CATATAN PERJALANAN: LATIHAN MEDAN OPERASI GUNUNG HUTAN AM.SAR.XXIII.002 Carmelita Astrini

15 Agustus 2013

Pada hari ini, AM XXIII Unit SAR Unpad bersiap untuk melakukan kegiatan AMO gunung hutan di Bumi Perkemahan Rancaupas, Ciwidey, Bandung. AM XXIII yang berangkat untuk mengikuti kegiatan AMO ini berjumlah sembilan orang yaitu saya, Hani, Iqbal, Ega, Ina, Karin, Tika, Dito, dan Danang. Kami pergi menuju Bumi Perkemahan Rancaupas pada malam hari, sebagian menggunakan angkot yang kami sewa dan sisanya menggunakan kendaraan pribadi yaitu motor. Perjalanan menuju Rancaupas bisa dibilang cukup lama. Jadi perjalanan tersebut kebanyakan kami lalui dengan tidur, bagi yang menggunakan angkot saja tentunya.

Ketika kami sampai di lokasi, udaranya sangat dingin! Kami pun segera menurunkan carrier dan barang-barang bawaan lainnya supaya bisa cepat ke warung untuk ngopi-ngopi demi menghangatkan diri sambil menunggu teman-teman kami yang mengendarai motor.

Setelah semua sampai, kami segera mendirikan tenda di tempat perkemahan tersebut dan bergegas tidur.

 

16 Agustus 2013

Para AM XXIII dan kolat yaitu Kang Aziz dan Kang Aseng memulai kegiatan pada pukul 06.00 dengan sedikit binjas yaitu senam survival. Senam survival lumayan melemaskan lengan saya yang sudah lama tidak menggendong beratnya carrier.

Kegiatan hari pertama ini diisi dengan latihan navdar. Saya berada di tim 1 dengan anggota Iqbal, Hani, dan tentunya saya sendiri. Entah kenapa saya merasa sangat sial karena ditunjuk sebagai team leader navdar kelompok 1. Navdar yang harusnya berarti navigasi darat sudah saya bayangkan malah menjadi navigasi modar!

Sebelum melakukan kegiatan navdar, kami membuat basecomm dan sedikit belajar mengenai komunikasi lapangan. Kami juga memasang antena hi-gain agar ht yang kami gunakan bisa lebih luas jangkauannya.

Setelah itu kami mengeplot koordinat awal dan koordinat akhir tujuan kelompok 1. Ternyata koordinat awal yang diberikan oleh para kolat berada di tempat camp kami tadi malam, bukan di basecomm yang didirikan. Sementara itu, koordinat titik tujuan kelompok 1 adalah Gunung Cadaspanjang. Kami memulai perjalanan navdar ini dari tempat camp kami tadi malam. Jalan yang kami pilih tidak banyak memotong sudut kompas, melainkan mengambil jalan setapak panjang, tetapi tidak terjal. Inilah hal yang menjadi penyesalan saya.

Kenapa?

Karena pada akhirnya kelompok kami salah puncakan! It was okay sebenarnya, yang penting kami belajar. Kami malah menuju puncakan 2020 yang merupakan tujuan kelompok 2. Hal ini terjadi karena kami salah belokan jalan menuju punggungan. Sebenarnya kelompok kami sudah mengetahui bahwa kami harusnya belok menuju punggungan yang di depannya dari belokan yang kami ambil. Tetapi kami baru menyadarinya ketika Kang Ardi, kolat pendamping kelompok 1, sedikit memberi pencerahan mengenai dimana kami berada. Akhirnya kami memutuskan tetap menyusuri punggungan yang salah tersebut untuk sampai ke puncakan 2020 karena waktu juga tidak memungkinkan untuk berputar balik dan menuju ke Gunung Cadaspanjang. Yah at least walaupun salah, kami bisa sampai di puncakan dan melihat keindahan alam sekitar dari puncakan. Sedikit menghibur diri, ya?

Pelajaran yang saya ambil dari latihan navdar hari ini adalah: Namanya juga belajar navigasi, maka jangan hanya mengikuti jalur aman / jalan setapak! Beranilah untuk memotong sudut kompas. Inilah hal yang saya katakan menjadi penyesalan diatas.

