coat sementara kami bertiga tidak, jadi pakaian dan carrier kami bertiga sangatlah kotor. Kami terus melanjutkan perjalanan, dan tanpa disadari ternyata daritadi ada Kang Aziz Amin yang kami tidak sadar datang darimana dan masih bersih sementara kami telah kotor-kotoran. Setelah lama berjalan dan sepertinya kami berjalan terus arah kebawah, Kang Aziz memberitau kami jalan agar sampai lebih cepat. Kami terus berjalan dan sekitar jam setengah lima sore saat sampai disebuah puncakan yang landai kami menemukan bekas perapian, peta, dan tulisan “SUBUR” kami pun diinstruksikan untuk beristirahat disitu. Kami pun diberitau bahwa tim PPS akan menuju posisi kami, terdengar suara tim PPS yang berteriak untuk memberitaukan keberadaan mereka. Kemudian tim PPS pun berhasil sampai di tempat yang sama dengan kami. Kami semua diinstruksikan untuk makan malam, membuat perapian, dan beristirahat. Saat malam pun laporan tiap kelompok dan masing-masing anggotanya juga memberikan laporan. Pihak basekom juga menanyakan pada kami semua untuk rencana pergerakan selanjutnya dan basekom menentukan untuk pencarian besok hari tim PPS dan Kontribusyi digabung dengan tim leader Ghani. Kami semua bersorak kencang sekali. Setelah itu kami semua tidur, namun tiba-tiba terdengar suara Tika mengigau mengatakan hal yang ia tidak sadari dan terdengar suara tim PPS yang tertawa kencang sekali saat mendengar Tika mengigau padahal camp kami dengan tim PPS terpisah.

19 Agustus 2013

Pada pagi hari, setelah semua bangun kami langsung berbagi tugas ada yang membereskan flysheet ada juga yang memasak dan memasang marker. Sekitar jam delapan basekom menghubungi kami untuk memulai pergerakan dengan sudut 165 derajat. Namun, kami semua tidak langsung bergerak karena menunggu rekan kami yaitu Danang dan Carmel yang sedang buang air. Ghani sang Tim Leader membagi kami tugas, Iqbal dan Danang memasang ribbon, Carmel memasang marker, Hani notulensi, sisanya menjadi compass man. Kami pun melakukan pergerakan dengan tipe close grid. Baru sebentar kami berjalan, basekom menghubungi menanyakan posisi kami dan untuk tetap disitu apalagi terdengar suara-suara tembakan, kemungkinan sedang ada tentara/polisi yang sedang berlatih. Kami juga takut jika tetap melanjutkan perjalanan malah kami yang tertembak. Sekitar lima belas menit kemudian, basekom menghubungi untuk mengganti sudut pergerakan menjadi 205 derajat namun masih diinstruksikan untuk belum memulai pergerakan. Sambil menunggu, kami semua mengobrol-ngobrol dari yang jelas sampai gak jelas sampai membicarakan rencana liburan ke pantai juga. Sekitar jam sebelas siang, basekom kembali menghubungi dan menginstruksikan memulai pergerakan namun tetap di sudut 165 derajat. Perjalanan pun kembali dilanjutkan, menebas pohon yang menghalangi pergerakan sambil meneriaki nama survivor “Subur Alexander”. Medan yang dilalui jg cukup curam, kami sempat berjalan menurun lalu naik lagi ke sebuah punggungan. Pada pukul 12.00, kami istirahat sekaligus orientasi medan. Persediaan air yang menipis membuat kami harus berhemat-hemat dan kami juga hanya diperbolehkan istirahat sebentar jadi tidak mungkin untuk memasak terlebih dahulu. Kami pun packing kembali untuk melanjutkan pergerakan, saat diteriakkan nama survivor terdengar suara orang menjawab dengan kata ‘tolong…tolong’ kami semua langsung berjalan sambil meneriakkan nama survivor karena suaranya tidak jauh dari tempat kami beristirahat. Pada pukul 12.50 survivor “Subur Alexander” ditemukan dalam keadaan telentang didekat pohon, lutut kaki kanannya cedera. Kami memastikan bahwa survivor tersebut sesuai dengan survivor yang kami cari. Saya dan Tika langsung membuat tandu. Carmel dan Hani membuat bidai pada kaki survivor. Ina memasak dan mengajak survivor untuk terus berbicara agar tetap dalam kondisi sadar. Sementara yang laki-laki membuka dan mencari jalur untuk evakuasi. Pada pukul 14.00 evakuasi dilakukan, para laki-laki mengangkat tandu. Latihan Operasi “Subur Alexander” pun ditutup. Kang Aseng yang berperan sebagai survivor pun turun dari tandu.