 

17 Agustus 2013

Setelah selesai dengan latihan navdar, pada hari ke-2 ini kami melakukan kegiatan ESAR. Tim saya bernama tim PPS (Para Pencari Survivor / Pulang Pasti Selamat)  yang beranggotakan Iqbal sebagai team leader, Ega dan Hani sebagai navigator, dan saya sendiri sebagai notulen. Survivor yang akan kami cari bernama Subur Alexander.

Beberapa informasi yang diberikan mengenai Subur adalah:

–          Subur adalah seorang anggota PA Rempakem di Bandung;

–          Subur hilang saat sedang melakukan latihan navdar seorang diri. Tujuan navdarnya adalah Gunung Cadaspanjang dan Gunung Kolotok;

–          Tinggi Subur sekitar 170an cm, dengan berat badan 60an kg;

–          Kulit Subur berwarna sawo matang;

–          Barang yang dibawa Subur: 1 buah daypack, 3─4 bungkus mie instan, 1 bungkus rokok Dunhill Mild, air mineral 1.5 L, 1 buah headlamp, dan 1 buah peta.

Setelah melakukan pembagian tugas dengan kelompok lain, tim PPS pun mendapat tugas untuk menyisir Gunung Kolotok. Tim PPS pun langsung memulai latihan operasi pencarian Subur Alexander pada pukul 10.28 dengan memasang marker di tempat start. Tipe pencarian kami masih menggunakan tipe 1. And the jorney finally began!

Tim PPS mulai menyebrangi punggungan lalu melewati rawa. Baru 11 menit kami berjalan, kami menemukan sumber air dekat persawahan. Setelah diteliti, ternyata itu merupakan jalur irigasi persawahan. Lalu kami menentukan posisi kami / irigasi tersebut dengan menembak Gunung Tikukur di sebelah timur dan didapatkanlah posisi kami di 764000.21180. Lalu kami berusaha memanggil basecomm untuk melaporkan titik koordinat kami berada, tetapi tidak ada jawaban. Mungkin karena posisi kami yang terhalang punggungan. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan kami menyusuri persawahan.

Pada pukul 11.36, tim kami kembali menemukan sumber air. Kali ini benar-benar merupakan sumber air asli. Kami juga menemukan sumber perapian di dekat sumber air. Karena dirasa bisa jadi itu adalah jejak survivor, kami pun memasang marker kedua. Kami berusaha menentukan koordinat kami, tetapi tidak bisa karena titik ekstrem tidak ada yang terlihat karena terhalang vegetasi yang tinggi-tinggi. Kami pun beristirahat sejenak sambil minum-minum dan menentukan jalan selanjutnya kemanakah kami pergi?

Pukul 12.00, tim PPS melanjutkan perjalanan. 7 menit kemudian, kami kembali menemukan sesuatu yang dikira jejak survivor yaitu sebuah bivak alam beratapkan plastik, lalu kami memasang marker ketiga kami di bivak tersebut.

Lalu pukul 12.29 kami melapor ke basecomm koordinat posisi kami saat itu yang sedang berada di lembahan yaitu di 764150.211740. Setelah melanjutkan perjalanan, kami kembali menemukan sesuatu yaitu: bekas perapian, sebuat tutup botol air mineral dengan merk VIT, dan 1 buah baterai AA bekas dengan merk Eveready. Kami mengira bahwa baterai tersebut merupakan baterai bekas headlamp survivor. Akhirnya kami kembali memasang marker keempat di bekas perapian tersebut. Kami juga membawa tutup botol dan baterai yang kami temukan.

Setelah kembali melanjutkan perjalanan, kami menemukan sumber air lagi dan akhirnya kami memutuskan untuk istirahat makan siang di dekat sumber air tersebut pada pukul 13.00.