Setelah materi ESAR selesai, kami mengira akan langsung pulang ternyata kami masih ada materi Jungle Survival. Rasanya seperti tarik ulur, sempat senang karena ESAR selesai dan ingin segera kembali ke jatinangor untuk mandi namun ternyata masih ada materi survival. Kami disuruh mengeluarkan barang dalam carrier, ya barang seperti matras, alat masak, dan perbekalan dikumpulkan. Beberapa diantara kami mencoba curi-curi untuk menyimpan makanan namun tetap saja ketauan, kecuali seseorang yang beruntung tidak ketahuan menyimpan jasjus rasa strawberry. Setelah itu, kami membuat bivak alam individu. Kami masing-masing mulai mencari daun-daun, kayu, daun pakis untuk membuat bivak dan juga kayu untuk perapian. Saya membuat bivak alam berbentuk gawang yang menurut saya pas sekali untuk saya sendiri, bivak saya bersebelahan langsung dengan bivak Ina dan Ghani. Saat malam, kami yang perempuan masak bersama sementara yang laki-laki berusaha membuat perapian. Kami memasak jantung pisang, udang kecil-kecil, dan ada beberapa pakis. Masakan kami, ya bisa dibilang sangat sangat pas-pasan untuk bersembilan namun daripada kami tidak makan sama sekali jadi ya syukurin aja. Setelah makan, para kolat mengunjungi dan mengecek kondisi bivak alam kami. Lalu, kami semua termasuk para kolat menuju tempat yang agak lapang dalam keadaan memakai baju tidur dan membawa webbing. Dan ternyata dugaan kami benar, kami akan diajarkan untuk tidur kalong. Kami diajarkan Kang Kiddy membuat full-body harness dari webbing, kemudian diperagakan cara tidur kalong. Setelah itu, kami masing-masing mencari pohon untuk mempraktekan tidur kalong tersebut. Peraturannya, saat sampai diatas harus tidur dan setiap setengah jam dibangunkan. Jika ketauan tidak tidur maka akan diberi hukuman. Saya memilih pohon yang diameternya tidak terlalu besar, namun saya sadari ternyata dibawahnya terdapat daun tereptet semua jadi ya perih -.- dan batang pohonnya berlumut. Saya mencoba naik ke atas, namun naiknya tidak terlalu jauh dan beberapa kali juga jatuh lagi ke bawah baru akhirnya dibantu kolat untuk naik lebih tinggi lagi. Lalu saat dinyatakan ketinggiannya sudah cukup, saya berusaha tidur. Namun akhirnya hanya menutup mata saja tidak bisa tidur pulas, lagipula masih ada beberapa teman saya yang belum bisa naik ke atas. Setelah beberapa lama diatas, pinggang mulai berasa pegal dan kaki keram. Lama kelamaan kaki hingga lutut mulai mati rasa selama tidur kalong. Tidur kalong ini bagi saya pribadi adalah ilmu baru yang menarik meskipun jangan sampai harus melakukan dan mengalami hal ini dalam keadaan nyata tapi tidak ada salahnya untuk menambah wawasan dan skill. Setelah diperbolehkan untuk turun, saya pun turun masih dalam keadaan kaki lutut mati rasa. Sampai dibawah pun tidak terlalu terasa kalau kaki saya menginjak tereptet, kemudian saya langsung duduk meluruskan kaki dan rileks karena pegal-pegal. Setelah semuanya turun, kami diperbolehkan untuk beristirahat. Kami kembali ke camp langsung beristirahat, namun ada beberapa yang tetap berusaha membuat perapian. Kami juga sempat bercanda jika besok ternyata belum pulang juga kami akan kabur hahaha ya memang suka timbul ide aneh-aneh tapi tetap saja kami setia disitu untuk menerima materi😀

20 Agustus 2012

Sekitar jam 5 pagi, saya tiba-tiba terbangun karena mendengar suara Ina tertawa, ternyata Ina hanya mengigau tapi ketawanya kencang sekali apalagi bivak kami bersebelahan makanya saya langsung bangun ketika mendengarnya lalu tidur lagi. Saya merasa hangat dan nyenyak sekali tidur di dalam bivak alam saya, meskipun hanya berselimut sarung bag. Setelah semua bangun, kami yang perempuan langsung mencari bahan makanan, awalnya kami berburu udang kecil-kecil di sekitar mata air dekat camp setelah dapat agak banyak kami melanjutkan mencari bahan makanan lain seperti pakis, jantung pisang, dan gedebong pisang. Beberapa ada yang membuat perapian, Ghani dan Kang Aseng berburu udang kecil-kecil dan dapat banyak sekali. Kami memasak semua yang kami dapat, dan menurut saya makanan yang kami masak enak dibanding yang kemarin dan juga lebih mengenyangkan. Setelah semua makan, lanjut materi yang diberikan oleh Kang Bayu. Materi yang diajarkan merupakan komponen penting dalam survival, yaitu Makanan, Air, Api, Shelter, dan juga cara  membuat Trap. Saat materi makanan, kami masing-masing diberi waktu 10 menit berpencar mencari tumbuhan yang bisa dimakan. Esensi dari kegiatan tersebut bukanlah makanan yang didapat, tapi merasakan menjadi survivor yang bergerak sendirian mencari makanan. Melakukan pergerakan sendirian  di tempat yang bukan zona nyaman kita menimbulkan rasa takut, khawatir, waswas dan bingung. Setelah semua materi tersampaikan, kami kembali packing dan mengenakan baju besi dan syal. Tidak lama, terdengar suara peluit dan teriakan “DANRU CEPAT DANRU” yang membuat kami tertawa-tawa teringat saat diklat. Mungkin karena kami terlalu lama bersiap-siap sehingga para AB yang mendatangi camp kami. Kami semua beserta para AB pun meninggalkan camp kami dan menuju camp para AB. Saat sampai disana, ternyata sudah ada makanan yang disiapkan untuk kami. Kami semua makan dengan lahap dan kalap, ya maklum saja namanya juga habis survival. Setelah kami semua packing lagi barang-barang yang diambil sebelum survival, kami semua termasuk para AB jalan menuju keluar daerah gunhut. Perjalanannya juga lumayan lama. Sampai diluar, kami langsung menuju kamar mandi. Ternyata angkot yang sudah dijanjikan untuk mengantar kami kembali ke Jatinangor belum dihubungi untuk menjemput karena tidak ada sinyal. Akhirnya, angkot tersebut baru di telfon jadi kami menunggu agak lama. Dari yang awalnya kami semua bercerita-cerita bersama sambil menunggu, sampai akhirnya sepi lagi karena sebagian pergi ke kantin untuk makan, lalu ramai lagi, barulah angkot yang ditunggu datang. Sebelumnya kami sempat berfoto-foto dari berbagai sudut hingga berbagai gaya dengan membawa bendera merah putih. Setelah itu, kami semua langsung memasukkan carrier ke dalam angkot dan naik ke dalam, sebagian pulang naik motor. Selama perjalanan kami semua tertidur, namun tiba-tiba Danang membangunkan untuk menyuruh kita melepas syal karena pada hari itu Persib akan bertanding di kandang sendiri. Jalanan terlihat ramai sekali dan padat, banyak juga orang-orang di jalan bingung melihat kami di dalam angkot ya mungkin mereka bingung mengapa kita pakai baju sama semua dan angkot dipenuhi tas. Sempat juga Saya dengar ada sekelompok anak kecil yang berteriak “woy sahur woy bangun” karena pada saat itu terlihat kami semua di dalam sedang tertidur. Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Jatinangor. Lapangan kopma ramai sekali karena ada briefing para panitia untuk student day besok. Tidak lama kami beres-beres, kami semua langsung pulang karena besok harus datang pagi untuk meramaikan Student Day di Gor Jati.

Karina Meninta

AM 006

1 Comment

  1. Ceritanya bagus rin. Tapi sayang sekali bumbu humornya kurang. Kalo yang saya baca kan banyak tuh yang bisa jadi anekdot. Contohnya pas danang push-up sambil direkam. Kenapa bisa sampai begitu? Gimana instruksi dari basekom sebenarnya.

    Trus masih ada beberapa hal yang gantung nih menurut saya:
    1. Waktu kalian di apartemennya Ina kan keputusannya kalian nggak jadi ikut. Trus kok jadi berangkat ke sekre dan tiba2 masukin barang ke angkot? Kenapa ya? Hehe
    2. Ghani kan harusnya masuk tim PPS, kenapa tiba2 dia jadi masuk tim kalian?
    Jujur saya sebagai pembaca merasa penasaran di bagian tersebut. Mungkin karin takut ceritanya jadi tambah panjang ya. Tapi at least seharusnya ada jawaban buat hal2 tersebut. Ga perlu panjang, tapi jelas. Haha

    Trus foto yang dipost kan pendulung ceritanya ya. Dikasih judulnya dong biar sedikit terdeskripsikan apa yang mau kamu kasih lihat ke pembaca dari foto tersebut.

    Oiya, latar belakang penentuan nama tim kalian juga bisa jadi bahan cerita yang menarik tuh. Kenapa PPS? Kenapa KONTRIBUSYI?

    Oke sekian dulu komentar saya. Ga bermaksud menyinggung loh. Tulisannya bagus kok. Ditunggu yang versi tebingnya ya. Ga perlu nunggu disuruh. Just write it, publish it. Selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s