Setelah 1 jam beristirahat, tim pun melanjutkan perjalanan pada pukul 14.10. Kami berjalan menuju punggungan. Pukul 14.34 kami melaporkan posisi kami berada di koordinat 763950.212000.  Setelah itu, perjalanan kami pun mulai seru karena tiba-tiba turun hujan. Kami menyusuri jalan setapak untuk mencapai puncakan, tetapi tiba-tiba kami mulai kebingungan karena dirasa puncak yang ingin kami capai yaitu Gunung Kolotok terlewat karena kami asyik mengikuti jalan setapak dikarenakan hujan juga. Akhirnya kami beberapa kali bolak-balik jalan, sampai akhirnya diputuskan kami tidak mengikuti jalan setapak lagi dan memotong sudut kompas. Jalan yang kami lewati mulai curam dan kami harus menebas-nebas jalan di tengah hujan. Di pikiran kami saat itu adalah “Yang penting kita sampe di puncak dulu, ngeri nih ujan longsor!!”. Akhirnya pukul 17.50 kami sampai di puncak dan segera melakukan orientasi medan untuk melapor ke basecomm.

Tetapi ternyata puncakan yang kami capai hari itu sepertinya salah…

Bagus…

2 puncakan salah dalam 2 hari berturut-turut…

Hmm…

Tapi kami sebenarnya belum yakin kalau kami salah puncakan. Ega yakin kami salah puncakan, tetapi ketua kami Iqbal masih yakin kalau kami berada di puncakan yang benar. Sedikit memberi harapan sih.

Kami pun mendirikan camp di puncakan antah-berantah tersebut karena hari sudah mulai gelap juga. Ketika melepas raincoat, saya baru menyadari bahwa saya diserang pacet-pacet! Ini pertama kalinya dalam hidup saya melihat pacet dan malah ditempelin pacetnya juga. Sedikit excited melihat pacet di awal, tetapi lama-lama nempel terus bikin sebal juga.

 

18 Agustus 2013

Tim kami bangun pagi sekali yaitu pukul 06.15 untuk orientasi medan kembali karena kami masih belum yakin, kami sedang berada di puncakan mana sih? Setelah melakukan orientasi medan cukup lama, ternyata kami memang salah puncakan. Akhirnya tim kami malah direscue oleh Kang Bayu dan Kang Aziz.

Pukul 10.07 kami pun memulai pergerakan ESAR dari puncakan salah tersebut dengan tipe 3 yaitu close grid, sudut pergerakan 205˚. Kami memasang marker end untuk tipe pencarian 1 dan marker start untuk tipe pencarian 3.

Pukul 10.17, sudut pergerakan kami diganti menjadi 220˚, lalu kami memasang marker perubahan sudut pergerakan.

Jalan yang kami lalui benar-benar menantang! Rasanya yang kami injak bukanlah tanah melainkan hanya batang-batang pohon. Kami jatuh-bangun-terperosok-terpeleset-jungkirbalik menuju ke lembahan yang terjal. Sampai akhirnya tiba-tiba Hani berteriak kencang seperti naik perosotan. Ternyata dia terperosok jauh sekali sampai ke lembahan. Akhirnya kami ikutan perosotan juga sampai ke lembahan.

Lembahannya benar-benar kanan-kiri gak oke alias kanan-kiri terjal. Menurut sudut kompas, kami harusnya masih menyusuri mata air di lembahan, tetapi tiba-tiba hujan turun lagi dan agak deras. Lalu muncul kembali pikiran “Yang penting kita sampe di puncak dulu, ngeri nih ujan longsor!!”. Kami pun naik menuju punggungan di depan kami. Tipe pencarian diganti dengan tipe 1. Perjalanan benar-benar menegangkan karena sangat terjal dan licin. Kami sampai harus menggunakan webbing untuk naik. Tiba-tiba saya jadi ingat masa-masa ESAR saat diklat dulu seperti ini juga. Lalu sang team leader kami berkata, “Ini ESAR gak malah nimbulin korban ya? Hahaha”. Lucu juga.

Pukul 14.45 akhirnya kami menemukan titik terang. Rupanya kami sudah mau sampai di puncakan. Kami pun istirahat makan di tempat yang memang datar dan lapang. Posisi kami saat itu adalah di 763423.212073.

Lalu datanglah Kang Aseng dan Kang Aziz Amin, memberitahu bahwa kami akan bergabung dengan tim yang 1 lagi yaitu tim Kontribusyi yang beranggotakan Danang, Dito, Tika, Karin dan Ina. Pukul 17.00 kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncakan untuk merapat ke tim Kontribusyi.

Pukul 17.20 kami menemukan bivak alam dan kami pasang marker. Lalu 5 menit perjalanan kemudian, kami menemukan bungkus mie instant yang dikira merupakan bungkus mie bekas si survivor. Kami pun kembali memasang marker.

Tidak berapa lama kemudian, kami  akhirnya bertemu dengan tim Kontribusyi. Ternyata Dito direscue pulang karena demam dan Gani datang bersama tim Kontribusyi. Kami pun mendirikan camp, makan malam, dan beristirahat.

 

19 Agustus 2013

Pukul 08.35, tim PPS dan Kontribusyi memulai pergerakan tipe 3 dengan sudut pergerakan 165˚. Pergerakan kami hari ini diketuai oleh Gani. Lalu kami berhenti di koordinat 763350.211940 dan diinstruksikan oleh basecomm untuk berhenti jangan melanjutkan perjalanan dahulu. Cukup lama kami berhenti. Sepertinya survivor masih sarapan dan belum menuju ke TKP dia harusnya ditemukan.

Pukul 09.43, basecomm memanggil untuk menginstruksikan kami mengganti sudut pergerakan menjadi 205˚. Lalu tiba-tiba kami kembali diinstruksikan untuk jangan melanjutkan perjalanan dahulu. Sepertinya para kolat sedang galau.

Pukul 10.53, akhirnya kami diinstruksikan untuk jalan dengan sudut pergerakan kembali ke 165˚. Tuhkan, kolat sedang galau.

Pukul 12.00, tim menemukan tempat istirahat dan makan siang. Sayangnya persediaan air kami sangat minim, sehingga kami tidak mungkin memasak. Jadi kami hanya makan roti.

Selesai istirahat, pukul 12.46 tiba-tiba kami mendengar suara orang berteriak “Toloooong!”. Kami langsung menuruni punggungan dan berganti ke tipe pencarian 1 karena kami yakin itu adalah suara survivor!

Ternyata benar, pukul 12.50 kami menemukan Subur Alexander. Kami langsung membagi tugas. Ada yang mengajak Subur mengobrol, masak air untuk Subur, dan membuat tandu untuk Subur. Saya sendiri dan Hani memasak air untuk Subur, lalu setelah itu kami mengajak Subur mengobrol dan juga membuatkan bidai pada kaki kirinya karena Subur mengalami patah kaki kiri.

Pukul 14.00 akhirnya Subur dievakuasi.

Dan akhirnya AMO gunhut kami ini berakhir.

Kami dengan semangat berjalan pulang, tetapi tiba-tiba kami disuruh Kang Bayu dan Kang Aseng untuk berhenti di dekat sungai.

Ternyata…………AMO gunhut belum selesai!

Kami harus melewati jungle survival. Para kolat menyita makanan, matras, dan beberapa peralatan kami. Lalu kami disuruh untuk membuat bivak alam dan perapian individu.

Ketika makanan-makanan kami disita, saya mengambil 1 sachet minuman jasjus dari persediaan makanan saya. Lalu Tika menyuruh saya untuk mengambil lagi. Dengan sangat nurutnya saya ambil lagi jasjus yang banyak. Akhirnya saat survival malamnya, kami segar-segaran dengan jasjus. Lalu Kang Bayu dengan insting yang sangat tingginya mengecek carrier Tika dan menemukan jasjus disana. Duh malu deh. Untung kami sudah minum 2 sachet jasjusnya, tidak sia-sia juga😦

Jungle survival nya asyik karena akhirnya saya tau bagaimana cara menangkap udang sungai dan juga mencoba tidur kalong pada malam harinya. Walaupun hanya selama 15 menit.

 

20 Agustus 2013

Hari terakhir ini hanya diisi materi-materi mengenai jungle survival dan selebihnya yang saya ingat hanyalah kembali pulang ke Jatinangor.

 

….Akhirnya AMO gunhut benar-benar selesai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s